Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kedatangan Syifa


__ADS_3

"Jika yang pergi adalah anak mu apakah kamu akan mengatakan hal yang sama?" tanya Tommy sinis kepada Caca. Ia tidak habis pikir dengan anak dan menantu nya mengapa masih saja menerima Caca di keluarga mereka.


Mereka tau jika Caca adalah anak dari Elsa wanita yang sangat jahat dan juga licik


Caca terdiam, ia mengatakan mungkin jika ia ada di posisi Shinta ia akan menjadi wanita yang kehilangan akal.


Papa benar, jika aku berada di posisi Shinta mungkin aku tidak akan sekuat itu.


Caca mengatakan hal itu dengan wajah yang sedih. Dia hanya ingin menghibur orang yang ada di rumah. Tommy mengatakan bagaimana bisa Caca menasehati mereka jika Caca saja tidak bisa mengendalikan diri nya saat ada masalah.


Caca terdiam, mama Lily meminta maaf atas perkataan suami nya yang sudah menyinggung hati Caca.


"Nak, maaf kan ucapan papa mu. Tolong, jangan di masukan ke dalam hati, mungkin papa mu seperti itu karena masih kehilangan baby Al."


Caca tersenyum ia mengatakan jika diri nya tidak merasa tersinggung sedikit pun dengan ucapan mantan ayah mertua nya itu.


Memang begitu watak dari Tommy, memiliki mulut yang sangat pedas jika sudah berbicara. Tidak memperdulikan perasaan orang lain dengan ucapan nya.


Lily menegur suami nya, tidak seharus nya Tommy bersikap dingin kepada Caca.


Niat Caca juga baik, Caca hanya ingin menghibur orang yang ada di rumah.


Lily mempersilahkan Caca untuk duduk, ia memanggil kepala pelayan untuk membuat kan sesuatu untuk Caca


Caca mengatakan jika mama nya Revan tidak perlu repot-repot.


"Ma, tidak perlu. Caca juga sudah makan di rumah tadi."


"Lihat lah gaya nya, ia mengatakan jika diri nya bersedih..Namun, ia menikmati makanan yang ada di rumah nya. Ibu dan anak sama saja, kebanyakan drama!"


Kata-kata pedas dari Tommy sedikit membuat Caca tersinggung. Mengapa Tommy harus mengungkit kesalahan mama nya yang sudah tiada.


"Maaf, mama saya sudah tenang di sana. Anda tidak berhak menilai perilaku nya dahulu sewaktu masih hidup. Lebih baik, anda memperbaiki diri sebelum kematian menghampiri anda." jawab Caca dengan kalimat yang pedas.


Kesabaran nya telah habis oleh Tommy, Caca tidak akan marah dan tersinggung jika Tommy hanya menghina diri nya. Namun, kini Tommy menghina ibu nya yang sudah tenang di alam sana


.


"Nak, maafkan ucapan suami mama ya." ujar Lily yang tak enak hati, Lily mengajak Caca untuk duduk di halaman belakang rumah mereka.


Caca meminta maaf, karena ia sudah bersikap tidak sopan. Namun, ia kehilangan kendali saat Tommy menghina mama nya. Lily merasa itu hal yang wajar.


Tidak ada anak yang akan tinggal diam jika ibu nya di hina seperti itu, apalagi ibu nya sudah tiada. Terlepas dari apapun kesalahan yang di perbuat oleh Elsa. Elsa tetap lah ibu kandung nya Caca.


"Nak, maafkan ucaapn."


"Mama enggak perlu minta maaf, ini juga bukan kesalahan mama. Caca yang seharusnya minta maaf, enggak seharusnya Caca kehilangan kendali dan mengatakan hal yang buruk tentang papa." Caca merasa bersalah, ia pun memotong perkataan Lily, Lily menghibur Caca ia mengatakan jika diri nya ada di posisi Caca. Ia akan melakukan hal yang sama seperti yang Caca lakukan.


