
"Hei..hei hei..! sayang aku tidak apa-apa, kamu jangan nangis ok."
"Aku janji akan selalu menjaga diri ku sesuai pesan mu, tuan putri ku sayang ku cinta ku ok jangan menangis ya.."
ucap Lu Sun seperti sedang membujuk anaknya agar jangan nangis.
Giok Lan yang mendengarnya pun tertawa cekikikan tidak jadi menangis.
Lu Sun pun bisa bernafas lega,
"sayang Minggu depan setelah pemakaman ayah mu dan serah terima urusan pekerjaan dan pembagian warisan mu selesai."
"Kamu ke sini lah main, biar kita bisa berkumpul dan bergembira bersama."
Giok Lan terdiam sejenak, kemudian bertanya.
"Kamu yakin kehadiran ku tidak akan membuat Xue Yen kecewa, sehingga mengganggu pemulihannya."
Lu Sun tersenyum dan berkata,
"Kamu tenang saja, aku akan mengatasi semua nya, cepat lambat kalian semua akan mendampingi ku hidup sampai tua dan meninggal."
"Kami kali yang tua dan meninggal, sedangkan kamu akan hidup terus dan mencari pengganti kami."
ucap Giok Lan sewot.
Lu Sun menjawab dengan serius dan berkata,
"Bila hari itu tiba, di mana aku tinggal sendirian aku pasti akan pergi bereinkarnasi lagi."
"Memulai semuanya dari nol lagi, aku tidak mau seperti ayah mu yang hidup selama nya sungguh membosankan hidup seperti itu."
Giok Lan menyambut kata-kata Lu Sun dengan suara tertawa bahagianya.
Tiba-tiba baik di HP Lu Sun maupun di HP Giok Lan terdengar bunyi menggelegar dari suara geledek yang sangat keras.
"Tuh ayah mertua ku dengar dan sewot kayaknya.."
ucap Lu Sun sambil tertawa.
Giok Lan pun ikut tertawa.
Kemudian Lu Sun kembali melanjutkan berkata,
"Lan Mei bercerita tentang ayah mu aku jadi teringat, sebenarnya dia dulu pernah menawari ku, memilih satu diantara ke 8 putrinya untuk jadi istri ku."
"Tapi aku menolaknya saat itu, ternyata kini kita malah bersama."
Giok Lan tersenyum dan berkata,
"Untung waktu itu kamu gak milih deh,aku jadi kebagian peluang."
"Kalau kamu milih pasti yang terpilih kakak ke 3 ku deh.."
"Kok bisa ?" tanya Lu Sun penasaran
Giok Lan sambil tersenyum berkata,
"Nah jadi penasaran kan dasar genit, aku tidak akan memberitahu mu, juga melarang mu menemuinya."
Lu Sun pun tanpa sadar tertawa keras, kebetulan ada suster tua yang lewat memberinya kode agar jangan berisik.
Sehingga Lu Sun pun salah tingkah dan berhenti tertawa.
__ADS_1
Giok Lan yang merasakan ada keanehan pun bertanya,
"Kamu kenapa Sun ke ke ?"
Lu Sun sambil berbisik,
"Udah dulu ya sayang, aku kena tegur suster peot barusan, lain kali kita sambung lagi."
Terdengar suara tertawa renyah Giok Lan diseberang sana menanggapi jawaban Lu Sun.
Lu Sun tiba-tiba teringat sesuatu yang lupa ditanyakan ,
Dia buru-buru mengirim pesan ke Giok Lan
"Sayang aku sebenarnya ingin kita menikah, tapi ayah mu baru meninggal, kira-kira berapa lama masa berkabung mu selesai.?"
"Sekarang juga bisa."
balas Giok Lan langsung.
"Serius..?"
tanya Lu Sun antusias.
Giok Lan mengirim emozi tertawa dan menulis pesan dibawahnya,
"Bercanda sayang, masa berkabung ku tiga bulan."
"Baiklah.." jawab Lu Sun singkat
lalu dia menyimpan ponselnya, dan berjalan kembali ke depan kamar Xue Yen yang masih sedang di lakukan pemeriksaan.
