
Setelah beristirahat pertandingan babak ke 4 yang merupakan babak penentu di mulai.
Karena strategi di babak kedua Stephen Chow sudah berhasil memberikan kemenangan hingga 2 kali.
Dia menginstruksikan teman temannya untuk tetap menjalankan strategi tersebut.
Di tambahin dengan variasi seperti Running seakan mau melakukan Slam dunk tapi saat Lu Sun menghalangi.
Mereka akan mengoper kearah teman yang berada jauh dari Lu Sun.
Kemudian melakukan tembakan 3 angka
Di babak ke 4 ini Lu Sun mulai menunjukkan kemampuan aslinya.
Begitu Pluit pertandingan di tiup oleh Thomas, Lu Sun yang memegang bola dari daerah pertahanan nya.
Menggunakan langkah ajaib melewati Stephen Chow, dan teman temannya.
Satu persatu Lu Sun lewati hadangan mereka.
Kemudian terbang melakukan Slamdunk, saat Stephen Chow dan Erik Mo mencoba menghentikan bergesek Lu Sun yang sedang terbang.
Dengan gerakan menyelinap Lu Sun yang sedang terbang dengan mudah melewati mereka, lalu memasukkan bola.ke Ring basket lawannya.
dengan demikian skor Lu Sun menjadi 71 di banding 70 unggul 1 point dari Stephen Chow CS.
Kini bola ada di tangan Erik Mo, yang siap melakukan aksi individunya, seperti rencana mereka sebelum pertandingan dimulai.
Tapi dengan gerakan yang sangat cepat, Lu Sun berhasil merebut bola yang sedang di drible oleh Erik Mo.
Erik Mo sendiri baru sadar bola sudah hilang dari tangannya, saat Lu Sun sudah kembali mencetak angka dengan Slamdunk nya.
Suara tepuk tangan dan sorakan dari penonton kembali menggema dengan penuh semangat.
Sehingga skor menjadi 73 di banding 70, Untuk pergerakan selanjutnya, Stephen chow memberi kode agar temannya lebih berhati-hati saat mendribble bola.
Kini Alan Tam yang memegang bola, saat Lu Sun mendekatinya, dia pura-pura mau melempar bola ketemannya, lewat lemparan atas.
Tapi saat Lu Sun melayang menghalanginya, dia tiba-tiba melempat bola ke bawah, membentur lantai lalu memantul kearah Lolanto.
Lolanto langsung mengoper kearah Stephen Chow yang berada di depannya dengan cepat.
Lu Sun tersenyum dingin, dia menendang kaki kiri dengan kaki kana saat sedang melayang di udara, Lu Sun menggunakan ilmu berjalan di udara milik Xue Yen.
Tubuhnya melesat menangkap bola dari Lolanto, sebelum sampai ke Stephen chow.
Sambil melayang dia melempar bola kearah jaring basket wilayah pertahanan Stephen Chow CS.
__ADS_1
Tanpa dapat dicegah bola masuk dengan mulus bahkan tidak menyentuh jaring masuknya.
Skor menjadi 76 banding 70, jarak skor mereka semakin menjauh.
Gerakan Lu Sun yang sangat cepat seperti bisa melayang di udara membuat semua yang hadir di sana menjadi melongo.
Teriakkan ketiga gadis culun yang menari-nari dan melompat lompat, segera menyadarkan semua orang.
Tepuk tangan meriah terdengar di mana-mana, bahkan sampai terdengar ke gedung lantai dua di mana murid-murid latihan bela diri guru Ken.
Semuanya berbondong-bondong lari kearah jendela untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Guru Ken sendiri dengan heran ikut melangkah melihat situasi di lantai satu.
Saat di lihatnya di sana Lu Sun si guru olahraga baru sedang bermain basket dengan muridnya.
Dengan marah guru Ken sambil berkacak pinggang,
"Kembali semua ketempat masing-masing...!!"
"Cepat...cepat....!! satu....Dus...tiga...!"
teriak guru Ken memberi aba-aba.
Murid muridnya dengan patuh melakukan gerakan sesuai instruksi guru. Ken sambil berteriak lantang.
