
Lu Sun memasukkan sebutir batu mutiara es abadi kedalam mulut Ying Ying, kemudian dia menyalurkan energi Chi nya kedalam tubuh Ying Ying.
Setelah itu dia baru melepaskan pegangan tangannya.
Kini setelah terlindung oleh mutiara es abadi, energi yang Lu Sun salurkan tidak lagi buyar tertahan di dalam tubuh Ying Ying.
Sehingga tubuh Ying Ying tidak berubah, dia terlihat seperti orang sedang tidur panjang.
Hanya saja dari seluruh tubuhnya memancarkan hawa dingin, seperti kabut tipis yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Lu Sun kemudian berdiri di sisi tubuh Ying Ying yang terbaring menatap Ying Ying dengan mesra sambil tersenyum lembut.
Setelah menghapus airmatanya, Lu Sun menelpon Kevin Liu ayah kandung Ying Ying.
Begitu telpon tersambung dan langsung di angkat.
Lu Sun pun berkata,
"Ayah datang lah kemari, aku dan Ying Ying menunggumu di rumah sakit Zhong Da.."
"Apa..apa.. yang terjadi kenapa kalian dirumah sakit ? siapa yang sakit ? Ying Ying sakit kah ?"
tanya Kevin Liu khawatir.
Lu Sun berusaha tenang dan berkata,
"Ayah datang saja kemari, aku tidak bisa jelaskan di telpon.. hati-hati di jalan.."
Telpon di matikan oleh Lu Sun, yang sudah tidak kuat berbicara lebih lama lagi.
Lu Sun kembali terduduk lesu, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dengan bahu berguncang-guncang menahan sedu sedan yang keluar dari tenggorokannya.
Prof Billy yang melihat hal itu segera menelpon Xue Yen.
"Nak kamu di mana saat ini ?"
tanya Prof Billy begitu telpon diangkat dari seberang sana.
"Aku sedang masak makan siang, ada apa ayah ?"
tanya Xue Xue heran.
"Terjadi sesuatu dengan Ying Ying kamu segeralah datang kemari untuk hibur Lu Sun.."
"Apa..apa .. yang terjadi..? bukankah Ying Ying pergi ke yayasan ? Lu Sun dan Giok Lan pergi ke sekolah Lu San, kenapa sekarang bisa ada di rumah sakit..?"
tanya Xue Yen heran.
"Kamu datang saja kemari, hati-hati di jalan.."
ucap Prof Billy ingin mematikan HP nya.
"Tunggu...!!"
terdengar suara Lu Sun yang cemas.
__ADS_1
"Ada apa ?"
tanya Prof Billy heran.
"Minta Xue Xue datang bersama nenek, dia tidak boleh berangkat sendirian."
ucap Lu Sun serius.
"Nak suami mu minta kamu harus datang bersama nenek.."
ucap prof Billy menyampaikan pesan Lu Sun.
Xue Yen mengangguk dan berkata,
"Baiklah sebentar lagi aku kesana..tolong bantu awasi dia.."
Xue Yen tidak banyak bertanya lagi, dari suara ayahnya dan Lu Sun barusan dia yakin mereka pasti menyimpan sesuatu darinya.
Bila ingin tahu jelas dia harus segera berangkat ke Rumah Sakit.
Xue Xue langsung menghubungi nenek yang berada di ruang rahasia dengan HP nya.
Xue Xue tidak bisa keluar masuk ruang rahasia, karena yang punya akses selain nenek Lu Sun hanya Ying Ying.
Meski Xue Xue menguasai langkah ajaib dan masih mengingatnya, tapi kunci masuk dia tidak memegang nya.
"Ya ada apa Xue Xue ?"
tanya nenek sedikit heran.
Nenek mengangguk dan berkata,
"Kamu tunggu sebentar aku sebentar lagi keluar.."
Nenek orang berpengalaman, tidak usah di jelaskan pun dia tahu pasti terjadi sesuatu pada Ying Ying atau Lu Sun.
Untuk tahu lebih jelas dia harus segera kesana bersama Xue Xue.
