KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
KETERKEJUTAN DEBORAH


__ADS_3

Lu San baru akan melanjutkan kata-katanya menggoda Cherry.


Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara lembut berkata.


"Maaf ganggu,... Afei aku ingin ketemu kakak San, boleh tolong antar aku untuk menemuinya ?"


"Sebentar saja,..aku janji tidak akan lama.."


ucap suara itu penuh permohonan.


Lu San yang sedang bercanda dengan Cherry langsung terdiam, wajahnya sedikit pucat.


Tidak tahu harus berkata apa, ingin rasanya dia langsung berlari keluar memeluk gadis itu dan menjelaskan semuanya.


Bahwa ucapan nya sebelumnya bersama Cherry adalah sebuah sandiwara kebohongan.


Tapi Lu San khawatir bila dia berterus terang Deborah akan benar-benar marah dan membencinya.


Karena telah menipunya hingga sedemikian rupa, di saat Lu San sedang meragu.


Cherry sambil tersenyum nakal malah mendorong kursi roda yang Lu San duduki kearah depan.


"Hei kamu mau apa,..!?"


teriak Lu San dengan suara tertahan dan tatapan mata panik.


Cherry tidak menjawabnya sambil tersenyum lebar dia terus mendorong kursi roda Lu San kedepan.


Ingin rasanya Lu San melompat berdiri, kemudian menempilingnya, hingga giginya copot semua.


Tapi itu cuma angan angan liar saja, Lu San tak mungkin tega melakukannya, karena dia sudah anggap Cherry seperti kakak perempuannya sendiri.


Dari arah luar terdengar suara Afei yang sedikit ragu, karena kini dia sangat takut dengan kakak nya yang angin anginan.


Kadang baik kadang lucu kadang sadis dan kejam sampai sulit di bayangkan akal sehat.


Sedikit mirip gurunya bila sedang marah.


Tapi kakaknya ini sepertinya jauh lebih parah.


"Tapi kak San dia,.. ahh baiklah ayo ikut dengan ku.."


ucap Afei tak berdaya, saat melihat air mata Deborah mulai runtuh.


Saat Deborah melihat dia hendak menolak permintaannya.


Baru saja mereka masuk, mereka langsung bertemu Lu San yang duduk di kursi roda sedang hendak di dorong keluar oleh Cherry.


Melihat kakaknya Afei buru buru berkata,


"Kak maaf aku..."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kamu urus hal lainnya saja di depan.."


potong Lu San sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Afei mengangguk cepat, kemudian buru-buru kembali kedepan untuk mengurus Nenek Lu dan yang lainnya.


Deborah menatap Lu San sesaat tanpa bisa berkata-kata, hanya airmatanya yang jatuh bergulir di pipinya.


Lalu dia menoleh kearah Cherry' dan berkata,


"Kak,..maaf, aku tahu ini sangat tidak sopan.."


"Tapi ku mohon ijinkanlah aku berbicara berdua sebentar saja dengan nya, untuk terakhir kalinya."


"Setelah ini,.. aku janji aku tidak akan pernah kembali kemari menganggu rumah tangga kalian berdua.."


ucap Deborah menatap Cherry penuh permohonan.


Melihat sikap Deborah, Cherry menjadi sangat terharu, dia jadi teringat dengan perpisahan dirinya dengan mantan suaminya.


Dimana mereka bertemu untuk terakhir kalinya, di kantor catatan sipil, untuk mengurus perceraian mereka berdua.


Cherry mengangguk menanggapi permintaan Deborah, lalu dia membalikkan badannya.


Berjalan pergi menjauh sambil menghapus dua butir airmata nya yang ikut jatuh bergulir di pipinya.


Setelah melihat Cherry pergi, sambil berusaha tersenyum dengan linangan air mata, Deborah langsung berlutut di depan Lu San dan berkata.


"Kamu harus mencicipinya, aku tadi selepas pulang dari sini sengaja membuatkan ini spesial untuk mu.."


ucap Deborah sambil berusaha tersenyum dan buru buru membuka kotak bekal.


