KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
MULAI PULIH.


__ADS_3

"Kalian berdua terimakasih banyak ya, sudah menemani San er sampai ke rumah."


"Siapa nama kalian..?"


ucap Lu Sun sambil menoleh kearah mereka, sambil melepaskan tangannya dari kedua lutut San er.


"Nama ku Alicia Om.."


"Nama ku Deborah Om "


ucap kedua gadis itu menjawab pertanyaan Lu Sun.


Lu Sun melirik sekilas kearah Alicia, bocah perempuan ini yang membuat Lu San dan Afei bertengkar, emang cukup cantik pikir Lu Sun dalam hati.


Semoga saja kedepannya gadis ini tidak menjadi sumber pertengkaran Afei dan San er.


Melihat Afei sudah berdiri dan bersiap siap, Deborah pun berkata,


"Om kami pamit permisi dulu,.."


Alicia mengikuti Deborah menganggukkan kepalanya ke Lu Sun.


Lu Sun mengangguk dan berkata,


"Kalian pergilah.."


"Ayah ibu,.. aku kesekolah dulu.."


ucap Afei sambil memberi hormat ke Lu Sun Giok Lan dan Ying Ying.


Lu Sun dan Ying Ying yang membalas ucapan Afei.


Sedangkan Giok Lan dia terlalu mencemaskan kondisi Lu San yang kini sedang tertidur pulas.


Sehingga dia tidak menanggapi ucapan Afei.


Tanpa banyak bicara lagi, Afei dan kedua gadis itu langsung kembali ke sekolah.


Tak lama Afei pergi sebuah mobil ambulance memasuki halaman depan rumah Lu Sun.


Beberapa petugas medis segera menurunkan kursi roda dan berbagai perlengkapan gips kaki patah.


Setelah semuanya di terima oleh Aliu dan beberapa petugas keamanan, mobil ambulance itu pun meninggalkan kediaman Lu Sun kembali kerumah sakit.


Aliu dan beberapa petugas keamanan, segera membawa semua perlengkapan dan kursi roda ke ruangan tengah di mana Lu Sun berada.


Melihat semua perlengkapan sudah datang dengan hati-hati Lu Sun di bantu Giok Lan mulai menggips kaki Lu San.


Saat selesai, dan di pindahkan ke kursi rodanya, Lu San pun bangun dari tidurnya dan berkata,


"Ayah aku tidak mau ke kamar ku, aku ingin beristirahat di ruang rahasia saja."


Lu Sun mengangguk dan berkata,

__ADS_1


"Boleh tapi kamu tidak boleh terus bersembunyi di sana, itu tidak akan membantu pemulihan kaki mu.."


"Aku tahu ayah, setiap pagi aku akan keluar mandi sarapan berjemur, setelah itu aku baru akan kembali ke dalam.."


Lu San kini tidak merasa kesakitan lagi, dia hanya merasa kaku saja.


Salf hitam penyambung tulang yang Lu Sun oleskan sebelum lutut Lu San di perban,


terbukti sangat manjur.


Bahkan menurut Wu Song menantunya Salf hitam itu, bahkan dapat menyambung tangan dan kaki yang putus sekalipun.


Tapi harus segera di olesi Salf itu sebelum 1x24 jam, lewat dari itu sudah tidak bisa lagi.


Hanya saja hal itu hanya sebatas ucapan yang Wu Song dengar dari tabib Dewa.


Belum ada bukti nyata, kecuali pada hewan yang di gunakan oleh tabib Dewa sebagai percobaan.


Mengikuti permintaan anaknya Lu San pun di antar masuk kedalam kamar rahasia oleh Lu Sun Ying Ying dan Giok Lan.


"San er katakan pada ibu, siapa yang begitu kejam membuat mu seperti ini.?"


"Biar ibu potongkan kedua kaki dan tangannya untuk mu.."


ucap Giok Lan geram.


Lu San tersenyum dan berkata,


"Tidak usah ibu, balas membalas tiada habisnya."


"Semua ini terjadi karena ketidak mampuan San er, jadi tidak bisa menyalahkan orang lain."