Caca dan Lily duduk di halaman belakang, walau Caca tidak mengatakan nya namun terlihat jelas kesedihan di wajah nya.


Mungkin, ini memang kesalahan nya terlalu mencampuri urusan keluarga Shinta dan Revan.


Hujan pun turun, Lily mengajak Caca untuk duduk di teras agar tidak kehujanan.


"Jangan ambil hati ucapan papa, papa begitu karena juga masih berkabut dalam duka."


Caca mengangguk, ia tidak ada dendam dengan Tommy. Karena Caca tau jika Tommy memang seperti itu orang nya..


"Ma, bagaimana keadaan tata?" tanya Caca kepada Lily, Lily mengambil nafas dengan panjang.


"Mama juga enggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, menurut mama menantu mama sedang berada di fase yang begitu down. Tadi ibu nya datang, dan mereka berdebat."


"Berdebat? Apakah karena Rayhan lagi?" terakhir kali mereka di rumah Syafa. Shinta dan Syafa sudah mulai sedikit renggang hubungan nya..


"Rayhan? Siapa dia? Mantan kekasih tata?" tanya mama Lily penasaran. Caca menggeleng


"Bukan mantan kekasih nya ma, tapi anak mantan kekasih nya."


Lily tidak mengerti apa yang Caca katakan, setau nya mantan kekasih Shinta sudah meninggal bagaimana bisa memiliki anak?


Caca pun menceritakan segala nya.

__ADS_1


"Saat kami menginap di rumah ibu, semua nya masih dalam keadaan bahagia, ma. Tiba-tiba ada seorang wanita datang bernama cinta. Katanya sih sahabat Rayhan yang membantu Rayhan menjauhi tata karena penyakit nya itu. Caca juga tidak terlalu mengerti, dan dia menitipkan anak nya. Anak nya sering mengalami kekerasan yang menyebab kan mental nya terganggu."


Lily pun semakin penasaran dan bertanya apa yang terjadi setelah itu..Mengapa Shinta dan Syafa menjadi selisih paham?


"Awal nya semua masih membaik, ibu Syafa menerima Rayhan kecil karena tidak tega kepada nya. Ibu Syafa kembali terlahir sebagai seorang ibu, selama ini ibu kesepian apalagi semenjak tata menikah. Jadi, saat ada Rayhan ibu menjadi semangat menjadi seorang ibu yang mengurus anak nya. Dan suatu saat, Revan tidak sengaja bertindak kasar kepada rayhan karena alasan cemburu."


Lily mengerti sekarang, ia pun membuang nafas dengan kasar.


Lily begitu heran mengapa anak dan suami nya tidak pernah bisa mengendalikan diri dan selalu di kuasai oleh sifat pemarah mereka.


"Ibu enggak terima saat Revan memperlakukan Rayhan dengan kasar. Tata sudah meminta maaf, namun karena tata membela suami nya. Ibu menjadi kesal, dari situ lah renggang nya hubungan ibu dan juga tata. Mama kenapa bisa mengatakan itu, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Caca.


Lily mengiyakan ucapan Caca, ia pun menceritakan segala nya..


"Di saat baby Al masuk ke rumah sakit, mbak Syafa tidak hadir. Ia hanya fokus kepada anak angkat nya itu, dan sampai saat ini mbak Syafa pun tidak ada. Tadi dia baru datang dan baru mengetahui jika baby Al telah tiada. Tata merasa sangat kecewa, ia berteriak kepada Mbak Syafa. Mama juga enggak tega melihat Mbak Syafa namun mama juga belum bisa bicara dengan tata. Tunggu hati nya sudah tenang mama akan bicara perlahan.".


Caca mengambil nafas dengan panjang, ia tau ini bukan kesalahan ibu Syafa atau pun Shinta..


Mereka sedang ada di fase kesalahpahaman.


Caca berdoa agar semua nya bisa membaik..


Bagaimana pun Caca menyayangi Shinta dan juga ibu nya Shinta.


