
"Tapi Tante dan Om hanya punya Debby seorang, kami tidak akan membiarkan dia di lukai perasaannya oleh siapapun.."
"Kami tidak akan perduli seberapa kaya seberapa berkuasanya orang tua mu, bila kamu berani mempermainkan perasaan putri kami.."
"Kami tidak akan tinggal diam, meski harus korbankan dua nyawa tua ini kami tidak perduli.."
ucap mama Deborah menatap Lu San dengan serius.
Lu San mengangguk dan berkata,
"Dari awal ini semua memang salah San er, San er berjanji kedepannya tidak akan pernah mengulanginya lagi."
"Om Tante percayalah kedepannya San er pasti akan selalu bersikap baik dan selalu menyayangi Deborah dan tidak akan pernah menyakiti perasaannya lagi."
"Om Tante, saat ini orang tua ku, sedang berangkat melayat paman Clooney Gunman yang baru saja meninggal karena kecelakaan mobil."
"Nanti setelah masalah di sana selesai, aku berjanji akan membawa mereka bertemu Om dan Tante untuk membicarakan hubungan kami berdua.."
ucap Lu San.
"Kami percaya padamu, San er.."
"Kami ikut turut bela sungkawa, dan tolong sampaikan rasa belasungkawa kami pada orang tua mu.."
Lu San mengangguk dan berkata,
"Siap Om, pasti akan saya sampaikan, begitu bertemu mereka.."
Papa Deborah mengangguk kemudian melanjutkan berkata,
"Perihal paman mu itu, sebelum ke Nan Jing kami juga sempat mendengar nya dari berita."
"Dulu semasa ayah Sandra masih hidup kami juga sempat bekerja sama bisnis dengan ayahnya."
"Hanya saja setelah ayah Sandra sudah meninggal, kerja sama terputus, karena pamannya Clooney Gunman lebih fokus di bidang persenjataan.."
"Bisnis kami berbeda bidang.."
ucap papa Deborah memberi penjelasan..
"Ohh itu karena bisnis kakek, sebagian di pegang Mama Sandra, mama Sandra karena harus fokus dengan keluarga, jadi banyak bisnis yang tak terurus dengan baik."
"Jadi mama Sandra memutuskan menjual beberapa perusahaan nya yang tidak sempat terurus."
"Mungkin karena itu hubungan bisnisnya terputus.."
ucap Lu San.
"Om Tante kebetulan saat ini sekolah sedang libur, aku sebentar lagi ada urusan penting yang harus di urus di Jepang.."
__ADS_1
"Aku harus mewakili ayah ku untuk mengurusnya kesana.."
"Aku khawatir dengan keamanan Deborah bila aku pergi ke Jepang dan dia sendirian di sini.."
"Boleh tidak Om dan Tante bantu saya membawa dan menjaganya di London,? di sana jauh lebih aman sehingga aku bisa ke Jepang dengan hati tenang.."
Mama dan papa Deborah tersenyum dan berkata,
"Tentu saja kami dengan senang hati akan membawanya kesana..sambil menunggu kamu dan orang tua mu datang menjemputnya."
"Tapi masalah nya saat ini, semua bergantung pada keputusan anak kami ini.."
"Bila dia tidak mau dan ingin mengikuti mu ke Jepang kami bisa apa..?"
ucap mama dan papa Deborah sambil tersenyum dan saling pandang.
Lu San mengangguk kemudian menatap kearah Deborah.
tapi Lu San belum bicara Deborah sudah menggelengkan kepalanya dengan keras, matanya mulai berkaca-kaca..
Melihat hal ini, Lu San pun maju menggandeng tangan Deborah lalu mengajaknya berjalan menuju kolam air mancur.
Lu San mengajak Deborah duduk di tepi kolam air mancur dan berkata,
"Sayang terus terang saja, aku berangkat ke Jepang bukan untuk hal baik.."
"Kamu ingat Michiko dan orang-orang yang pernah melukai ku..?"
"Sayang aku ke Jepang untuk mencari dan menghabisi mereka hingga ke akarnya.."
