
Belum selesai ucapan nya, tubuh Lu San sudah menghilang dan muncul tiba-tiba di balik awan dan berkata.
"Sekarang saatnya kita berolahraga, kalian sudah tua harus rajin olahraga biar sehat."
"Ayo kita bermain main sebentar.."
ucap Lu San sambil tersenyum dingin.
Hei Pai Suang Kui saling pandang kemudian kedua orang itu membentuk formasi perisai mantra kuno yang masing-masing membentuk lingkaran cahaya hitam dan putih.
Lalu di dorongkan kearah Lu San, di saat bersamaan mereka menyambitkan dua bola hitam putih mirip telur, kearah Lu San.
Lu San kembali menggunakan pedang cahaya yang masih berada dalam sarungnya, untuk menebas kedua perisai lingkaran mantra kuno berwarna hitam dan putih yang sedang menekan kearahnya.
Perlu 5 kali tebasan sehingga perisai mantra yang setiap terpental,akan selalu kembali lagi itu bisa di hancurkan oleh Lu San.
Tapi begitu perisai hancur adalah dua butir telur hitam putih yang berada di balik perisai, langsung mengeluarkan suara ledakan keras
"Boommm...!!"
Seluruh lokasi di hadapan Lu San pun tertutup oleh kabut asap hitam dan putih yang sangat pekat.
Lu San mendorong kedua tapak nya kedepan untuk membuyarkan asap yang ada di hadapannya.
Terkena hembusan angin pukulan Lu San yang dahsyat, kabut asap hitam dan putih pun buyar.
Tapi Hei Pai Suang Kui, sudah tidak terlihat batang hidungnya di sana.
"Keparat,..! cepat lambat kita akan bertemu, kalian tunggu saja gilirannya.."
umpat Lu San sebelum tubuhnya dengan ringan mendarat di hadapan keempat paman Michiko sambil tersenyum.
Keempat paman Michiko meski sangat ingin melarikan diri, tapi mereka hanya punya keinginan tidak punya tenaganya.
Bagaimanapun mereka berusaha hasilnya tetap sama, tubuh mereka tidak mau di ajak kerjasama.
Jangankan melarikan diri, untuk berdiri saja mereka tidak sanggup.
Lu San tadinya sudah ingin membereskan hukuman keempat orang ini, tapi dia keburu menyadari keempat orang yang pernah membully nya di sekolah Kuang Ming ingin melarikan diri.
Jadi dia terpaksa menghentikan niatnya menghukum keempat paman Michiko.
Dia lebih memilih untuk lebih dulu melumpuhkan si kribo CS. itu.
Baru kembali untuk mengurus keempat paman Michiko, yang dia tahu tidak akan mungkin sanggup melarikan diri dalam waktu singkat.
Yang tidak dia sangka adalah, begitu dia sedang berhadapan dengan si kribo CS, insting siluman'nya memberitahukan kepada dirinya.
__ADS_1
Bahwa di atas sana, di balik awan sana, ada bahaya besar sedang mengintainya.
Lu San menggunakan mata langitnya untuk mencari tahu, hasilnya dia menemukan sepasang kakek berpakaian hitam putih bersembunyi di balik awan sedang melakukan pengintaian.
Jadi setelah membereskan si kribo CS, dengan cepat Lu San menegur mereka sambil melesat ke balik awan.
Tapi di luar prediksi nya, kedua kakek itu dengan licik memilih melarikan diri.
Kini Lu San berdiri di hadapan keempat paman Michiko sambil tersenyum dingin tanpa banyak bicara dia meletakkan kedua tangannya di bahu Kyoto.
Terdengar jeritan menyayat hati dari Kyoto, hingga akhirnya kepalanya terkulai ke bawah, saking tidak kuatnya dia menahan rasa nyeri di kedua pundak hingga kelengannya.
Akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri, masih dalam posisi berlutut.
Ketiga saudaranya berteriak memaki maki Lu San, tapi Lu San tidak memperdulikan mereka.
Dengan santai Lu San menggunakan kakinya mendorong tubuh Kyoto hingga jatuh tengkurap di atas lantai.
