
Lu Sun tertawa dan berkata,
"A Fei kamu gak adil, kamu panggil saya paman tapi panggil kedua istri ku kakak, berarti saya Om Om yang menikahi gadis muda gitu..?"
"Ehh maaf Paman.. bukan itu maksud ku..aku..aku.."
A Fei terlihat bingung tidak tahu mau berkata apa.
"Jangan pedulikan dia, kamu duduk saja di sini dekat kami.."
ucap Giok Lan tersenyum lembut.
"Paman itu hobby bercanda dan menggoda orang kamu tidak usah pedulikan dia.."
ucap Giok Lan sambil tersenyum lembut.
Melihat anak ini yang usianya mungkin baru 8 tahun, Giok Lan jadi teringat dengan San er putra tirinya yang kini sudah berusia 13 tahun dan sudah masuk sekolah kelas menengah sekarang.
"Paman mie komplit 6 mangkuk..!"
teriak Xue Yen kearah si tukang Mie, Xue Yen sangat paham porsi makan suaminya.
Daripada nanti repot bolak balik mesan, jadi dia langsung pesan 6 sekaligus, 5 buat Lu Sun
1 buat A Fei.
Si pemilik toko menyahut sambil bekerja,
"Ok..siap..! ditunggu.. segera datang...!"
Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
Lu Sun mengulurkan tangannya meraba bahu punggung lengan dan kaki anak itu kemudian dia berkata,
"Tulang bagus, bakat yang sempurna.."
"A Fei mana orang tua mu ? kenapa kamu ada di tempat ini ? kenapa tidak pergi sekolah..?"
tanya Lu Sun ingin lebih mengenal A Fei yang menarik perhatiannya itu.
"Ayah ibu ku sudah lama meninggal...,
sejak kecil aku di rawat oleh nenek ku.."
"Tapi setengah bulan yang lalu, nenek ku baru saja meninggal."
"Jadi aku sekarang terpaksa harus berkeliaran di pasar, agar bisa bertahan hidup.."
ucap Li Fei polos.
Tidak terlihat ada ekspresi menyesal kecewa atau pun sedih di wajahnya, dia terlihat menghadapi semuanya dengan penuh semangat dan tegar.
Lu Sun sangat kagum melihat keberanian anak itu mengarungi kehidupan nya seorang diri.
Diam-diam Lu Sun jadi teringat nasibnya sendiri di jaman lalu.
Merasa ada kemiripan persamaan nasib, Lu Sun menjadi kasihan dan tertarik dengan anak tersebut.
__ADS_1
"A Fei mulai saat ini kamu ikut dengan kami mau tidak..?"
A Fei menatap Lu Sun dengan terkejut dan berkata,
"Paman serius ? mau menampung ku ?"
Lu Sun menepuk pundak anak itu dan berkata,
"Tentu aku serius.."
Tanpa memperdulikan lantai yang kotor dengan berlinang air mata kebahagiaan, anak itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lu Sun dan berkata,
"Terimakasih banyak atas Budi besar paman, A Fei seumur hidup tidak akan pernah melupakan Budi besar paman...."
"A Fei akan melakukan semua yang bisa A Fei lakukan untuk membalas Budi baik paman..."
ucap A Fei sambil membenturkan dahinya di atas lantai sebanyak 3 kali.
Melihat sikap anak tersebut Lu Sun tersenyum gembira dan membangunkan nya berdiri dan berkata,
"A Fei mulai hari ini panggil saya ayah angkat, dan kedua kakak cantik ini akan menjadi ibu angkat mu.."
A Fei mengangguk patuh, matanya bersinar sinar penuh semangat.
"Ayah angkat ..ibu angkat.."
ucap A Fei sambil memberi hormat ke Lu Sun Xue Yen dan Giok Lan.
Mereka bertiga mengangguk senang, Lu Sun sambil menepuk bahu A Fei dia berkata,
"Nah mie nya sudah datang, ayo kita makan, kalau kurang tambah lagi, jangan malu-malu."
A Fei mengangguk patuh,
"Ayah ..ibu...makan.."