Syafa wanita yang baik dan lembut, bahkan ia bisa menyayangi Caca yang bukan siapa-siapa dan anak dari seorang wanita yang sudah menjahati putri nya.


Ibu Syafa wanita yang tulus, rasa cinta, sayang dan perhatian nya itu tulus untuk siapapun dan Shinta yang sudah terbiasa menjadi anak semata wayang mungkin tidak terima jika cinta ibu nya di bagi.


*******


Syifa masuk ke dalam kamar mama nya, membuka pintu perlahan..


Melihat sang mama yang duduk bersama papa nya.


Revan menoleh ke arah pintu, menyambut anak nya untuk mendekat.


Syifa berjalan mendekati mama dan juga papa nya.


"K-kamu, kenapa di sini? Bu-bukan kah kalian berlibur?"


"Iya ma, kami akan berlibur ke."


"Diam! Mama tidak mau tau kalian berlibur kemana tidak perlu memberitahu mama, atau pun kami di sini. Pergi sana!" usir Shinta kepada anak nya, Revan dan Syifa juga kaget dengan perlakuan Shinta.


Ia terpaksa melakukan itu, karena Shinta tidak mau jika pembunuh baby Al mengetahui keberadaan anak-anak nya yang lain, bisa saja keselamatan mereka terancam.


Shinta menarik Syifa ke luar. Ia menuruni anak tangga, melihat papa mertua nya yang sedang duduk di ruang keluarga.


Shinta bertanya kepada papa mertua nya Syifa datang dengan siapa.


"Pa, Syifa datang bersama siapa?"


"Bersama Caca. Ada apa nak?" tanya Tommy yang melihat gelagat aneh menantu nya, seperti orang ketakutan.


"Di-dimna sekarang Caca pa?"


"Di halaman belakang bersama mama mu."


Shinta membawa Syifa menuju halaman belakang mencari Caca.


Revan tidak terima dengan perlakuan Shinta kepada anak nya.


"Kamu jangan keterlaluan! Ini rumah nya kenapa kamu seperti tidak suka di kembali?"


Shinta diam, dia hanya berharap anak nya segera pergi dari rumah ini. Shinta tidak mau mengambil resiko keselamatan Syifa.


Syifa dan Shinta sebelum nya mempunyai kode jika ada yang tidak aman di sekitar mereka..


Shinta meremas jemari Syifa dan memberikan kode sos mereka. Syifa mengerti, ia pun tidak merasa tersinggung dengan ucapan dan tindakan mama nya..


Shinta pergi ke halaman belakang membawa Syifa, ia memanggil Caca.

__ADS_1


"Ca,"


Caca dan mama Lily bangkit, Caca mendekat ke arah Shinta.


Shinta langsung melepaskan tangan Syifa memberikan nya kepada Caca..


"Sebaik nya kalian pergi dari sini!" ujar Shinta,.dahi nya berkeringat. Ia tidak tau apakah Syifa mengerti kode yang ia berikan


Jika Syifa mengerti, maka Syifa akan memberitahu Caca dan juga Arvan. Namun, jika Syifa lupa maka lenyap lah harapan Shinta.


"Ma, ayo kita pergi. Syifa juga sangat kecewa dengan mama Shinta. Syifa benci!" teriak Syifa.


Sebenar nya Syifa tidak sungguh-sungguh. Ia mengingat pesan mama nya dulu, saat ada bahaya di sekitar mereka. Mereka harus memberikan kode yang tak ada orang yang tahu.


Syifa menarik tangan Caca, mengajak Caca pergi dari sini.


Caca pun yang bingung hanya mengikuti anak nya, mungkin Shinta masih stress dengan apa yang telah terjadi. Sebab itu emosi nya menjadi tidak stabil.


Caca berpamitan kepada Shinta, Revan dan juga Mama Lily.


