
Saat Lu Sun sedang termenung, tiba-tiba HP nya bunyi, Lu Sun pun tersadar dari lamunannya.
Dia buru-buru mengeluarkan HP dari saku bajunya, melihat yang menelpon adalah anaknya Lu San.
Sambil berjalan dengan langkah terburu-buru, Lu Sun mengakar telponnya dan berkata,
"Ya nak.. kenapa..?"
"Ayah di mana ? kami sudah di parkiran nih.."
ucap Lu San gak sabar.
"Ya...ya..sabar ya..ayah segera kesana ya.."
"Barusan ayah di panggil kepala sekolah, jadi agak sedikit terlambat,. sebentar..ini ayah sedang jalan ke sana.."
ucap Lu Sun merasa bersalah.
Karena urusan nya dengan Ting Ting, membuatnya mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ayah.
"Ohh gitu..ya sudah kita tunggu aja.."
ucap Lu San lalu mematikan panggilan nya.
Afei memilih diam saja, sambil menggendong Dan er yang bermanja-manja dalam gendongan kakaknya.
Afei sebenarnya kurang setuju dengan sikap San er, yang kurang sopan terhadap ayahnya sendiri.
Tapi dia milih diam saja, karena tidak ingin ribut ribut dengan kakaknya.
Meski usianya lebih kecil, tapi sikap Afei jauh lebih dewasa dan tenang di banding Lu San.
Mungkin ini karena faktor tempaan kesulitan hidup sejak kecil, dan faktor penguasaan berbagai ilmu silat kelas tinggi.
Tak lama kemudian Lu Sun pun tiba, di lapangan parkir, dia buru-buru membuka pintu mobil dan berkata,
"Anak anak maaf ayah sedikit terlambat, ayo kita pulang sekarang."
Tanpa banyak bicara ketiga Anaknya langsung masuk ke dalam mobil dan duduk manis di bangku bagian belakang.
San er langsung membuka lemari pendingin, di dalam mobil, mengeluarkan 4 botol minuman dingin.
Dia memberikan ke kedua adiknya satu orang satu, lalu dia membantu membuka penutup botol minuman di tangannya.
Baru dia menyodorkan ke Lu Sun dan berkata,
"Ayah minum dulu, biar segar.."
Lu Sun menerima nya dan berkata,
__ADS_1
"Makasih nak.."
Setelah melihat ayahnya minum, Lu San baru ikut meminum minuman dingin di tangannya.
Setelah minum, ketiga anak itu melakukan sendawa serempak, lalu mereka tertawa-tawa ceria.
Melihat hal ini, lewat kaca spion Lu Sun pun tersenyum lebar, menyaksikan kekonyolan ketiga putranya.
Beberapa saat kemudian Lu Sun yang sudah mandi dan segar, begitu pula Ketiga anaknya, mereka berempat terlihat sedang makan dengan lahap di temani oleh Xue Yen dan Giok Lan.
Yang membantu mengambilkan dan mengupaskan udang ikan ayam ke piring Lu Sun Lu San Afei dan Lu Dan.
Pola makan Afei dan Lu Sun sangat mirip, mereka makan tanpa banyak bicara, begitu fokus dan menikmati makanan di hadapan mereka
Porsi makannya juga sangat luar biasa, tapi herannya tubuh mereka berdua tidak ada yang gemuk.
Malah terlihat kekar dan kencang otot-otot nya.
Berbanding terbalik dengan Lu San dan Adiknya yang makannya termasuk normal, tapi daging di tubuh mereka agak kendor, di bagian perut pun agak buncit dan berlemak.
Saat makan pun mereka berdua sibuk bercerita dengan penuh semangat.
"Ma tahu tidak hari ini di sekolah terjadi kehebohan besar loh ?"
ucap San er penuh semangat.
Giok Lan sambil mengupas daging kepiting buat suami nya, dia bertanya,
"Ini mama Giok, tadi di sekolah terjadi pertengkaran hebat antara guru baru yang mengajar robotika dengan guru Ken yang mengajar beladiri.."
