KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
BATASAN JAM BERKELIARAN DI SEKOLAH


__ADS_3

"Aku Afei hanya seorang anak kecil biasa, bisa mendapatkan perhatian dari pak presiden dan para pejabat tinggi negara itu adalah suatu berkah tak terhingga."


"Tapi dengan sangat menyesal aku harus minta maaf kepada pak presiden, Afei tidak bisa menerima tawaran tersebut."


"Afei sudah menerima limpahan Budi yang sangat besar dari guru ku, di dalam hati ku sejak awal, aku telah bersumpah.'


"Aku Afei lahir di keluarga Lu, matipun akan menjadi hantu keluarga Lu."


"Dalam kehidupan ini, untuk membalas Budi besar guru ku, aku telah bersumpah pada diri ku sendiri seumur hidupku ini, aku hanya akan mengabdikan hidup ku buat keluarga Lu.'


Lu Sun tersenyum dan berkata,


"Afei kamu tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan, saat ini umur mu juga baru 13 tahun."


"Mungkin setelah 7 atau 8 tahun kemudian setelah usia mu makin matang, saat itu kamu baru mengambil keputusan, tentang tawaran pak presiden juga belum terlambat.."


ucap Lu Sun dengan bijak menanggapi keputusan yang Afei ambil.


Presiden Xi dan Paman Mao saling pandang sejenak, kemudian presiden Xi melanjutkan berkata,


"Kelihatannya memang yang terbaik adalah yang seperti Sun er katakan.."


"Baiklah kami akan menunggunya."


"Afei kapan pun kamu berubah pikiran silahkan langsung hubungi saya, pintu kami setiap saat selalu terbuka untuk menyambut kedatangan anda bergabung dengan kami.."


"Ini kartu nama ku, terima dan simpan baik-baik..'


ucap presiden Xi sambil memberikan kartu namanya pada Afei.


Afei menerimanya dengan kedua tangannya dan, berkata.


Terimakasih banyak pak presiden.."


Presiden Xi menanggapinya dengan senyum ramah dan menepuk-nepuk lembut bahu Afei.


Setelah itu dia baru menghadap kearah Lu Sun dan berkata,


"Sun er aku tidak bisa lama lama, masih ada kesibukan lain menanti ku."


"Aku permisi dulu.. sampai jumpa.."


ucap presiden Xi mengulurkan tangannya menyalami satu persatu rombongan Lu Sun.


San er yang berdiri di belakang sana, tidak berkata apa-apa, tapi sepasang mata nya menyorotkan dia sedikit iri dengan Afei.

__ADS_1


Di dalam hati San er bersumpah, dia akan berusaha keras, dia tidak percaya bila kemampuan tergantung dari bakat.


Dia hanya percaya, asal ada niat dan usaha di situ pasti ada jalan, yang terbuka baginya untuk menuju kesuksesan.


Setelah presiden Xi paman Mao dan menteri pendidikan Pak Wei pergi, Lu Sun pun terlibat obrolan santai dengan Pak Ma.


Mereka membicarakan tentang pertandingan basket yang akan di selenggarakan 3 bulan mendatang, dan perlombaan memanah yang akan di selenggarakan bulan depan.


Lu Sun saat ditanya mengenai siapa kandidat yang paling cocok mengikuti perlombaan.


Dia menyerahkan sebuah agenda yang berisi nama kandidat yang cocok untuk maju mewakili sekolah Kuang Ming di ajang lomba nanti.


Pak Ma menerima buku Agenda tersebut dengan sangat gembira.


Tiba-tiba Giok Lan, menyenggol tangan Lu Sun dan berbisik pada suaminya


"Sayang aku kebelet nih, mau ke Toilet dulu, di mana ya letaknya..?"


Mendengar pertanyaan istrinya, dengan tidak enak hati, Lu Sun bertanya kepada pak Ma.


"Pak toilet terdekat di sini di mana ya ?"


Pak Ma langsung berkata,


Pak Ma terpaksa menghubungi Guru Ciu dan guru Lin untuk menemani Giok Lan ke toilet.