Revan menolak Caca membawa anak nya, dia ingin Syifa tetap tinggal di rumah. Namun, Syifa pun menolak dengan alasan ia sudah kecewa dengan sikap mama nya dan akan memilih tinggal dengan Daddy dan juga mami nya Caca.


Caca meminta kepada Revan untuk tidak terbawa suasana dan emosi. Revan harus memahami keadaan ini dan jangan pernah memaksa.


Begitu juga mama Lily, ia pun menasehati anak nya..Yang di katakan oleh Caca itu memang benar


Revan pun diam, menuruti permintaan anak nya Syifa.


Caca pun membawa Syifa pergi dari rumah itu, Shinta bernafas dengan lega.


Setelah memastikan Caca dan Syifa sudah pergi ia kembali ke kamar.


Revan ingin mengejar dan memarahi istri nya namun di cegah oleh Lily.


"Nak, jangan memarahi istri mu. Dia sedang mengalami kecemasan dan ke khawatiran yang berlebih. Duka nya mendalam, emosi nya tidak stabil."


"Tapi ma, bukan hanya dia yang kehilangan Al. Revan juga ma! Revan juga hancur dan terluka kehilangan anak Revan..Tapi Revan tidak keterlaluan seperti dia, dia sudah menyakiti orang-orang yang ada di sekitar."


"Nak, tolong mengerti posisi nya. Apa selama ini isteri mu bersikap seperti itu?" tanya Lily kepada Revan..


Revan menggeleng, Lily tersenyum memegang tangan anak nya.


"Nah, kamu tau jika bukan itu sifat asli istri mu. Jadi, jangan salahkan dia. Mengerti lah keadaan nya sekarang. Mama yakin jika hati nya sudah mulai membaik, dia tidak akan seperti itu lagi. Dia hanya membutuh kan waktu untuk sembuh dan membutuhkan kita semua untuk mendukung nya."


"Tapi ma, dia udah melukai hati anak Revan."


"Itu juga anak dia, mama yakin ada alasan istri mu seperti itu."


Revan pun mendengarkan ucapan mama nya, walau sebenarnya ia pun belum merasa terima dengan itu semua.


Revan memikirkan kesedihan anak nya Syifa, ia ingin menemui anak nya.


Mam Lily pun tidak mencegah, mama Lily memberikan pesan kepada Revan. Anak nya itu harus bersikap tegas dan dewasa, jangan terbawa suasana..


Revan juga harus menjelaskan kepada anak nya bagaimana kondisi ibu nya saat ini agar Syifa tidak membenci Shinta.


"Berikan pengertian kepada anak kamu, jangan sampai ia ikut membenci dan menyalahkan Shinta."


"Iya, ma. Revan menitipkan istri Revan kepada mama, tolong pantau Shinta ma Revan khawatir ia melakukan hal yang nekat. Saat ini dia tidak berfikir dengan jernih, dia begitu tempramen sekali ma."


Mama Lily mengatakan kepada Revan untuk tidak khawatir. Ia akan menjaga dan melindungi Shinta.


Revan khawatir jika Shinta akan berlaku kasar kepada mama Lily seperti yang Shinta lakukan kepada ibu Syafa dan juga anak mereka Syifa.


"Kamu khawatir jika istri mu melukai hati mama?"


Revan mengangguk, Lily tertawa.


"Nak, mama mu ini memiliki hati seluas dunia. Tidak akan mudah untuk mama sakit hati, bukti nya saja mama tahan dengan sikap papa mu yang suka berbicara spontan dan kasar." bisik Lily kepada Revan mencoba menghibur anaknya.


Revan tertawa dengan keras, bagaimana bisa ia meragukan ketabahan hati mama nya sedangkan hati mama nya selalu diuji oleh sikap dari papa nya yang selalu sewenang-wena tanpa memikirkan perasaan orang lain.

__ADS_1


Revan pun bergegas pergi meninggalkan rumah, ia ingin menyusul putri nya yang mungkin terluka akibat perkataan dari istrinya itu.


__ADS_2