"Setelah itu aku harus berangkat ke pulau di laut Pasifik, untuk membantu ayah ku menghadapi musuh-musuhnya di sana.."
"Bukan aku tidak mau membawa mu, tapi ini terlalu bahaya untuk mu, aku tidak bisa ambil resiko itu.."
"Tapi sayang bila kamu sendirian pergi menempuh bahaya, aku pasti tidak akan bisa hidup tenang di London."
"Aku pasti setiap hari akan ke pikiran terus sama kamu."
ucap Deborah menatap Lu San dengan wajah cemas dan sedih.
Lu San memegang wajah Deborah agar menatap kearah nya, dan berkata.
"Aku tentu tahu itu, tapi aku benar-benar tidak bisa membiarkan mu ikut terlibat dalam resiko besar ini.."
"Satu hal.lagi, bila sampai musuh tahu kamu adalah kekasih ku, yang paling penting dalam hidup ku.."
"Mereka pasti akan menggunakan mu, untuk mengancam ku.."
"Bila itu terjadi, aku tidak akan punya pilihan lain selain menyerah, kamu mengerti kan maksud ku..?"
__ADS_1
"Apa kamu mau melihat ku, kembali hidup sebagai orang cacat seperti Tempo hari..?"
Deborah menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu maju memeluk Lu San dan berkata,
"Tidak..tidak..aku tidak mau..!"
Lu San memeluknya dengan lembut kemudian berkata,
"Sayang bila kamu tidak mau kejadian itu berulang kembali, maka kamu harus bersembunyi jauh jauh dari ku.."
"Jangan sampai ada yang tahu, kita kembali bersama, sehingga mereka tahu kamu adalah kelemahan ku.."
"Tapi Michiko mengetahui semuanya aku takut.."
ucap Deborah ragu.
"Kalau soal itu kamu jangan khawatir, Afei akan membantu ku, diam diam mengawasinya.
Bila dia berani macam macam, aku yakin Afei dan nenek akan mampu mengatasinya."
"Tapi aku yakin Michiko sudah bertobat, demi Afei dia tidak akan pernah melakukan hal itu.."
"Aku cukup percaya dengan nya.."
"Baiklah sayang, bila itu yang terbaik, aku akan nurut pada mu, aku akan menunggu kedatangan mu di London.."
"Tapi kamu harus berjanji pada ku, kamu tidak boleh tidak datang..menemui ku di sana..kamu harus selamat tidak boleh kurang apapun.."
ucap Deborah menatap Lu San dengan sedih dan berat hati.
Lu San menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Baiklah aku berjanji pada mu..akan segera pergi menjemputmu di London, begitu tugas ku selesai.."
Lalu dia meraih wajah Lu San, sambil memejamkan matanya dan sedikit memiringkan kepalanya, dia mendaratkan ciuman nya pada bibir Lu San.
Sesaat mereka berdua larut dalam ciuman mesra melepaskan segenap perasaan mereka yang sama-sama berat untuk berpisah.
Lu San akhirnya melepaskan kepergian kekasihnya bersama kedua orang tua nya sambil melambaikan tangannya.
Lu San menatap hingga mobil tersebut menghilang dari hadapan nya.
Setelah menghela nafas panjang, Lu San pun hendak berjalan masuk kedalam rumah, untuk melakukan persiapan berangkat ke Nagasaki Jepang.
Tapi baru berjalan dua langkah, Lu San berhenti ditengah jalan, dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba dia merubah arah nya, melesat ke udara terbang menembus awan.
Lu San menggunakan Jin Tou Yun, memantau pergerakan mobil yang di tumpangi oleh Deborah dan kedua orang tua nya secara diam-diam.
__ADS_1
Mobil melaju dengan tenang meninggalkan bukit dan kompleks perumahan Lu San.
Tapi saat mobil tersebut sedang melaju di jalan tol, tiba-tiba di hadapan mobil muncul dua sosok berpakaian hitam putih menghadang perjalanan mereka.