Pak Ma tidak ingin terjadi sesuatu yang mengagetkan istri Lu Sun.


Dengan pergi beramai ramai setidaknya bisa menghindari keangkeran yang sering terjadi di sekitar Toilet wanita.


Apalagi saat ini sudah jam 5 sore, sudah 2 jam melewati batas waktu larangan berkeliaran di sekolah yang di tetapkan secara tidak tertulis.


Yaitu Sebelum jam 7 pagi dan sesudah jam 3 sore, di sekolah ini selain Paman Lau, petugas kebersihan sekolah.


Tidak ada yang berani berkeliaran, setelah melewati batasan jam yang sudah di tetapkan secara tidak tertulis itu.


Bahkan para petugas keamanan sekolah mereka hanya berjaga di gerbang depan dan berkeliling di seputar halaman depan sekolah saja.


Mereka tidak ada yang berani memasuki bagian dalam gedung, terutama halaman belakang sekolah, yang letaknya bersebelahan dengan Toilet khusus para guru..


Karena pernah ada kejadian, di mana ada beberapa satpam baru, yang tidak mempercayai hal seperti itu.


Mereka nekad melakukan Ronda sampai ke halaman belakang sekolah.


Alhasil 2 dari 3 orang satpam yang pergi meronda kesana, mengalami kesurupan secara bergantian.

__ADS_1


Untungnya ada Paman Lau petugas kebersihan sekolah yang sedang membakar sampah tidak jauh dari sana.


Akhirnya kedua satpam yang kesurupan, berhasil tertolong dan di sadarkan oleh Paman Lau.


Paman Lau sebelum bekerja di sekolah Kuang Ming adalah seseorang petugas kebersihan di kelenteng dan pernah bekerja di yayasan rumah duka.


Sehingga sedikit banyak dia menguasai beberapa ilmu kebatinan untuk menangkal hal hal yang ber bau gaib itu.


Giok Lan tentu merasa sedikit heran dan agak berlebihan, dia hanya ingin ke toilet kenapa harus di temani sampai 2 orang guru wanita.


Tapi untuk menjaga kesopanan, dia tidak banyak membantah atau pun bertanya, Dia mengikuti saja apa yang di tawarkan oleh pak Ma.


Tidak lama kemudian Guru Ciu dan Guru Lin yang di panggil pak Ma pun tiba.


"Guru Ciu Guru Lin, maaf merepotkan kalian, tolong kalian berdua bantu temani nyonya Lu ke Toilet wanita.."


ucap Pak Ma begitu melihat mereka berdua datang.


Ekspresi wajah Guru Ciu dan Guru Lin sedikit berubah mereka berdua sempat saling pandang sejenak.


Tapi dengan terpaksa mereka berdua menganggukkan kepala mereka, dan berkata,


"Baik pak Ma.."


"Mari nyonya Lu kami temanin ke toilet."


ucap Guru Ciu berusaha tersenyum ramah, meski hatinya sedang gelisah.


Giok Lan sebenarnya bisa menangkap ada sesuatu yang ganjil dari ekspresi kedua guru muda dan cantik itu.


Tapi dia memilih diam saja, dia berencana saat keluar dari ruangan ini, baru bertanya kepada kedua guru wanita itu.


Sebagai sesama wanita, tentu akan lebih leluasa bagi mereka untuk saling berbagi cerita.


Menanggapi ajakan Guru Lin, Giok Lan mengangguk dan berkata,


"Maaf aku jadi merepotkan Guru Ciu dan Guru Lin.."


"Tidak apa-apa jangan sungkan nyonya Lu, mari ikut dengan kami.."


ucap Guru Ciu ramah.


Berbeda dengan Guru Lin yang sudah lebih lama mengajar di sekolah ini, sehingga sedikit banyak dia lebih tahu mengenai larangan jam berkeliaran di sekolah, dan berbagai gosip menyeramkan.


Guru Ciu yang masih termasuk Guru baru di sekolah ini, tentu saja pengetahuannya tentang gosip gosip menyeramkan itu jauh lebih minim ketimbang Guru Lin

__ADS_1


__ADS_2