
"Itu semua salah, Mama! Khanza akan semakin dewasa dan akan semakin sulit menerima semuanya! Mengapa mama tidak memahami itu? Mama selalu saja beralasan!"
Alana semakin kesal, mungkin orang lain menganggap dirinya itu egois. Namun apa yang Alana katakan itu memang kenyataan
"Jadi, Khanza bukan anak mama?" Semua menoleh ke arah suara itu berasal, Shinta menangis saat melihat Khanza yang meneteskan air mata "Sayang!" Shinta mengejar Khanza yang berlari,
"Kau lihat! Karena mu, Khanza terluka!"
Alana tak menghiraukan ucapan saudara kembarnya, ini saatnya Khanza mengetahui kebenaran yang ada.
"Khanza, sayang. Tunggu mama, nak!"
Shinta memegang tangan Khanza, "Mama, apa benar apa yang kak Alana katakan? Jika Khanza bukan anak mama?"
"Khanza!" Sebelum menjawab pertanyaan dari Khanza, Shinta langsung memegang tubuh anaknya yang tak sadarkan diri.
Kebenaran itu membuat Khanza kaget dan sulit menerima kenyataan.
"Alan, tolong mama nak!"
Alan berlari ke arah anaknya, ia segera menggendong tubuh adiknya, Khanza. "Ma, ada apa dengan Khanza?"
Shinta menggeleng, ia pun tidak mengerti dengan apa yang terjadi "Mama tidak mengerti, ayo bawa adikmu ke rumah!"
Alan langsung menggendong tubuh adiknya, masuk ke dalam mobil.
"Khanza!" Alana yang melihat Khanza tak sadarkan diri pun merasa khawatir, ia tidak pernah membenci Khanza..
"Ma, ada apa? Mengapa Khanza tidak sadarkan diri?"
"Puas kau? Puas membuat Khanza menderita seperti ini? Kau lihat! Karena ulah mu, Khanza tidak sadarkan diri seperti ini. Mengapa kau tega melukai hati anak sekecil ini?"
Alan mencaci saudara kembarnya itu dengan geram.
"Sudah lah! Jangan bertengkar! Jangan salah kan adikmu, Alana!"
Shinta masih membela Alana, padahal Alana penyebab dari ini semua! Alana meneteskan air matanya, ternyata mamanya tidak seburuk yang ia pikirkan.
"Mama masih membela ku padahal aku sudah membuat Khanza tidak sadarkan diri," batinnya.
Mobil melaju kerumah mereka, Shinta langsung meminta Alan membawa Khanza ke kamar, Shinta memberikan minyak kayu putih di hidung Khanza "Sadar lah nak!"
Terlihat Shinta dan Alana sangat panik, Alan menepis tangan saudara kembarnya itu "Jangan pernah kau sentuh dia! Ini yang kau mau bukan? Sudah berulangkali mama mengatakan kepadamu, jika kesehatan Khanza tidak stabil namun Kau hanya memikirkan egois dan keras kepalamu saja! Lihat apa yang sudah terjadi karena ulah mu! Kau tahu, jika Khanza tidak sesehat anak biasanya!"
"Alan, Sayang. Sudah! Jangan memarahi Alana! Ini semua kesalahan mama, mama yang seharusnya bisa bersikap adil kepada kalian!"
"Tidak ma! Seharusnya Alana bisa berpikir dengan baik! Dia tahu bagaimana keadaan Khanza namun dia, "
"Sayang, mama minta tolong. Sudah ya? Jangan di perpanjang lagi! Mama tidak ingin ada keributan lagi! Mama juga tidak mau Khanza mengetahui semuanya, sudah lah!"
Kedua kembar itu terdiam, Alana menyesali perbuatannya, ia memeluk Shinta dan meminta maaf "Ma-maafin Alana Mama! Alana selalu saja egois. Andai Alana tidak membantah mama, ini semua tidak akan terjadi, Alana menyesal ma!"
__ADS_1
Shinta memeluk Alana, "Sudah lah nak! Jangan pernah kamu menyalahkan diri kamu sendiri, mama yang salah. Sudah ya? Kita berdoa saja untuk kesembuhan adik kamu. Dan ini sebenarnya alasan mama untuk tidak terus terang kepadanya, mama takut. Jika Khanza tidak bisa menerima kenyataan dan keadaannya bisa drop seperti ini."