"Gak tahu gimana ceritanya, polisi sampai datang loh kesekolah, akhirnya 10 murid jagoan beladiri dan guru Ken di tangkap dan di giring ke kantor polisi...'
cerita San er dengan heboh tapi sepenggal sepenggal, karena yang dia tahu memang tidak banyak.
Lu Sun pura-pura tidak tahu dan terus makan, makanan di hadapannya, malah dia kembali menambah nasi di piringnya.
Melihat hal ini Xue Yen menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kamu ini gak berubah, kalau ada Lu Fan dia pasti akan kembali berikan baskom nasi buat mu.."
Lu Sun melirik kearah istrinya, sambil tersenyum, dia kembali melanjutkan makannya tanpa banyak membantah.
"Sun ke ke kamu pasti tahu lebih jelas soal ini, coba cerita dong ?"
ucap Giok Lan sambil memberikan minum ke Lu Sun.
Lu Sun menghentikan makannya sejenak kemudian dia minum air putih dari Giok Lan baru berkata,
"Guru Jepang biadab itu sengaja melindungi muridnya, yang melakukan pelecehan terhadap siswi di sekolah kita."
__ADS_1
"Guru Ciu menegurnya, dia tidak terima malah mencoba melecehkan guru Ciu diruang ganti."
"Karena tidak tahan lagi melihat tingkah laku nya, aku pun menghajarnya dan menyerahkan nya ke polisi.."
ucap Lu Sun santai, lalu kembali meneruskan makan nya.
"Guru Ciu itu cewek ya ?"
tanya Xue Yen curiga.
Lu Sun cuma mengangguk kecil tanpa mengangkat kepalanya.
Xue Yen menatapnya dengan curiga dan berkata,
"Wah. ( Engsiong Ciu Mei ) pahlawan menolong wanita cantik dong...hebat bapak mu hari ini ."
Lu Sun menangkap nada sinis dan menyindir, tapi dia sudah biasa dengan sikap Xue Yen.
Jadi dia pun pura-pura budeg dan terus melanjutkan makannya.
Giok Lan hanya tersenyum kecil melihat sikap Xue Yen dan Lu Sun.
Tiba-tiba San er dengan cerewet berkata,
"Benar ibu Xue, guru Ciu bukan hanya muda dan cantik, tapi wajahnya sangat mirip dengan Mami, nih lihat San er ada fotonya..."
Dengan gaya kepo Lu San menunjukkan foto di HP nya ke Xue Yen.
Xue Yen buru-buru mengambil HP San er dan melihat foto yang di tunjukkan San er.
Dia bahkan memperbesar gambar fotonya, untuk bisa melihat dengan lebih jelas.
Giok Lan pun dengan penasaran berdiri dari kursinya, merapat ke arah Xue Yen ikut melihat.
Setelah melihat foto tersebut kedua wanita itu mengerutkan alisnya dan saling pandang.
Lalu mereka mengalihkan tatapan mata mereka yang setajam silet kearah Lu Sun suami mereka.
Yang sedang tersedak makanan dan sedang batuk hebat sampai wajahnya merah semua.
Melihat aksi ayahnya, San er tertawa nakal sambil meletakkan lidahnya,. dia memberi kode pada Afei untuk segera membawa Lu Dan mengikutinya meninggalkan meja makan.
Lu Sun tadinya sedang makan dengan nikmat, tapi saat mendengar ucapan San er, wajah nya langsung pucat, apalagi saat San er memberikan foto Ting Ting ke Xue Yen.
Karena panik Lu Sun yang terburu-buru ingin menghentikan aksi San er, dia malah tersedak daging ayam lada hitam.
Sehingga batuknya pun menjadi jadi dan sulit berhenti, meski sudah menghabiskan air putih di hadapannya.
Melihat keadaan Lu Sun Giok Lan tidak tega, dia buru-buru memberikan air putih miliknya ke Lu Sun sambil membantu menepuk-nepuk lembut punggung suaminya.
__ADS_1
.