
Meski ada perasaan kurang puas, atas tanggapan Xue Yen yang singkat.
Lu Sun tetap mencoba mengerti, mungkin situasi Xue Yen yang kurang bebas.
Bagaimana pun besok semua akan menjadi terang, Lu Sun membatin didalam hati menghibur perasaan nya sendiri.
Lu Sun kemudian duduk bermeditasi, Lu Sun tidak tidur dia melewatkan malam itu dengan bermeditasi menenangkan pikiran nya sendiri.
Keesokan paginya selesai sarapan bersama, sesuai janji Giok Lan hanya membantu memanggilkan taksi dan berpesan pada sopir taksi agar mengantar Lu Sun pergi ke high' Park.
Giok Lan melepas kepergian Lu Sun di depan lobby hotel, banyak yang ingin dia ucapkan.
Tapi tidak tahu mau memulainya darimana.
Akhirnya dia hanya bisa melepas kepergian Lu Sun dengan melambaikan tangan sambil tersenyum manis.
Berusaha sekuat tenaga agar airmata nya, tidak runtuh.
Begitu Lu Sun masuk kedalam taksi dan taksi mulai melaju pergi.
Giok Lan baru berteriak,
"Sun ke ke hati-hati di jalan...!, jaga diri baik-baik...!"
Lu Sun menongolkan Kepalanya dari jendela melambaikan tangannya sambil tersenyum berkata,
"Kamu juga Lan Mei, terimakasih...!"
Setelah mobil taksi Lu Sun menghilang dari pandangannya, Giok Lan baru menghela nafas panjang.
Menghapus dua butir airmata nya yang membasahi kedua pipinya, lalu membawa tas ranselnya, menaiki taksi lain dan berkata kepada supir taksi,
"Pearson Airport .."
Supir taksi mengangguk kemudian menjalankan taksinya menuju bandara.
Sepanjang perjalanan Giok Lan hanya diam melamun melihat pemandangan di luar jendela.
Tak terasa akhirnya mobil taksi tersebut sudah memasuki kawasan Airport, supir taksi pun menanyakan tujuan keberangkatan Giok Lan dan jenis pesawat yang akan dia gunakan.
Giok Lan memberitahu agar Supit taksi menuju kawasan area Pesawat jet pribadi terparkir.
Supir taksi mengangguk, dan mengantar Giok Lan menuju tempat yang ditunjuk olehnya.
Saat memasuki kawasan tersebut Giok Lan menunjukkan kartu pass masuknya, sehingga portal pun dibuka oleh petugas sambil memberi hormat kepada Giok Lan.
Giok Lan hanya mengangguk kecil, mobil melaju sampai mendekati sebuah pesawat Zet pribadi yang terparkir.
__ADS_1
Di sana terlihat George bodyguard Giok Lan yang berkepala botak.
Giok Lan memberikan kunci helikopternya, tanpa berkata apa-apa.
Dengan kepala tertunduk dia melangkah menaiki tangga pesawat, sampai di pintu masuk kedalam pesawat.
Giok Lan berdiri terdiam sejenak, lalu menoleh melihat ke belakang kearah High Park dimana Lu Sun sedang menemui Xue Xue.
Sambil menarik nafas panjang Giok Lan pun masuk kedalam pesawat yang langsung di sambut dengan hormat oleh pilot dan pramugari pribadinya.
Giok Lan hanya mengangguk kecil, kemudian mengambil tempat duduk memasang sabuk pengaman dan duduk termenung menatap keluar pesawat melalui jendela pesawat.
Tiba-tiba Giok Lan melepaskan sabuk pengaman nya, berdiri dan berlari kearah pintu yang hampir menutup.
Giok Lan dengan wajah panik berkata kepada pramugari, buka pintunya.
Pramugari dengan muka bingung segera hubungi pilot lewat pesawat telpon yang terpasang di dekatnya.
Setelah berbicara sebentar dengan pilot pesawat, pintu pesawat pun kembali terbuka.
Giok Lan langsung menuruni tangga dengan buru-buru lalu berlari meninggalkan bandara.
Baik George maupun pramugari tidak ada yang berani bertanya, apalagi mencegahnya.
Mereka hanya melihat semuanya dengan tatapan bingung tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh nona mereka.