Selanjutnya dia kembali menaruh kedua tangannya di pangkal paha Kyoto, Kyoto tidak bersuara.
Hanya tubuhnya sedikit tersentak seperti terkena sengatan listrik, lalu kembali diam.
Lu San masih belum selesai, sambil tertawa gembira dia kembali meletakkan tangannya di bagian tulang punggung Kyoto.
Terdengar bunyi kress ! seperti kerupuk di remas.
Ketiga orang saudara Kyoto sambil bercucuran air mata terus memaki maki Lu San dengan berbagai sumpah serapah.
Lu San tidak ambil pusing dia dengan santai melanjutkan hal yang sama ke Ryozo.
Setelah Ryozo mengalami nasib yang sama dengan Kyoto.
Henshin dan Ikeda sudah berhenti memaki, kini mereka berdua menangis nangis meminta ampun seperti anak kecil.
Bahkan Ikeda memohon agar dirinya di bunuh saja langsung.
Tapi Lu San tidak menjawab, hanya melanjutkan hukuman nya ke Henshin, Henshin di samping menjerit kesakitan, dia juga terkencing kencing hingga basah celana nya.
Untuk Henshin dan Ikeda, Lu San membuat mereka tetap terjaga setiap dia mengeksekusi hukuman kearah mereka.
Sehingga penderitaan mereka berdua lebih hebat beberapa kali lipat.
Selesai menjalankan eksekusinya, Lu San baru berkata,
"Ini adalah hukuman tambahan buat kalian berdua yang begitu vokal memaki ku.."
"Bagaimana enakkan ? itu lidah kalian masih berfungsi coba maki dan kutuk lagi aku.."
__ADS_1
"Biar ada alasan meremukkan lidah kalian.."
ucap Lu San sambil tertawa dingin.
Keempat murid Hei Pai Suang Kui, sudah pasrah, mereka sudah kehilangan semangat dan kepercayaan diri mereka.
Mereka yakin Lu San pasti akan memberikan hukuman yang lebih baik mati daripada hidup.
Setelah mereka menyaksikan langsung kebrutalan dan kesadisan Lu San, roh mereka seakan-akan sudah dari tadi terbang meninggalkan tubuh mereka.
Setelah menyelesaikan Ikeda, Lu San kini mulai mendekati keempat orang yang tertotok jalan darahnya, tidak bisa bergerak.
"Kini giliran kalian berempat, oh ya kamu si kribo. aku akan memulai nya dari kamu."
"Aku ingin kamu merangkak dan menyalak seperti anjing, ayo mulai.."
ucap Lu San sambil tertawa, lalu dia sengaja merubah dirinya menjadi Lu San.
"Bagaimana masih ingat dengan ku..?"
ucap Lu San tersenyum dingin
Sebaliknya keempat orang itu kini menatap Lu San dengan melongo.
Lu San tertawa keras dan berkata,
"Terkejut boleh tapi tugas harus di jalan kan..ayo cepat..! tunggu apalagi.."
Si kribo yang merasa totokkan nya sudah di lepaskan oleh Lu San, dia segera bergerak menyerang Lu San ingin mengadu nyawa.
Lebih baik mati pikirnya, daripada hidup di hina terus di siksa hingga mati tidak hidup pun tidak..
Tapi sebelum dia berhasil menyerang Lu San, tiba-tiba dia sudah bergulingan diatas tanah menjerit-jerit tubuhnya kejang kejang.
Seluruh urat di leher dan wajahnya pada menonjol keluar, karena dia harus menahan rasa tersiksa tubuhnya seperti sedang di gigit oleh ribuan semut api.
Bila dia bisa bergerak, mungkin seluruh tubuhnya sudah dia garuk hingga berdarah darah.
"Bagaimana masih berani melawan..?"
tanya Lu San dingin.
Si kribo tidak sanggup menjawab, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan dan menatap Lu San minta di kasihani..
Lu San tersenyum senang dan berkata,
"Jadi bagaimana sekarang sudah bisa jadi anjing..?"
__ADS_1