
"Cin Bao kamu membawa siapa kemari ?"
tanya Nenek Lu perlahan-lahan membuka matanya.
Afei tanpa di suruh sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Nenek Lu, dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Nek aku membawa Afei untuk di perkenalkan pada nenek.."
"Aku sudah mengangkatnya sebagai anak angkat, sekaligus pewaris semua kemampuan ku kelak."
"Kamu serius Cin Bao, soal pewaris kemampuan mu,? bukan kah kamu punya San er Dan er dan Fei er yang bisa mewarisi seluruh kemampuan mu..?"
Lu Sun menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku sudah meriksa kualitas tulang mereka semua nek.."
"Hanya Afei inilah yang kebetulan cocok kualitas tulangnya, untuk mewarisi seluruh kemampuan ku.."
"Afei coba kamu angkat batu di sebelah sana, dan berlari-lah 10 putaran."
ucap Lu Sun sambil menunjuk sebuah batu alam sebesar perut kerbau, yang menjadi hiasan taman tersebut.
Afei terkejut mendengar ucapan Lu Sun, batu itu pasti sangat berat, bagaimana dia bisa mengangkatnya,? apalagi sambil berlari 10 putaran ini sungguh tidak masuk akal pikir Afei.
Tapi dia tidak berani membantah, setelah memberi hormat ke nenek, sambil membenturkan kepalanya di lantai.
Afei pun berjalan menghampiri batu tersebut, dia mencoba memeluknya dengan tangan nya yang kecil.
"Afei Fokus, percayalah kamu bisa..!!"
"Itu hanya segumpal kapas bukan batu, ayo angkat..!!"
teriak Lu Sun memberi perintah.
Afei mengangguk tanpa menoleh, lalu dia mulai fokus seperti apa yang Lu Sun katakan barusan.
Sambil berteriak keras,
"Hiaaatt...!!"
Afei mencoba mengangkatnya keatas kepala, dia membayangkan batu itu cuma segumpal kapas yang ringan.
Afei sendiri terkejut bercampur girang, ternyata dia mampu mengangkat nya di atas kepala.
Sambil tertawa senang Afei mulai membawa batu besar tersebut berlari sambil tertawa girang.
Setelah menyelesaikan lari sepuluh putaran, Afei dengan iseng melempar batu itu keatas lalu menangkapnya.
Dalam bayangan Afei, batu itu hanya segumpal kapas.
"Afei cukup letakkan kembali batu itu..!"
perintah Lu Sun.
Dengan patuh Afei pelan-pelan mengembalikan posisi batu itu, ketempat semula.
"Coba kamu angkat tombak ini..!"
ucap Lu Sun sambil melemparkan Feng Thian Hua Ci milik ayahnya Lu Bu, kehadapan Afei.
Tombak itu meski sangat berat, tapi saat Lu Sun melemparkan nya kehadapan Afei tombak itu mendarat dengan ringan di dekat kakinya.
__ADS_1
Afei mencoba mengangkatnya, tombak yang terlihat ringan itu, ternyata jauh lebih berat puluhan kali lipat dari batu tadi.
Afei sedikit terkejut saat dia tidak berhasil mengangkatnya, jangankan mengangkat bergeming pun tidak.
Afei berkonsentrasi fokus seperti tadi, kemudian dia berteriak keras,
"Ciattt...!!"
Tombak berhasil di angkat oleh Afei diatas kepala nya, nafas anak kecil itu sedikit memburu, kakinya gemetaran, wajahnya merah padam.
"Cukup Afei, letakkan kebawah..!"
ucap Lu Sun.
Afei pun melepaskan tombak tersebut kebawah , tombak jatuh berdebum menghantam lantai.
Membuat area di sekitarnya bergetar hebat.
Lu Sun menoleh kearah nenek dan berkata,
"Bagaimana nek..?"
Nenek Lu hanya menggelengkan kepalanya menatap Afei dengan tak percaya.
"Nek inilah yang di sebut bakat, bahkan Lu Fan dulu jauh lebih kecil dari Afei sudah sanggup memainkan Hua Ci ini ."
"Bakat seperti inilah yang tidak di warisi oleh San er Dan er dan Fei er..'