Lu Sun Kembali duduk di sebelah Prof Billy, Lu Sun melihat Prof Billy tertidur kelelahan di bangku ruang tunggu bersandar kan tembok.
"Bagaimana kondisinya dokter ?"
"Maaf anda siapa,? apa hubungan anda dengan pasien ?
tanya dokter hati-hati.
"Aku suaminya dokter."
jawab Lu Sun yakin.
Dokter tersebut mengangguk sambil membenarkan posisi kacamatanya, dia berkata.
"Kondisinya sangat lemah, perlu perhatian dan perawatan khusus baru bisa pulih "
"Yang parah adalah kondisi psikisnya, kamu harus extra merawat dan bersabar, jangan biarkan dia tertekan, atau dia bisa mengalami ke gilaan."
Lu Sun mengangguk setelah mendengar penjelasan dokter tersebut.
kemudian baru bertanya,
"Apa boleh saya masuk menemuinya sekarang ?"
Dokter tersenyum mengangguk dan berkata silahkan saja.
"3 hari kemudian bila kondisinya sudah stabil, kalian bisa membawanya pulang ke rumah."
ucap dokter itu berpesan.
Setelah itu dokter pun berjalan pergi meninggalkan Lu Sun.
__ADS_1
Lu Sun tidak berani membangunkan Prof Billy yang sedang asyik tidur.
Jadi dia masuk sendiri menemui Xue Yen, yang sedang duduk bersandar di ranjang menatapnya sambil tersenyum.
Lu Sun duduk di pinggir ranjang Xue Yen sang merangkulnya kedalam pelukannya dan berkata,
"Kini semua baik-baik saja, menurut dokter 3 hari lagi kita bisa pulang."
Xue Yen mengangguk, tapi kemudian dia berkata,
"Tapi aku kini tidak punya rumah.."
Lu Sun mencium kepala Xue Yen dengan mesra, meski masih berbau aneh.
"Jangan terlalu di pikirkan, kamu istri ku tentu kamu dan ayah mu akan tinggal bersama ku."
Xue Yen tersenyum bahagia dalam pelukan Lu Sun.
Saat suster datang berkunjung melakukan pemeriksaan dan memberikan obat untuk di makan oleh Xue Yen.
Lu Sun bertanya,
"Sus apakah istri ku sudah boleh mandi.?"
Suster tersebut mengangguk dan berkata "boleh, tapi sebaiknya tuan membantunya dan gunakan air hangat saja."
Wajah Xue Yen langsung merah seperti kepiting rebus dan menundukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya.
Meski di kehidupan sebelumnya dia adalah istri Lu Sun, tapi di kehidupan ini dia masih seorang gadis.
Jadi tetap saja ada perasaan risih, bila Lu Sun yang membantunya mandi.
Suster itu tertawa dan berkata,
"Kamu seperti pengantin baru saja, pake muka merah segala."
"Kalau kamu gak mau, biar aku saja yang di mandikan olehnya."
ucapnya sambil tersenyum genit Kearah Lu Sun.
Xue Yen langsung melotot marah kearah suster tersebut dan berkata,
"Bila tidak sopan lagi..! akan ku laporkan dengan dokter Andrew.!"
Suster itu meleletkan lidahnya melirik kearah Lu Sun lalu buru-buru meninggalkan ruangan tersebut.
Lu Sun Kembali duduk di sisi ranjang Xue Yen membelai rambut nya , dan berkata,
"Dia hanya bercanda dengan mu saja, jangan di tanggapi dengan serius."
Xue Yen mengangguk dan berkata,
"Aku bisa kok mandi sendiri."
ucap nya malu-malu sambil melirik Lu Sun.
Lu Sun mengambil sebuah apel mengupasnya kemudian menyuapi Xue Yen dan berkata,
"Habiskan dulu apel ini, setelah itu aku yang akan melayani mandi mu sayang.."
"Jangan khawatir aku tidak akan berbuat macam-macam seperti di jaman kita bila mandi bersama, "
ucap Lu Sun sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Xue Yen menundukkan kepalanya tidak berani menatap Lu Sun, hanya mengangguk kecil.