Lu Sun tersenyum dan berkata,
"Ya..ya.. makanlah nak.."
Sedangkan Xue Yen dan Giok Lan mengangguk sambil tersenyum senang menanggapi sikap A Fei yang sopan.
Cara makan dan cara megang sumpitnya sangat mirip dengan Lu Sun bahkan gaya makannya pun mirip.
Giok Lan dan Xue Yen yang melihat hal itu mereka saling pandang dan tersenyum lebar.
Ternyata nafsu makan Afei tidak kalah dari Lu Sun, hanya kecepatan mereka saja yang sedikit berbeda.
Lu Sun sudah menyelesaikan mangkok ke 5 dan tersenyum puas, karena perutnya kini terasa kenyang.
Sedangkan A Fei baru memasuki mangkuk ke 5 nya, dia terlihat masih sibuk makan dengan sangat lahap.
"A Fei tidak perlu buru-buru, santai saja.."
ucap Giok Lan sambil memberikan minum ke A Fei takut anak itu tersedak karena makan terlalu cepat.
"Terimakasih ibu.."
__ADS_1
ucap A Fei
Setelah menyelesaikan suapan terakhir nya, dia langsung meraih gelas pemberian Giok Lan dan meminumnya sampai habis.
A Fei mengelap bibirnya yang berminyak dengan ujung bajunya.
Melihat hal itu Xue Yen mengambil tisue di meja dan memberikan ke A Fei sambil berkata,
"Nak lain kali gunakan ini..jangan gunakan baju mu.."
"Ya ibu.."
ucap A Fei tersenyum malu dan menerima tisue dari Xue Yen, untuk menghapus keringat di keningnya.
Melihat anak ini, entah kenapa Lu Sun selalu merasa anak ini seperti proyeksi dirinya ,di jaman lalu.
"Ohh ya A Fei belanjaan kedua ibu mu di mana,? kenapa tidak terlihat ?"
tanya Lu Sun.
"Ohh saya sudah membawa dan menyimpannya kedalam mobil, sesuai pesan ibu."
ucap A Fei menjelaskan.
"Ohh.. ya sudah.. kalau begitu kita pulang kerumah sekarang..."
ucap Lu Sun kemudian berjalan kearah pemilik toko mie hendak membayar.
" Pak Berapa tagihannya semua.."
tanya Lu Sun ke pemilik toko.
Sambil tersenyum lebar pemilik toko berkata,
"Sudah di bayar tuan .."
"Sayang udah beres..yuk kita pulang.."
ucap Xue Yen.
Lalu dia dan Giok Lan maju menggandeng tangan Lu Sun dari kiri kanan dan mereka berempat berjalan meninggalkan toko mie pangsit tersebut dengan santai.
Pemilik toko Mie yang mendengar panggilan Giok Lan dia baru sadar ternyata, kedua gadis cantik itu adalah istri Lu Sun.
Di dalam hati dia berkata, beruntung benar tuh kakek, bisa punya istri secantik itu sampai dua lagi.
Pantas makannya begitu banyak, dia butuh energi cadangan untuk melayani kedua istri mudanya gumam si pemilik kedai mie sambil tersenyum sendiri.
Di tempat lain Tan Kee Lok, setelah berhasil melarikan diri dari Lu Sun.
Dia kini sudah berada di bandara, di tangannya sudah memegang selembar tiket penerbangan menuju Wilayah Mongolia.
Dia terlihat sedang berdiri mengantri Cek In di depan Counter cek in bersama para penumpang pesawat lain.
Saat tiba gilirannya, petugas bandara cukup lama memperhatikannya, sebelum akhirnya memberikan cap agar dia bisa melanjutkan penerbangannya.
Meski wajahnya mencurigakan dan mirip kriminal, tapi karena tidak di temukan wajahnya di daftar buronan.
__ADS_1
petugas akhirnya membiarkan dia lolos begitu saja.
Dengan Santai Tan Kee Lok duduk di ruang tunggu menunggu panggilan pesawat menuju Mongolia.