
Guru Ciu dan Guru Lin semakin menjerit histeris ketakutan saat melihat wajah gadi didepan mereka itu.
Sedangkan Giok Lan tersenyum tenang, tubuhnya menghilang dari posisinya, tahu tahu muncul memunggungi Guru Ciu dan Guru Lin.
Giok Lan menatap tajam kearah gadis berwajah pucat yang terus mengeluarkan suara tangisan memilukan.
"Jangan menakuti orang, dan menganggu orang."
"Itu hanya akan menambah dosa dan mempersulit dirimu bereinkarnasi.'
"Bila ada penasaran atau dendam yang mengikat mu di sini, katakan saja."
"Aku berjanji akan berusaha membantu mu, tapi bila kamu punya niat buruk, pedang ini akan mengirim mu ketempat yang selamanya tidak bisa bereinkarnasi lagi.."
ucap Giok Lan sambil menatap tajam kearah gadis SMA itu.
Di tangan Giok Lan kini sudah muncul Xuan Yuan Cien yang mengeluarkan sinar keemasan berkilauan.
Gadis berwajah pucat itu terlihat terkejut melihat pedang di tangan Giok Lan.
Secara reflek dia bergerak mundur dengan cara melayang.
Sepasang kakinya tidak menyentuh tanah sama sekali
Dengan wajah penuh ketakutan dia segera menjatuhkan diri nya berlutut menghadap Giok Lan dengan kedua tangan merangkap di depan dada.
Meski berlutut sekalipun posisinya masih dalam keadaan melayang tidak menyentuh tanah.
"Tuan putri yang terhormat, kamu bantulah aku gadis malang yang mati penasaran tanpa kuburan yang layak dan kejelasan ini."
"Sedangkan pelakunya masih berkeliaran di luar sana bersenang-senang.."
"Sebenarnya apa yang terjadi..?"
tanya Giok Lan.
"Tuan putri sentuh lah tangan ku, aku akan membawa mu melihat semua kejadian peristiwa."
Giok Lan mengangguk, kemudian berkata,
"Guru Ciu dan Guru Lin kalian pegang pundak ku, agar bisa ikut melihat peristiwa yang di alami oleh Siswi kalian ini."
Guru Ciu dan Guru Lin saling berpandangan sejenak, kemudian mereka mengangguk, mengulurkan tangan mereka menyentuh pundak Giok Lan dari kiri kanan.
__ADS_1
Giok Lan lalu mengulurkan tangannya, menyentuh menyentuh tangan Gadis yang berlutut di hadapan nya dengan wajah tertunduk.
Mereka bertiga mulai bisa menyaksikan satu persatu peristiwa yang di alami oleh gadis malang tersebut.
Gadis itu ternyata adalah salah seorang murid di sekolah itu yang di ancam oleh Pak Wang untuk melayani ***** bejadnya guru tersebut.
Awalnya pak Wang mengancam akan membuat gadis tersebut tidak naik kelas bila tidak melayani ***** bejadnya.
Karena takut tidak naik kelas, akhirnya gadis malang itu, menyerahkan miliknya yang paling berharga sambil menangis.
Setelah menyelesaikan ***** bejadnya, selagi gadis itu sedang menangis dan terkapar lemas tak berdaya.
Pak Wang mengambil foto dan video gadis malang tersebut saat sedang tidak berbusana.
Setelah itu sambil tersenyum puas pak Wang meninggalkan gadis malang itu begitu saja.
Pak Wang ternyata tidak cukup puas sampai di sana saja, bermodalkan rekaman dan foto gadis itu.
Pak Wang terus memaksa gadis itu melayani ***** bejadnya berulang kali.
Hingga suatu hari, perbuatan pak Wang tercium oleh ke sepuluh murid guru Ken.
Maka mereka di bawah komando Guru Ken menemui pak Wang.
Pak Wang yang takut dengan pak Ken tanpa berpikir dua kali, langsung mengatur waktu, dan menyerahkan gadis malang tersebut ke Pak Ken.
Setelah pak Ken selesai, dengan sadis dia membiarkan gadis malang itu di antri oleh sepuluh muridnya hingga pingsan.
