
"Benarkah mantu ku, kamu tidak sedang menipu wanita tua ini kan ? Kamu ikut berangkat bersama dengan kami kan ?"
"Itu benar ibu, aku tidak menipu mu, tapi aku tidak bisa berangkat bersama kalian, karena visa ku mati harus di urus dulu."
Jawab Lu Sun beralasan.
"Viona suami mu tidak bisa ikut, ibu tidak percaya dengan wajah genitnya yang tukang selingkuh."
"Sebaiknya kita batal berangkat saja, lebih baik kita awasi dia di sini saja."
"Daripada nanti pulang dia sudah meninggalkan kita ikut bersama si jalang yang menelponnya kemarin itu.
ucap ibu Viona serius sambil menatap Viona lekat-lekat.
Viona menjadi grogi, dia sulit berkata-kata dengan ibunya yang stress ini.
Viona menatap Lu Sun dengan tatapan tak berdaya.
Lu Sun menghela nafas sedang berpikir keras bagaimana menghadapi nenek Ervan yang lebih sulit daripada memberantas musuh-musuhnya.
"Ibu tiket dan semua perlengkapan sudah di siapkan tidak mungkin di batal begitu saja."
"Saya janji paling lama seminggu, saya akan susul kalian di sana."
"Tidak kita kembali ke apartemen saja, pak supir putar arah aku mau pulang kerumah aku tidak mau keluar negeri."
ucap ibu Viona ke Lu Sun dan supir.
Supir terlihat ragu-ragu, dia melihat kearah Lu Sun meminta pendapat Lu Sun.
Lu Sun memberi kode agar supir terus jalan jangan berhenti.
Melihat hal itu, nenek Ervan dengan marah berkata,
"Heh supir kamu tuli ya ? aku suruh kamu putar arah kenapa kamu terus melaju kedepan.?"
"Aku katakan kepada kalian, bila mobil ini tidak putar balik aku akan lompat dari mobil ini."
Ancaman nenek Ervan berhasil membuat seisi mobil panik.
Viona hanya bisa merangkul dan berkata dengan terisak,
"Ibu ku mohon jangan...jangan seperti ini ibu..Viona mohon Bu...hu...hu...hu...!"
Lu Sun dalam kebingungan tanpa berpikir panjang lagi dia berkata,
"Ibu jangan seperti ini, ayah pasti sedih di sana bila lihat ibu begini keras kepala."
__ADS_1
Ibu Viona tiba-tiba berhenti berontak dengan gugup dia berkata,
"Apa...apa..apa maksud mu mantu ku ?"
Lu Sun menghela nafas panjang, dia terpaksa berbohong kalau tidak tentu akan merepotkan.
"Ibu ayah sudah ada di sana duluan, apa ibu tidak mau bertemu ayah yang sedang menunggu kedatangan kalian disana.?"
"Ya sudah kalau ibu tidak mau berangkat, kita kembali kerumah, tapi ibu jangan nyesal ya ? karena tidak ada kesempatan kedua kalinya."
"Demi keberangkatan ini aku sudah menghabiskan seluruh tabungan ku dan Viona, bila di batalkan sekarang, maka tabungan kami akan hangus percuma."
Ibu Viona terlihat ragu dia menatap Viona dan berkata,
"Anak ku be.. benarkah yang dia katakan, manusia licik itu tidak sedang menipu kan ?"
Lu Sun menghela nafas menahan sabar, di dalam hati dia mengumpat,
"Dasar wanita gila, berulang kali kamu memaki dan menghina ku, bahkan berani memanggil istri ku jalang.."
"Bila bukan memandang David yang sedang sibuk bekerja keras untuk ku, sekali tunjuk ku kirim kamu ketemu paman istri ku si raja akherat."
Viona memandang ibunya dengan tak berdaya dan mengangguk kan Kepalanya sambil bercucuran air mata.
"Hei Samuel kamu dengar baik-baik, kalau kamu berani berhubungan dengan si jalang itu."
