
Victor menyambut kunci mobil dari Lu Sun dan mengangguk mengerti tanpa banyak bicara.
Cindy tidak memperdulikan Victor dan para resepsionis, dia terus berjalan melewati mereka tanpa banyak bicara.
Lu Sun berjalan mengikutinya dari samping, keluar dari lobby Cindy menggandeng tangan Lu Sun dengan mesra.
Lu Sun sambil tersenyum berkata,
'Cindy kita boleh dekat tapi kamu harus ingat aku sudah punya istri, kita tidak mungkin punya masa depan yang jelas.."
"Jadi kamu tidak boleh menganggapnya terlalu serius."
"Ihh sebal...!"
"Plaak..!"
Gerutu Cindy sambil memukul lengan Lu Sun yang kekar dengan gemas.
"Kenapa sih kamu harus mengeluarkan kata-kata yang merusak suasana itu.."
"Dasar menyebalkan.."
Lu Sun menanggapinya dengan tertawa dan berkata,
"Maaf..maaf.. telah membuat mu kesal, aku tidak bermaksud begitu."
"Aku hanya khawatir nanti kamu terjerumus dalam lubang penuh ketidak pastian."
"Ya..ya.. bawel..!"
ucap Cindy masih sedikit keki, tapi dia tidak melepaskan rangkulannya di lengan Lu Sun.
Cindy mengajak Lu Sun menghampiri sebuah mobil Audi merah, secara kebetulan mobil Cindy dan mobil Ying Ying satu pabrikan.
Yang membedakan adalah tipe mobilnya, mobil Cindy tipe R8 merupakan mobil sport yang cuma muat 2 penumpang saja.
Sedangkan mobil Ying Ying tipe A6 yang bisa muat 4 sampai 5 orang.
Tak lama kemudian mobil pun melaju meninggalkan area parkir menuju Mall Golden Eagle.
Yang letaknya paling dekat dengan lokasi Gym milik Cindy.
Lu Sun dan Cindy dengan santai menggunakan eskalator menuju Bioskop yang terletak di lantai 5.
Di saat yang sama di sebuah lift yang transparan kacanya, terlihat Ying Ying dan Xue Yen sedang asyik mengobrol sambil menenteng barang belanjaan mereka.
Secara tidak sengaja Ying Ying melihat kearah lift dan dia melihat dengan jelas Lu Sun sedang berdiri santai di eskalator seorang gadis cantik berambut cokelat berdiri disebelahnya sambil merangkul lengannya dengan mesra.
__ADS_1
Ying Ying buru-buru merubah posisi berdiri nya, agar Xue Yen memunggungi posisi Lu Sun, sehingga tidak melihat kehadiran Lu Sun di Mall tersebut.
Lu Sun sendiri tidak menyadari hal itu, dia masih terlihat asyik ngobrol bersama Cindy dan terus bergerak menuju Bioskop yang di tuju oleh Cindy.
Sampai di Bioskop mereka langsung masuk karena bertepatan dengan pintu theatre sudah terbuka.
Lu Sun membeli cemilan popcorn dan minuman di dalam bioskop setelah mereka berdua menemukan tempat duduk yang sudah di booking oleh Cindy.
Beberapa saat kemudian Film pun di mulai, ternyata film yang dipilih oleh Cindy adalah fil hantu.
Sepanjang film di putar Cindy yang ternyata sangat penakut terhadap hal-hal seperti itu, lebih banyak merangkul lengan Lu Sun untuk menutupi matanya.
Daripada menonton alur cerita film tersebut, Lu Sun hanya tersenyum menanggapi tingkah laku Cindy yang lucu.
Akhirnya film pun selesai Lu Sun dan Cindy sambil tertawa mengikuti arus orang-orang perlahan-lahan keluar dari bioskop tersebut.
Mereka berdua sama-sama masuk ke toilet yang bersebelahan.
Keluar dari toilet Cindy mengajak Lu Sun mampir ke apartemennya yang ternyata menyatu dengan Mall tersebut.
Melalui lift khusus untuk penghuni apartemen, mereka bisa langsung menuju tempat tinggal Cindy.
