
Lu Sun berteriak melepaskan kesedihannya..
Teriakkan rasa duka yang mendalamnya meledakkan danau tersebut.
Gelombang ledakan yang seperti ledakan bom atom membuat danau dan isinya bergolak hebat kemudian meledak keatas membuat sebuah gelembung air raksasa'.
Lalu menyusul tubuh Lu Sun mencelat keluar dari dasar air sambil menggendong jasad Ying Ying yang telah lunglai tak bergerak dalam pelukannya.
Sambil bercucuran air mata yang bercampur dengan air kolam Lu Sun kembali berteriak melepaskan kepiluan hatinya.
"Arrrrghhh...!!"
Teriakkan nya menggetarkan seluruh area tersebut seperti di Landa gempa dahsyat .
Seolah-olah gunung tersebut akan meletus.
Lu Sun duduk bersila ditepi jurang sambil memangku tubuh Ying Ying di dalam pelukannya.
Lu Sun menyalurkan energi 9 matahari, untuk menguras dan mengeringkan paru-paru Ying Ying yang penuh dengan air.
Sehingga menghambat pernafasan nya, Lu Sun berharap masih bisa menolong nyawa istrinya dengan cara tersebut.
Setelah paru-paru Ying Ying kering dan bersih, Lu Sun mencoba mengalirkan hawa murni lewat mulutnya ke mulut Ying Ying.
Hal ini di lakukan berulang-ulang sambil mengedarkan energi Im Yang Sen Kung keseluruh tubuh dan mencoba mendorong aliran darah dan jantungnya bergerak lagi.
Tapi hampir 2 jam Lu Sun melakukannya, Ying Ying tetap tidak bereaksi dan bergerak sama sekali, selain wajahnya yang tadinya pucat .
Kini sudah merona merah kembali.
Hal lain nya tidak ada perubahan dan tidak ada tanda-tanda nadi dan jantungnya berdetak kembali.
Akhirnya Lu Sun menghela nafas sedih menatap wajah Ying Ying yang sangat cantik terlihat seperti sedang tidur.
"Sayang bangunlah...jangan tinggalkan aku seperti ini...aku tidak sanggup melanjutkan hidup seperti ini.."
ucap Lu Sun sambil mengguncang pelan tubuh istrinya yang lunglai tak bergerak.
Begitu Lu Sun menghentikan aliran tenaga nya, perlahan-lahan wajah itu kembali pucat.
Rona merah di wajahnya mulai memudar, begitu pula bibirnya yang indah kini membiru dan terlihat kering.
Lu Sun menatap jasad Ying Ying dengan perasaan hancur lebur.
Lalu dia menarik Ying Ying kedalam pelukannya dan memeluknya erat-erat sambil berteriak melepaskan kepiluan hatinya.
"Ying Ying.... Arrghhh...Ying Ying... sayang..jangan pergi...jangan pergi..sayang...!!"
__ADS_1
Tiba-tiba aura yang sangat kuat memancar dari tubuh Lu Sun, sepasang matanya mencorong tajam seperti seekor naga sakti yang terluka.
Lalu terdengar suara Lu Sun yang menggetarkan sarat dendam.
"Siapa yang begitu tega... siapa ? binatang.....!!!"
"Aku tidak akan melepaskan mu... argggghhhh..!!!"
Sesaat kemudian sorot mata itu kembali melembut, sambil berlutut lemas dipinggir jurang,
Lu Sun menunduk menatap wajah istrinya dengan penuh kasih sayang dan airmata bercucuran.
"Ying Ying sayang ku bangunlah... lihat ini aku...Sun ke ke mu.. maafkan aku sayang... maafkan aku. !!"
"Aku datang terlambat...!!"
"Semua ini salah ku...hu..hu...hu..hu...!!"
"Aku tidak sanggup menjagamu dengan baik.."
"Aku bukan suami yang baik.."
"Sebagai suami aku telah gagal...gagal.."
"Satu saja gak becus...kamu mau punya tiga.."
"Lu Sun...! Lu Sun...! kamu sungguh naif dan jenaka...!!"
"Ha..ha..ha...ha...!!!"
"Hu...hu...hu..."
Lu Sun sebentar tertawa sebentar menangis dia terlihat seperti orang yang terganggu ingatannya.