Giok Lan mencari tempat sepi lalu mendarat ringan, kemudian berlari kecil mendekati salah satu taksi dan berkata,
"Tolong antar ke High'park sekarang.."
Supir taksi mengangguk membuka pintu mobil buat Giok Lan.
Tak lama kemudian mobil tersebut telah meluncur cepat meninggalkan airport menuju High' Park.
Sementara itu Lu Sun sudah sampai dan duduk di bangku taman sebelah timur, yang menghadap kearah kolam air mancur.
Lu Sun duduk dengan jantung berdebar-debar menunggu kemunculan Xue Yen.
Terutama Lu Sun ingin mendengarkan penjelasan Xue Yen soal Jack.
Hampir satu jam Lu Sun duduk dengan gelisah seorang diri, duduk dengan bodoh dan gelisah menanti orang yang tidak kunjung muncul.
Akhirnya Lu Sun mendengar langkah kaki halus mendekati nya dari belakang, dari wangi parfum yang terbawa angin.
Lu Sun sangat familiar dengan wangi tersebut, itu adalah wangi Xue Yen istrinya.
Lu Sun perlahan-lahan menoleh melihatnya, Lu Sun melihat sebuah wajah cantik berambut cokelat yang anggun sedang menatapnya dengan senyum lembut memabukkan.
__ADS_1
Sesaat Lu Sun terdiam tidak bisa berkata-kata dia hanya melongo melihat wanita cantik didepannya.
Terdengar suara lembut berkata, memecah kesunyian.
"Maaf membuat mu menunggu lama, aku tadi ada sedikit urusan mendadak yang harus ku selesaikan."
"Makanya jadi terlambat, maaf ya."
Mendengar ucapan Xue Yen membuat Lu Sun tersadar dari keterpesonaan nya.
Lu Sun sambil menggelengkan kepalanya berkata,
"Tidak apa-apa, santai aja tidak perlu buru-buru."
Kemudian Lu Sun pun berdiri dengan sepasang tangan terbuka, menyambut Xue Yen yang berjalan kearahnya.
Menunggu pelukan hangat dan mesra dari Xue Yen, tapi kenyataannya sungguh di luar dugaan.
Xue Yen Setelah berdiri didepan nya hanya tersenyum sedih dan mengulurkan tangannya kearah Lu Sun, untuk bersalaman dan berkata,
"Bagaimana kabarmu ?"
Lu Sun dengan canggung menyambut uluran tangan Xue Yen, menyalami telapak tangan yang halus lembut dan menyimpan seribu kenangan indah diantara mereka berdua.
Lu Sun menggenggamnya dengan erat dan hangat, tapi Xue Yen langsung menarik kembali tangannya.
Lalu memberi kode agar Lu Sun ikut duduk disebelahnya.
Lu Sun pun ikut duduk dan menatapnya dengan perasaan bingung kecewa sedih yang bercampur aduk.
Lu Sun dapat merasakan kini hubungan nya dan Xue Yen seperti memiliki jurang pemisah yang dalam, dinding pembatas yang tinggi.
Lu Sun menarik nafas panjang untuk menenangkan debaran jantung nya yang semakin tidak karuan.
Setelah memejamkan matanya sesaat Lu Sun kemudian membuka kembali matanya yang bersinar tenang dan tajam menatap Xue Yen.
Xue tersenyum sedih dan berkata,
"Aku tahu perasaan mu saat ini, tapi hari ini aku akan menjelaskan semuanya kepada mu."
Lu Sun tidak berkata apa-apa dia hanya mengangguk kecil.
Semua bermula dari saat perusahaan mu jatuh, di saat bersamaan rumah sakit ayah ku pun ikut jatuh dengan berbagai permasalahan berat.
Baik dari pihak luar yang menuntut ganti rugi karena keracunan suplemen, maupun penghianatan yang di lakukan oleh Ming Dao yang memojokkan ayah ku.
Dia berusaha menjatuhkan ayah ku dengan berbagai bukti rekayasa, akhirnya dewan direksi memecat ayah ku dengan secara tidak hormat.
__ADS_1
Dan meminta ganti rugi nama baik rumah sakit dan pasien semua menjadi tanggungjawab ayah ku.