"Mama tidak perlu membenarkan kesalahannya hanya karena mama takut ia sedih ma! Alana memang sudah keterlaluan!"
Syifa yang baru kembali dari kampus dengan rasa lelah pun menghampiri adiknya, Syifa sangat kesal jika adik-adiknya meninggikan nada bicaranya dengan sang mama
"Ada apa ini? Kenapa kamu bicara yang kasar dengan mama Alan?"
Syifa melihat Khanza yang tak sadarkan diri, Syifa yang panik langsung menghampiri adik kecilnya. "Ma, ada apa dengan Khanza? Mengapa seperti ini?"
Shinta menangis, ia tidak mau Alana di salahkan lagi
Alan yang masih emosi memberitahu kakaknya "Ini semua karena keras kepala Alana kak! Dia mengatakan hal yang sebenarnya sehingga Khanza mendengar percakapan kami. Sudah mama katakan jika kita akan mengatakan yang sebenarnya kepada Khanza jika waktunya sudah tepat. Namun Alana tidak mau mendengar, ia masih saja keras kepala. Alana sangat egois, ia tidak memikirkan dampak dari itu semua!"
Syifa menoleh ke arah Alana yang menangis, Alana meminta maaf kepada kakaknya "Kak, maafin Alana. Alana enggak bermaksud membuat Khanza sakit seperti ini, Alana hanya ingin kita tidak semakin lama membohongi Khanza. Alana sayang dengan Khanza kak."
"Kau berbohong! Jika kau menyayanginya. Kau tidak akan cemburu jika mama lebih memberikan perhatian kepada Khanza! Kau tidak akan menjaga jarak dengannya, bahkan kau tidak akan memaksakan kehendak mu!"
Alan masih menyalahkan saudara kembarnya walau Shinta sudah menyuruh Putranya untuk tenang.
"Alan, tenangkan diri kamu sayang! Kendalikan dirimu!"
"Bagaimana Alan bisa tenang ma? Mama lihat sekarang kondisi Khanza, bahkan mami sendiri yang meminta kita untuk tidak mengatakan apapun dengan Khanza sampai mami dan Daddy kembali! Tapi anak ini, selalu saja membuat masalah!"
"Alan, hentikan! Apa kamu tidak mendengar apa yang mama katakan? Jika kamu terus seperti ini, tidak ada bedanya kamu dengan Alana! Sudah diam!" Syifa yang merasa pusing meminta adiknya untuk diam, dengan lembut ia meminta Khanza untuk bangun namun Khanza masih belum ada reaksi apapun.
"Khanza adik kakak, bangun sayang! Kakak sudah pulang, kakak sudah membawakan cokelat kesukaan Khanza!"
"Khanza enggak mau bicara dengan siapapun, Khanza cuman mau kak Syifa saja!"
"Sayang, kamu enggak mau berbicara dengan mama?" Shinta bertanya dengan sedih, Khanza menggelengkan kepalanya. Ia masih marah dan kecewa dengan keadaan
"Khanza cuman mau sama kak Syifa dan kak Alan!"
"Khanza, maafin kak Alana ya? Kakak enggak bermaksud membuat Khanza sedih, kakak hanya mengatakan hal yang sebenarnya jika kamu bukan anak kandung mama Shinta."
Alana!
Syifa membentak Alana, menurutnya Alana sudah sangat keterlaluan.
"Kenapa kak? Apa yang salah dengan perkataan Alana? Alana meminta maaf kepada Khanza. Dan memang apa yang Alana katakan itu memang benar, mengapa kakak memarahi Alana seperti Alan?"
"Sudah aku katakan, anak ini tidak akan berubah! Air matanya itu air mata buaya!"
Rasanya, ingin sekali Alan memukul saudara kembarnya itu. Namun Shinta menahan, ia tidak mau antara saudara saling berperang!
"Sudah Alan, jangan memperpanjang masalah ini lagi! Mama akan pergi dengan Alana. Kamu dan kakakmu jaga lah adik kalian ya?"
"Iya ma!" Syifa dan Alan menjawab dengan serentak.
Shinta mengajak Alana untuk keluar kamar, Alana menatap mamanya lalu memeluk dengan erat "Mama marah dengan Alana?"