"Bila mengandalkan mereka, suatu hari nanti semua ilmu ku akan kembali punah.."
"Aku berharap bila suatu hari nanti aku pergi, Afei bisa jadi pelindung keluarga Lu, melindungi San er Dan er dan Fei er.."
ucap Lu Sun memberi penjelasan pada nenek Lu.
"Terserah padamu Cin Bao, bila kamu anggap itu baik jalankan saja.."
"Nenek akan selalu mendukung mu.."
"Terimakasih nenek .."
ucap Lu Sun senang.
"Afei memberi hormat pada nenek Couw.."
ucap Afei tanpa di suruh dan kembali membenturkan dahinya sebanyak 3 kali didepan Nenek Lu.
Nenek Lu tersenyum senang dan membelai kepala Afei dan berkata,
"Kamu bangunlah Afei, ingatlah baik-baik pesan nenek ini."
"Mulai hari ini kamu adalah bagian dari keluarga Lu, kamu harus melindungi dan menjaga San er kakak mu, Dan er dan Fei er adik mu dengan sebaik-baiknya."
"Apa kamu mengerti ?"
"Afei mengerti nek, mereka bertiga adalah saudara ku, tentu aku akan menjaga mereka dengan taruhan nyawa ku nek.."
ucap Afei mantap.
"Bagus-bagus anak baik, nenek harap setelah dewasa nanti, kamu tidak akan pernah melupakan dan mengingkari janjimu hari ini pada nenek.."
"Tentu nek bila Afei melanggarnya biar Afei mati di sambar petir dengan jasad hancur.."
__ADS_1
Lu Sun tersenyum dan berkata,
"Afei bila kamu sudah sepenuhnya, mewarisi ilmu ayah, bahkan petir pun tidak bisa berbuat apa-apa pada mu.."
"Sungguh kah ayah..?"
tanya Afei tak percaya.
Lu Sun tersenyum dan berkata,
"Buka mata mu nak dan lihat baik-baik.."
Lu Sun mengaktifkan jari penembus semesta, awan hitam, angin dan hujan es langsung memenuhi tempat itu.
Petir datang sambar menyambar di langit, tubuh Lu Sun terbang keudara menyambut Sambaran petir yang terus menyambar dirinya.
Tapi Lu Sun terlihat baik-baik saja, meski petir-petir dahsyat itu berulang kali menyambarnya.
Afei menatap dengan melongo, seperti sedang menonton sulap.
Lu Sun melayang turun di hadapan Afei sambil menarik kembali jurus penembus semesta nya.
Cuaca di langit pun kembali menjadi normal seperti biasa lagi.
"Nah sekarang kamu percaya bukan ?"
tanya Lu Sun sambil tersenyum.
Afei mengangguk cepat dan mengacungkan jempol nya kearah Lu Sun.
"Afei ayo kita kesana.."
ucap Lu Sun sambil membawa Afei berjalan kearah peti mati Ying Ying.
"Afei beri hormat lah pada ibu angkat mu."
"Kelak setiap masuk ketempat ini, selain memberi hormat ke nenek, kamu harus memberi hormat pada ibu angkat mu ini.."
"Baru kamu boleh mulai berlatih di sini.."
"Apa kamu mengerti Afei.."
Afei tanpa berkata apa-apa dia langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Ibu angkat Afei datang memberi hormat pada mu.."
Afei membenturkan dahinya tiga kali didepan peti mati Ying Ying memberikan penghormatan sama seperti dia memberi penghormatan pada nenek tadi.
"Sayang.. ini Afei dia anak angkat kita.."
"Aku membawanya kemari untuk memberi hormat dan memperkenalkannya pada mu.."
ucap Lu Sun dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Bila suatu hari nanti aku pergi menyusul mu, dia lah yang akan menggantikan aku menjaga anak-anak kita.."
Lu Sun mengulurkan tangannya kearah tempat penyimpanan arak Hang Zhou, sebotol arak Hang Zhou melayang masuk kedalam tangannya.
"Sayang tak terasa kamu sudah pergi tiga tahun, tapi aku masih tetap merasa kamu seperti baru pergi kemaren.."
ucap Lu Sun sedih.
__ADS_1
Lalu dia menegak arak Hang Zhou ditangannya.