Dia perlahan-lahan menggendong jasad Ying Ying berdiri ditepi jurang dengan airmata bercucuran, menatap kosong kearah danau di dasar jurang.
Beberapa petugas kepolisian yang hendak mendekati nya, ditahan oleh kepala detektip kriminal yang berwenang ditempat tersebut.
Dia mengenali wajah Lu Sun, karena dia termasuk salah seorang yang pernah memimpin pengepungan di bandara dulu.
Dia tahu persis bagaimana kesaktian Lu Sun,
Lu Sun yang dalam kondisi begini sangat berbahaya.
Sekali dia mengamuk jangan kan cuma mereka, biar seluruh tentara di negeri ini dikerahkan kesini juga tidak akan sanggup menghentikannya.
Kepala detektip itu dengan cerdik segera memerintahkan anak buahnya semua menjauhi lokasi, jangan ada yang berani menganggu naga sakti yang sedang terluka tersebut.
__ADS_1
Mereka semua memantau gerak-gerik Lu Sun dari jarak jauh, tidak ada yang berani mendekati nya.
Setelah tertawa dan menangis hampir setengah jam seorang diri,
Akhirnya Lu Sun duduk termenung seorang diri dengan tatapan mata kosong kearah jurang di hadapannya.
Beberapa saat kemudian dia baru mengeluarkan HP nya menelpon Giok Lan.
Setelah melakukan panggilan singkat, Lu Sun mengerahkan tenaga sakti nya, pakaian di seluruh tubuhnya dan tubuh Ying Ying yang basah kuyup dalam sekejap menjadi kering.
Lu Sun kembali menyalurkan tenaga saktinya ketubuh Ying Ying sambil menggendong jasad Ying Ying yang kembali hangat seperti sedang tidur panjang, menuju mobil ambulans dan berkata,
"Ke RS Zhong Da sekarang...!!"
Tanpa berani membantah mobil ambulans tersebut langsung berangkat membawa Lu Sun dan jasad Ying Ying menuju rumah sakit tersebut.
Tidak ada petugas kepolisian yang berani menghalangi dan menahan kepergian Lu Sun.
Tiba di rumah sakit, para petugas rumah sakit segera menyediakan ranjang dorong dan berbagai peralatan untuk pertolongan pertama.
Tapi Lu Sun menatap kosong kearah mereka dan berkata,
"Tidak perlu...dia sudah pergi.. sediakan sebuah kamar privasi untuk ku saja sudah cukup.."
Dua orang petugas senior buru-buru mengantar Lu Sun ke ruang VVIP terbaik mereka.
Sampai di dalam kamar tersebut Lu Sun memberi tanda agar semua petugas keluar dari kamar tersebut tinggalkan dirinya sendiri di sana.
Para petugas buru-buru meninggalkan kamar tersebut dan pergi melaporkan kejadian ini ke direktur Rumah Sakit, prof Billy Teng yang masih terhitung mertua Lu Sun.
Prof Billy Teng yang mendapatkan laporan dari anak buahnya, dia sangat terkejut buru-buru datang ke kamar VVIP tersebut.
Sampai di sana setelah masuk kedalam kamar Prof Billy melihat menantunya duduk termenung sambil memegang tangan Ying Ying yang terbaring di ranjang seperti sedang tidur.
Prof Billy berjalan mendekati Lu Sun menepuk pelan bahunya dan berkata,
"Kamu jangan seperti ini..jaga kondisi mu.. yang pergi sudah tidak mungkin kembali."
"Kamu tidak boleh terus membuang energi mu seperti ini, kamu bisa terluka.."
Lu Sun menoleh menatap wajah ayah mertuanya yang sedang menatap dirinya dengan penuh pengertian.
"Dulu ketika ibu Xue Xue pergi, aku juga sama seperti mu saat ini, tapi akhirnya aku sadar.."
"Yang harus pergi tetap harus pergi, aku harus bertahan untuk buah hati kami, agar dia tenang di sana.."
ucap prof Billy penuh pengertian.
__ADS_1
Lu Sun mengangguk, kemudian dia bangun berdiri membungkuk mencium kening dan bibir Ying Ying dengan airmata bercucuran lalu berkata pelan.
"Selamat jalan sayang.. tunggulah aku setelah semua beres kita akan bertemu kembali.."