__ADS_1
Shinta menggeleng "Mama enggak marah sama kamu, mama lebih marah sama diri mama sendiri karena udah gagal mendidik Putri mama dengan baik, ini semua bukan kesalahan kamu. Mama yang salah, setiap perbuatan anaknya. Orang tua yang akan menanggungnya, dan mama siap menanggung setiap kesalahan yang kamu buat."
Alana melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata mamanya yang jatuh "Mama jangan menangis! Alana sangat menyayangi dan mencintai mama!"
Shinta tersenyum, ia kecewa dengan keadaan yang ada "Mungkin, jika mama tidak gagal menjaga adik kalian Al. Mama tidak akan seperti ini, mama,"
"Sudah lah ma! Mama tidak gagal!" Alan memotong ucapan mamanya, ia tidak mau membuat mamanya menjadi sedih.
Sedangkan Shinta memahami, seusia Alana memang emosinya tidak terkendali. Dan sebagai ibu, Shinta harus bisa mengendalikan amarah dan juga emosi anaknya yang meledak-ledak!
"Sekarang, Alana ganti baju ya nak?" Alana tersenyum, dan mengangguk. Jika Caca tidak menitipkan Khanza dirumah Shinta. Mungkin perhatian Shinta dan yang ada di rumah ini pasti akan fokus kepada dirinya.
Bukan malah kepada Khanza yang bukan anak dari keluarga mereka!
****
Khanza memakan cokelat pemberian dari kakaknya Syifa, "Kak bagaimana kuliah kakak? Mengapa cepat sekali pulangnya?" Alan bertanya kepada Syifa. Ia memang memberikan perhatian kepada kakaknya, bahkan Alan selalu mengetahui jadwal kampus sang kakak.
"Iya, tadinya kakak ingin ke kantor untuk bantuin papa, tapi entah mengapa kakak malas dan ingin segera pulang. Hati kakak juga gelisah entah kenapa, namun sekarang kakak mendapat kan jawabannya!"
Syifa melirik ke arah Khanza yang masih menikmati cokelat di tangannya, Syifa pun tak habis pikir dengan adiknya Alana. Mengapa ia begitu kuat sekali rasa cemburunya kepada Khanza?
Bahkan sejak masih kecil, sifat cemburunya sudah sangat nampak
Syifa mengira, seiring berjalannya waktu, Alana bisa berubah dan berdamai dengan keadaan. Namun Syifa salah, Alana semakin menjadi bahkan tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Alan, sebaiknya kamu ganti baju dulu! Lihat baju mu sangat kotor."
Alan menyengir, menunjukkan gigi putihnya yang rapih "Iy-iya kak, tadi Alan bermain bola dulu sebelum pulang."
Alan menuruti ucapan kakaknya, ia segera keluar untuk berganti pakaian.
"Kak, apakah Khanza bukan anaknya mama Shinta?" Dengan mata yang berkaca-kaca, Khanza bertanya kepada Syifa.
Syifa merasa sedih, langsung memeluk adik nya. "Khanza enggak usah pikiran hal itu lagi ya? Yang terpenting adalah mama Shinta menyayangi Khanza melebihi apapun!"
Syifa bingung harus menjawab apa, jika dia jujur Khanza pasti akan meminta untuk bicara dengan mami dan Daddy.
Syifa yang sering menghubungi maminya, sangat sulit berbicara secara langsung walau hanya dari telepon. Raisa selalu mengatakan jika maminya sedang mengurus Daddy. Setelah selesai ia akan meminta mami nya untuk mengubungi Syifa. Namun kenyataannya, Raisa tidak pernah menghubungi balik atau memberikan telepon itu kepada maminya.
Syifa hanya berharap, Daddy-nya segera sembuh, agar Khanza bisa bertemu dengan keluarganya yang sesungguhnya.
"Khanza ganti baju dulu yuk? Bentar kakak pilih bajunya ya?"
"Enggak mau! Kakak jawab dulu pertanyaan aku!"
Syifa menghela nafas panjang menatap adiknya "Mama Shinta itu mamanya kita, Khanza sayang! Kamu lihat bukan? Mama sangat menyayangi dan mengurus kita semua dengan baik! Bagaimana bisa itu di lakukan oleh orang yang bukan seorang ibu?"
Khanza terdiam, ia mempercayai kakaknya. Syifa..
Syifa harus tetap membohongi adiknya agar Khanza tidak semakin drop!
__ADS_1