Tak lama kemudian terlihat Xue Xue meninggalkan kediaman keluarga Lu bersama nenek dengan menggunakan mobil Limousine yang di kendarai oleh supir.
Baru saja mobil mereka menuruni bukit sebuah mobil hitam dan 4 motor mulai mengikuti mereka dari belakang.
Lalu pengemudi motor mulai mengeluarkan senjata mereka menembaki mobil Limousine anti peluru milik nenek Lu.
peluru berdesingan menembus mobil Anti peluru seperti menembus kaleng, ternyata mereka menggunakan peluru khusus.
Sopir nenek langsung tewas ditempat, mobil meluncur tak terkendali menabrak tembok pembatas jalan.
Nenek mendorong tubuh Xue Yen agar tiarap ke bawah, nenek Lu memencet tombol membuka atap mobil.
Lalu dia melesat keluar dari sana dan langsung melepaskan serangan kearah ke 4 pengendara, yang sedikit terkejut melihat nenek Lu bisa melayang diudara.
Belum habis kaget mereka, tubuh mereka telah berubah menjadi Patung es.
Dengan 4 kali menendang kearah ke 4 orang itu, tubuh mereka hancur berantakan berserakan menjadi serpihan kecil.
__ADS_1
4 orang keluar dari mobil, langsung memberondongi nenek dengan serangan senapan mesin Laras panjang mereka.
Tapi sebelum tembakan mereka mengenai nenek, nenek kembali menghilang dari hadapan mereka sambil melepaskan pukulan Tapak es abadi nya.
Ke 4 orang itu tidak sempat menghindar, tubuh mereka Kembali membeku menyusul keempat pengendara motor yang tewas duluan.
Dengan 4kali tebasan jarak jauh, 4 buah bayangan cakar bersinar kebiruan menghancurkan tubuh ke 4 orang itu.
Kini hanya tersisa si pengendara mobil, yang langsung memundurkan mobilnya hendak melarikan diri.
Tapi sebuah pukulan yang di lontarkan oleh nenek mengenai mobil tersebut, membuat mobil beserta penumpangnya kini membeku jadi es.
Nenek dengan santai kembali ke mobil dan berkata,
"Xue Xue sudah aman, ayo kamu kendarai mobil ini ke rumah sakit.."
Xue Yen mengangguk, dia lalu buru-buru mendorong supir yang telah tewas keluar dari mobil mereka.
Lalu mengendarai mobil tersebut menuju rumah sakit.
Setelah nenek menghabisi 9 orang pembunuh bayaran yang di utus untuk menghabisinya, kini mereka dapat meluncur ke rumah sakit dengan aman.
Di rumah sakit di kamar VVIP terlihat Prof Billy sedang menelpon Jimmy Huang.
"Jimmy Kamu tolong Carikan peti mati yang menggunakan penutup kaca transparan, segera antarkan ke rumah sakit Zhong Da sekarang.."
"Baik prof...ditunggu sebentar.."
ucap Jimmy Huang patuh, dia tahu pasti ada keperluan dadakan sehingga mertua bosnya menghubunginya.
"Kamu juga tolong minta Peter Ho pergi ke sekolah mengawal nyonya muda Giok Lan dan Lu San untuk datang kemari."
ucap prof Billy cepat.
"Baik prof..ada lagi yang lain ?"
tanya Jimmy Huang cepat.
"Tidak ada itu saja.."
ucap Prof Billy singkat, lalu mematikan HP nya.
Setelah itu dia langsung menelpon Viktor, begitu tersambung dia langsung berkata,
"Vik segera kemari bos membutuhkan mu.."
Viktor mengangguk cepat, dia yang sedang di jalan segera melarikan mobilnya menuju RS Zhong Da.
Karena yang menelponnya prof Billy, tanpa harus di beritahu, Viktor sudah bisa menebak di mana posisi bosnya saat ini.
Lu Sun sendiri terduduk lesu di kursi sofa, seperti orang linglung yang kehilangan arah dan tujuan.
Di pikiran nya hanya terus muncul berbagai kenangan masa lalunya bersama Ying Ying.
Suara canda dan tawa Ying Ying terus menghiasi pikiran alam bawah sadarnya.
__ADS_1