"Camkan itu baik-baik di otak mu yang cabul itu, aku benar-benar heran dengan anak ku, bisa tergila-gila sama pria seperti kamu."
"Tidak tahu apa yang dia lihat dari mu, dilihat dari tampang jelas lebih ganteng David jauh."
"Dilihat dari bentuk badan sekali lihat juga tahu, badan besar otak kecil, cuma gentong nasi tak berguna seperti kuli bangunan."
"Banyak teman-teman ku dulu yang bilang badan besar tongkat kecil, kurasa punya mu itu juga gak gede-gede amat."
Supir yang sedang nyupir berusaha menahan tawa hingga wajahnya menjadi merah dan beberapa kali terbatuk-batuk.
Lu Sun kesal sampai tidak tahu mau bicara apa lagi, beberapa saat kemudian Lu Sun pun berkata,
"Ibu tolong percaya pada ku, Aku Samuel bersumpah bila aku selingkuh dari Viona biar aku mati mengenaskan bersama selingkuhan ku, bagaimana ibu sudah puas."
"Begini lebih baik, anggap saja kamu masih tersisa sedikit hati nurani yang hampir habis ditelan Anj*Ng."
Akhirnya nenek gila itu bisa di tenangkan kembali setelah mendengar sumpah Lu Sun.
Lu Sun sengaja menggunakan nama Samuel untuk bersumpah, karena Samuel dan istrinya, telah pergi duluan menghadap paman Giok Lan.
Tak lama kemudian mobil sudah memasuki kawasan bandara, Lu Sun meminta supir membelok ke bandara private
__ADS_1
Di mana di sana khusus tempat parkit pesawat jet pribadi.
Sopir sedikit ragu, tapi dia tetap mengikuti petunjuk dari Lu Sun, bila nanti salah tempat juga bukan masalah baginya.
Paling-paling Lu Sun yang akan di amuk oleh mertuanya yang super galak dan bawel.
Tapi supir taksi terkejut saat mobilnya tiba, Lu Sun sudah di tungguin seorang bule berkepala botak.
Sepertinya si botak itu yang memberi jaminan ke pos pemeriksaan, sehingga mobil taksinya bisa melaju melewati pos jaga tanpa perlu pemeriksaan.
Si sopir taksi menjadi bengong saat melihat pesawat jet pribadi yang canggih dan terlihat masih baru terparkir di sana sedang menanti kedatangan mereka.
Dua orang pramugari cantik bergegas datang menghampiri mobil taksi tersebut.
Mereka kemudian berdiri dengan kedua tangan dirapatkan didepan dada memberi hormat sambil tersenyum dan berkata,
"Selamat datang, selamat menikmati penerbangan kami."
Kemudian mereka membantu membawakan tas Viona dan ibunya, untuk di masukkan ke bagasi pesawat.
Lu Sun menemani mereka masuk kedalam pesawat.
Viona dan ibunya terkagum-kagum melihat ke canggihan interior di dalam pesawat mewah tersebut.
"Mantu ku kelihatannya kamu mulai terlihat sedikit lebih berguna sekarang, tak percuma aku menikahkan putri ku pada mu."
Viona hanya tersenyum canggung melihat Lu Sun, dia merasa sangat tidak enak hati dengan bos nya David ini.
Lu Sun berusaha tersenyum dan berkata,
"Baguslah bila ibu menyukainya.
Lu Sun melambaikan tangan ke George agar mendekat, lalu berkata,
"Kenalkan namanya George, dia akan mengatur dan membantu keperluan kalian di sana."
"Bila kalian membutuhkan apa beritahukan saja padanya."
"George tolong di bantu, yang ini Viona, yang ini ibunya dan ini Ervan anak Viona, ku percayakan mereka pada mu."
"Tolong di bantu ya George.."
ucap Lu Sun sambil menepuk bahunya George.
"Tentu, tuan tidak perlu khawatir.."
ucap George sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
__ADS_1