Yang di dalamnya berisi kue Coy Pan, kesukaan Lu San


Dengan hati-hati Deborah menaruh kotak bekal itu di pangkuan Lu San.


Lalu dia membuka bungkus plastik yang menjadi wadah sepasang sumpit baru itu.


Deborah menggunakan sepasang sumpit mengambil sepotong Coy Pan untuk di suapkan kearah mulut Lu San.


Lu San yang sedari saat kotak bekal di buka, dimana wangi yang keluar dari kue yang masih mengepulkan uap tipis.


Dengan bentuknya yang kecil kecil sangat cantik dan menggoda selera, kulit kuenya yang begitu halus dan tipis hingga isi di dalam nya sedikit terbayang bayang.


Lu San diam diam sudah beberapa kali menelan ludahnya sendiri.


Begitu melihat Deborah sudah membawa makanan itu di depan mulutnya.


Lu San sudah tidak dapat menahan diri lagi, dia segera membuka mulutnya lebar-lebar.


Untuk menerima potongan Coy Pan yang di suapkan oleh Deborah kedalam mulutnya.

__ADS_1


Begitu masuk kedalam mulut, Sepasang mata Lu San terbelalak, Coy Pan buatan Deborah selama ini sudah sangat enak.


Tapi yang sekali ini, benar benar sangat spesial dan luar biasa.


Di dalamnya Lu San merasakan ada potongan jamur, bengkuang halus, daging udang, B*bi panggang, bebek panggang.


Sehingga rasanya sungguh luar biasa lezat, dan sulit di ungkapkan lewat kata-kata.


Lu San sampai memejamkan matanya saking nikmatnya, dia menikmati rasa makanan di dalam mulutnya itu.


Deborah tersenyum bahagia melihat reaksi Lu San atas masakan terakhir yang dia siapkan untuknya.


Ada satu hal yang Lu San, tidak tahu.


Itu adalah adonan kulit kue Coy Pan ini, di buat oleh Deborah sambil berurai airmata nya yang jatuh menitik kedalam adonan tersebut.


Deborah terus membantu menyuapi Lu San sepotong demi sepotong, sambil tersenyum bahagia, meski airmata sesekali masih menitik di pipinya.


Saat tersisa potongan terakhir, sumpit Deborah sedikit gemetar saat mau mengambil potongan terakhir tersebut.


Sambil memaksakan diri untuk tersenyum, Deborah akhirnya mengambil potongan tersebut sambil membantu menyuapi nya, kedalam mulut Lu San.


Deborah pun berkata,


"Kak San setelah ini, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi."


"Dari sini, aku akan langsung ikut dengan kedua orang tua ku kembali ke London."


"Kedua orang tua ku sedang menanti ku di mobil."


"Aku tidak bisa lama di sini, setelah aku pergi kamu harus jaga dan rawat diri mu baik'baik."


"Jangan membuat aku khawatir.."


"Berjanjilah padaku,.. kak San.."


ucap Deborah sambil menggunakan sepasang tangannya memegang wajah Lu San dengan air mata bercucuran.


Lalu dia dengan perlahan-lahan mendekatkan bibirnya untuk memberikan ciuman terakhir.


Deborah ingin menjadikan nya, sebagai ciuman perpisahan yang akan menjadi kenangan terindah dalam hidup nya.


Yang tidak dia sangka sehingga sepasang matanya terbelalak lebar tak percaya.


Adalah saat bibir mereka saling bertaut, Lu San menggunakan kedua tangannya dengan lembut menghapus airmata di pipinya.


Lalu meraih kepalanya dengan lembut, da ******* bibirnya dengan lembut memberikan sebuah ciuman yang panjang hangat dan mesra, meluapkan semua emosi dan perasaan nya yang selama ini dia tahan tahan.


Perlahan-lahan Lu San berdiri dari kursi rodanya, dia membantu Deborah untuk berdiri dihadapannya, sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang Deborah yang langsing dengan lembut.


"Sayang aku sangat sangat mencintai mu, percayalah, aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu mendampingi ku.."

__ADS_1


__ADS_2