Cindy tinggal di lantai 26. di mana seluruh lantai 26 dan 27 dibangun menyatu sebagai apartemen mewah milik Cindy.
Lu Sun sedikit terkagum-kagum melihat apartemen mewah milik Cindy.
Kalau di bandingkan dengan punya Lu Sun dulu jelas apartemen Cindy jauh lebih mewah dan keren.
"Kamu mau minum apa ?"
tanya Cindy santai.
"Air putih aja .."
ucap Lu Sun sambil duduk santai di kursi sofa yang empuk dan mewah.
Cindy mengangguk kemudian berjalan menuju dapur membuka kulkas mengambil dua botol air mineral.
Dia minum satu langsung dari botol, sedang kan yang satunya lagi dia lempar kearah Lu Sun dari arah belakang.
Lu Sun mengulurkan tangannya menangkap botol itu tanpa melihat.
Cindy mengangguk dan tersenyum sendiri, lalu berjalan menuju kamar nya dan berkata,
"Kamu santai saja dulu, aku mau mandi anggap saja rumah sendiri."
"Tapi jangan menyusul dan menganggap istri sendiri."
__ADS_1
ucap nya sambil tertawa berjalan melenggang masuk ke kamarnya, tanpa mengunci pintu.
Lu Sun hanya menanggapinya dengan senyum masam.
Lu Sun berjalan-jalan melihat-lihat foto yang terpajang di dinding.
Ada foto masa kecil Cindy bersama Jack dan kedua orang tua mereka.
Setelah itu ada Foto Cindy Jack dan seorang pria yang memakai topeng besi.
Melihat foto tersebut Lu Sun terkejut, tentu saja Lu Sun mengenali pria tersebut, Pria itu adalah suami murid tunggal istrinya Xue Yen yang bernama Yi Yi.
Gadis berhati lembut yang sangat baik, tapi nasib mempermainkannya, sehingga harus mengalami penderitaan Cinta.
Untung saja Yang Jian atau si topeng besi hadir dan mengobati semua lukanya dengan cinta tulus dan pengorbanan nya yang luar biasa demi gadis itu.
Lu Sun masih ingat dia ikut menghadiri pesta pernikahan kedua pasangan berbahagia itu.
Melihat sepasang mata Si Topeng Besi yang terpejam saat di foto, yakinlah Lu Sun itu adalah Yang Jian.
Lu Sun sedikit kagum dengan kesaktian Yang Jian yang bisa hidup abadi sampai sekarang.
Tapi kelihatannya Pria baik yang patut di kasihani itu telah meninggal demi menolong Jack.
Sekarang Lu Sun mulai jelas kenapa Jack yang masih muda bisa memiliki kekuatan sedahsyat itu.
Rupanya Yang Jian lah yang telah mengoper semua energinya buat Jack, sayang nya Jack tersesat terlalu jauh.
Lu Sun yang sedang termenung menatap foto Yang Jian, tidak menyadari Cindy yang menghampirinya dari belakang.
"Kamu terlihat sangat tertarik dengan Paman Topeng Besi apakah kalian saling mengenal.
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Dulu-dulu sekali kami memang sempat bertemu beberapa kali, tapi kami hanya saling tahu saja tidak akrab."
Lu Sun tidak mau membahas lebih jauh tentang si Topeng Besi jadi dia segera berkata,
"Apa sudah bisa memulai membahas penawaran ku tadi di restoran."
Cindy mengangguk dan berkata,
"Ayo kita bicarakan di ruang kerja ku saja."
Kemudian dia berjalan didepan masuk kesebuah ruangan yang di dalamnya ada beberapa rak yang tersusun rapi buku-buku tebal, surat-surat dan file-file yang berjejer rapi.
Ada sebuah kursi sofa santai dilengkapi meja pendek dari kayu, diatasnya ada seperangkat peralatan menyeduh teh, lengkap dengan sebotol daun teh kering.
__ADS_1
Ditengah-tengah ruangan ada sebuah meja panjang dengan sebuah kursi kerja dan dua kursi ukuran lebih kecil di hadapannya.
Di atas meja ada seperangkat alat komputer dan sebuah laptop yang tertutup rapi.