Seminggu setelah kejadian tragis itu, gadis malang tersebut menemui pak Wang meminta pertanggungjawaban pak Wang karena dirinya hamil.
Tapi bukan nya mendapatkan pertanggungjawaban, gadis malang itu malah tewas di bawah cekikikan sepasang tangan pak Wang.
Pak Wang kemudian di bantu oleh sepuluh murid guru Ken, menggali lubang di halaman belakang sekolah kemudian menguburkan mayat gadis itu di sana.
Seminggu kemudian karena sering di hantui oleh arwah penasaran gadis malang tersebut.
Pak Wang, Pak Ken dan kesepuluh muridnya memutuskan pergi menemui seorang pintar yang juga merupakan kenalan Guru Ken.
Oleh orang pintar itu, mereka di berikan 4 buah mainan kura kura ular,.harimau putih, naga hijau dan burung Hong.
Orang pintar itu menyuruh mereka menanam 4 benda itu di 4 sudut sekolah.
Selain itu dia juga memberikan sebuah boneka bertubuh manusia berkepala Kirin untuk di tanamkan di makam gadis malang tersebut.
__ADS_1
Sejak saat itu arwah Gadis malang itu tidak bisa bebas berkeliaran lagi, dia hanya bisa berkeliaran di sekitar sekolah, dengan jam yang sudah di tentukan oleh mahluk berkepala Kirin itu.
Gadis itu beberapa kali menghubungi paman Lau untuk membantunya, tapi paman Lau bukan tandingan para penunggu yang rata-rata memiliki kesaktian tinggi.
Baru saja gadis itu menyelesaikan ceritanya, tiba tiba terdengar suara gerengan yang menggetarkan tempat tersebut.
Tiba-tiba di sana sudah muncul manusia berkepala Kirin sedang menatap kearah Giok Lan Guru Ciu dan Guru Lin serta arwah gadis malang itu dengan tatapan penuh kemarahan.
"Gadis keras kepala dan tidak tahu di untung, kamu berani mencoba menantang ku dengan membawa bala bantuan."
"Baiklah bila itu mau mu, aku akan meluluskan nya, aku akan mengirim mereka untuk menemani mu disini.."
ucap mahluk itu sambil tertawa seram.
Tanpa banyak bicara lagi, Giok Lan melesat dengan pedang Xuan Yuan,. memainkan tarian pedang bidadari.
Melakukan beberapa tusukan cepat kearah lubang panca indera dan leher mahluk aneh itu.
Mahluk itu sambil tertawa, dia menggunakan kedua tangannya yang bersisik tebal seperti kulit naga, menangkis serangan Giok Lan.
Saat pedang dan sisik mahluk itu yang keras bertemu, bunga api berpijar.
Giok Lan terpental mundur bersalto satu kali kebelakang kemudian mendarat ringan di atas tanah.
Mahluk itu meski berhasil menangkis serangan tusukan pedang Giok Lan dan membuat tubuh Giok Lan terpental.
Tapi dia sendiri juga melompat mundur, memperhatikan kedua lengannya yang terluka dan mengucurkan darah berwarna kehijauan terang, seperti warna Scotlight.
Sisik Naga yang tebal yang melindunginya, banyak terlepas, memunculkan sebuah garis luka yang cukup dalam.
Tapi perlahan-lahan luka tersebut pun sembuh dengan sendirinya, lukanya merapat, sisiknya tumbuh kembali.
Tapi kini di kedua tangan mahluk itu muncul dua golok hijau yang lebar tapi pendek, mahluk itu membolang balingkan kedua golok hijau itu didepan tubuhnya.
Sebelum kemudian menggereng keras, lalu menerkam kearah Giok Lan dan menghantamkan kedua Goloknya dari atas kebawah.
Giok Lan sambil menangkis serangan mahluk itu, dia berteriak,
"Guru Lin Guru Ciu, pergilah dari sini cepat..!
"Pergi beritahu suamiku, minta dia segera kemari..!"
Guru Ciu dan Guru Lin buru buru berlari meninggalkan tempat tersebut, untuk mencari bantuan.
__ADS_1