"Dalam suatu pertarungan mati hidup adalah sebuah resiko, apalagi cedera dan terluka, semua itu adalah wajar dalam hukum sebab akibat ."


ucap Lu San berusaha menenangkan ibunya.


Giok Lan menghela nafas panjang dan berkata,


"Kamu semakin dewasa dan mengagumkan nak, ibu bangga pada mu."


Hubungan Giok Lan dan Lu San memang sangat dekat, karena sejak kecil, anak ini lebih dekat dengan Giok Lan ketimbang Ying Ying.


"Ayah ibu kalian pasti masih ada urusan lain, kalian pergilah, mengurusnya."


"Tinggalkan saja San er sendiri disini.."


ucap Lu San sambil berusaha terlihat ceria.


Lu Sun mengangguk, tapi Giok Lan dan Ying Ying mereka berlutut di sisi kanan kiri Lu San dan berkata,


"Nak bagaimana bila kami menemani mu di sini.."


Lu San menepuk punggung tangan Giok Lan dan Ying Ying, lalu berkata.

__ADS_1


"Ibu biarlah San er menenangkan diri sendirian di sini, San er sedang ingin sendirian.."


"Baiklah nak, bila kamu memerlukan sesuatu goyang kan lonceng ini, ibu akan tahu."


ucap Giok Lan sambil memberikan sebuah lonceng kecil pada Lu San.


Lonceng itu terhubung dengan gelang yang dia pergunakan, bila lonceng di goyang otomatis gelang di tangan Giok Lan akan bergetar, karena kedua benda itu saling terhubung secara ajaib.


Lu San menatap lonceng di pangkuannya, kemudian dia berkata,


"Terimakasih mama Giok.."


Giok Lan mengangguk kecil


Lalu mereka bertiga sambil bergandengan tangan meninggalkan taman rahasia.


Setelah bayangan punggung Ketiga orang tuanya menghilang dari hadapannya.


Kini hanya tersisa Lu San seorang diri, dia mulai merasa kesepian menghinggapi perasaannya.


Lu San sejak terluka sampai saat ini berusaha terlihat tegar dan baik baik saja.


Padahal dia tidak lah setegar yang terlihat diluar.


Kini setelah seorang diri, airmata mulai mengucur deras membasahi pipinya.


Bukan rasa sakit di lututnya yang membuatnya mengalirkan air mata.


Melainkan rasa kecewa sesal marah dan rasa tidak berdaya lah yang membuat dia sangat sedih.


"Lu San.. Lu San...kamu sungguh menyedihkan.. sebagai putra keluarga Lu kamu sungguh memalukan.."


"Hanya melawan seorang bocah perempuan kecil, kamu bisa jadi seperti ini.."


"Kamu sungguh kelewatan, memalukan dan sangat menyedihkan."


"Sekarang setelah menjadi manusia setengah lumpuh, apalagi yang bisa di harapkan dari mu.."


"Mengapa kamu tidak mati saja..."


gumam Lu San memaki dirinya sendiri, melepaskan rasa kesal dan kecewa pada dirinya sendiri.


"Tidak,..aku tidak boleh menyerah begini saja, aku harus berusaha untuk bangkit."


Lu San memejamkan matanya, dan mencoba dengan hati hati mengirim tenaga mengalir kearah lututnya.


Lalu berputar putar di sana kemudian berpindah mengelilingi seluruhnya tubuhnya., baru berkumpul kembali ke Tan Tian.di bawah pusarnya.


Hari demi hari berlalu dengan cepat, tak terasa sebulan pun berlalu.


Pagi itu , terlihat di taman samping seorang gadis belia sedang mengandeng tangan seorang pemuda berlatih berjalan selangkah demi selangkah.


Gadis itu adalah Deborah, dan pemuda tampan bertubuh tinggi besar berwajah tampan cakap mirip Ying Ying dengan sepasang mata dan alis mirip Lu Sun, dia lah Lu San.

__ADS_1


Lu San gipsnya sudah di lepas, lututnya sudah sembuh, kini dia sedang melancarkan pergerakan kakinya yang kaku.


Beberapa kali Lu San kehilangan keseimbangan hampir terjatuh, untungnya ada Deborah yang selalu dengan sabar menjadi penyangganya dan membantu dia berdiri kembali .


__ADS_2