"Ha...hu...ha...!
"Hu..ha...!
"Hu..hu..ha..!"
Mereka kembali berteriak sambil melakukan gerakan dengan penuh semangat.
Di lapangan basket sendiri pertandingan terus berlanjut kini skor kelompok Stephen chow di kunci mati di angka 70.
Setiap mereka memegang bola sehabis ring basket milik mereka kebobolan.
Dengan cara yang sangat cepat dan sulit diikuti mata, bola pasti berpindah ke tangan Lu Sun.
Kemudian Lu Sun langsung mencetak angka.
Menjelang detik-detik akhir pertandingan, di mana saat Lu Sun sedang terbang melakukan WOTA seperti yang dia tiru dari Michael Jordan.
Erik Mo Alan Tam dan Stephen, juga ikut melompat mencoba menghalangi langkahnya.
Tapi dengan ringan Lu Sun melakukan salto dengan menginjak bahu Stephen Chow dan Erik Mo.
__ADS_1
Lalu memasukkan bola kedalam ring basket wilayah pertahanan mereka, setelah itu Lu Sun menjejak ringan ring basket.
Kemudian mendarat dengan mulus di pinggir lapangan.
Thomas meniup peluit di mulutnya, pertandingan pun berakhir dengan skor 92 di banding 70.
Sambil tersenyum Lu Sun menunjuk dengan tangan seperti menembak kearah Stephen chow dan berkata,
"Ingat janji mu,...jam ku sudah habis, sampai ketemu Minggu depan..."
"Anak anak kembali ke kelas kalian jam kita hari ini sudah habis...! sampai ketemu Minggu depan..!"
teriak Lu Sun sambil melambaikan tangannya kearah para muridnya termasuk kearah ketiga gadis culun itu.
Setelah itu dia melangkah pergi dengan santai meninggalkan gedung olahraga, menuju kelas berikutnya.
Yaitu kelas dua SMA dengan olah raga lempar lembing dan cakram.
Kepergian Lu Sun diiringi tepuk tangan yang sangat meriah oleh seluruh muridnya.
Termasuk Stephen Chow sendiri yang bertepuk tangan dengan penuh semangat sambil menatap bayangan punggung gurunya yang aneh dan misterius itu.
Begitu pula dengan Alan Tam Erik Mo Lolanto Richard Wu Barbie Su Vivian dan Rosa mereka juga ikut bertepuk tangan dengan kagum.
Stephen Chow sambil tersenyum bangga berkata,
"Kalian semua lihat, dia dari belakang lebih mirip seorang jendral besar dalam film silat ketimbang guru...!"
"Ayo kita sambut guru baru kita dengan tepuk tangan lebih meriah lagi..!"
Suara tepuk tangan semakin meriah, setelah itu dengan tertib mereka semua kembali ke kelas dalam barisan yang teratur di pimpin oleh Thomas.
Pak Ma tersenyum bangga melihat hasil didikan Lu Sun di hari pertama mengajarnya.
Di dalam hati dia harus akui, yang di katakan Stephen Chow sangat tepat.
Lu Sun bila di lihat dari belakang memang sangat mirip jendral besar di film silat kolosal.
Tubuhnya tinggi besar punggungnya lebar rambutnya panjang berkibar-kibar saat melangkah, hanya sayang rambutnya kini berwarna putih semua.
Agak kontras dengan wajah dan tubuh nya yang masih muda dan gagah, rambut itu sekilas memberi kesan Lu Sun adalah seorang kakek tua.
Pak Ma tidak pernah menduga, orang tua murid yang katanya ingin mencoba mengajar di sekolah nya.
Ternyata memiliki talenta yang sangat luar biasa, merupakan suatu berkah besar bagi sekolah mereka punya guru seperti Lu Sun.
Awalnya dia menerimanya dengan terpaksa, karena tidak enak hati menolak dan kebetulan ada posisi kosong.
__ADS_1
Kini setelah Lu Sun bekerja, Pak Ma malah merasa beruntung mempekerjakan Lu Sun di sekolahnya.