
"Ok kalau gitu kita deal.."
ucap Cherry penuh semangat sambil menyodorkan telapak tangan nya yang halus di depan Lu San.
Lu San tertawa dan berkata,
"Lihat kondisi ku gimana dealnya, paling paling bisa nya gini.."
Lu San menggunakan pipinya untuk menyambut telapak tangan Cherry yang halus
Wajah Cherry sedikit merah, menanggapi respon Lu San, dia jadi merasa seperti sedang membelai wajah suaminya dulu.
"Nah Lo, wajah nya jadi merah, jangan bilang, kakak mulai tertarik dengan ku.."
ucap Lu San sambil tertawa.
"Cih...anak kecil..tahu apa..?"
"Kalau ayah mu...sih... hmm boleh lah ."
ucap Cherry sambil mendongakkan wajah sedikit keatas dengan gaya lucu, sambil menaruh jari telunjuknya tepat di lesung pipinya seperti orang sedang berkhayal..
"Cihh...! ayah.... lebih baik lupakan saja, di hatinya cuma ada mama Ying Ying ibu kandung ku itu.."
"Bahkan mama Giok yang begitu cantik cerdas dan kaya pun tidak terlalu di lihatnya, bila mama Ying Ying ada."
"Apalagi kakak..selamat bermimpi deh.."
"Tapi kalau kakak serius mau cari suami, kurasa kak Peter Ho cocok deh dengan kakak.."
ucap Lu San sambil tertawa.
"Cih..kamu pikir kakak murahan sampai lagi obral cari suami apa.? . dasar.."
ucap Cherry menjewer telinga Lu San.. dengan pelan.
Lu San hanya menanggapinya dengan tertawa.
"Kak besok kalau Alicia atau Deborah datang menemui ku, temani aku menemui mereka.."
"Kakak nanti harus membantu ku melengkapi Sandiwara, bahwa aku memilih kakak menjadi pasangan ku, dan kakak harus melengkapi Sandiwara nya biar terlihat real ya kak.."
ucap Lu San
Cherry mengangguk dan berkata,
"Aku akan usaha kan, tapi apa kamu gak kasihan dengan mereka, terutama Debby, dia pasti akan kecewa sekali.."
"Dan gak bakal dapat kiriman Coy Pan kesukaan mu lagi, apa gak nyesel..?"
__ADS_1
tanya Cherry sambil tertawa
"Kangen tentu kangen, nyesal sudah pasti, karena aku juga sangat mencintainya, tapi justru karena aku terlalu mencintainya, maka aku hanya bisa ambil keputusan ini demi kebaikannya.."
"Sama seperti kakak yang memilih mundur dan bercerai dengan suami kakak..bukan begitu.."
ucap Andi pelan.
Cherry berhenti tertawa, dia menengadah sejenak melihat keatas, lalu menghapus dua butir air mata nya dan bergumam.
"Kak Leung semoga kamu bahagia.."
Saat sore di dalam ruangan Lu San di sana hadir Lu Sun Ying Ying Giok Lan, Afei Lu Dan dan Lu Fei juga nenek Lu.
Mereka semua hadir di sana, untuk menjemput Lu San kembali kerumah.
Deborah dan Alicia juga ikut hadir di sana meramaikan.
Lu San berusaha tersenyum senatural mungkin, agar tercipta suasana gembira.
Cherry selaku perawat Lu San yang membantu mendorong kursi roda.
Membawa Lu San menuju mobil.
Yang lainnya mengiringi dari belakang, lalu mereka beramai-ramai meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan beberapa mobil.
Mereka menemani Lu San duduk duduk dan ngobrol di taman samping dekat kolam ikan.
Cherry memilih duduk agak mundur menjauh dari mereka bertiga, karena statusnya saat ini adalah perawat Lu San.
Lu San berusaha bersikap ceria dan senatural mungkin ngobrol dan bercanda dengan kedua gadis itu.
Karena hari ini adalah hari terakhir mereka berjumpa, setelah hari ini besok Lu San akan mulai menjauh dari mereka.
Lu San sudah punya rencana, untuk menghabiskan sisa waktunya, yang tidak lagi begitu bermanfaat untuk seseorang yang hanya bisa duduk di kursi roda dan menggerakkan lehernya saja.
Di tempat lain, di dalam kamar Giok Lan, terlihat Giok Lan terduduk lemas sambil bercucuran air mata.
Belum tuntas kesedihan nya, akan keadaan putra kesayangannya.
Kini malah datang kabar bahwa pamannya Clooney Gunman baru saja meninggal di rumah sakit.
Akibat kendaraan nya menabrak pembatas jalan dan pohon.
Kabar yang datangnya tiba-tiba ini, membuat Giok Lan terduduk lemas seorang diri di sana.
Tidak tahu harus berbuat bagaimana..Dia hanya bisa duduk termenung sedih dengan airmata bercucuran mengenang semua kebaikan paman satu satunya itu.
Selain itu, setelah pamannya ini meninggal dia benar-benar kehilangan andalan satu satunya yang bisa dia percaya mengurus bisnisnya warisan ayahnya di sana.
__ADS_1
Kedepannya dia pasti akan sangat sibuk, tidak bisa sering di rumah seperti kemaren kemaren.
Giok Lan sangat bingung, di saat Lu San sedang seperti ini, di mana akan sangat membutuhkan perhatian.
Tapi di saat bersamaan dia malah kehilangan Paman nya yang paling dia percaya dan andalkan.
Lu Sun dan Ying Ying yang sedang asyik duduk santai sambil minum teh di balkon kamar Ying Ying yang menjadi tempat favorit mereka berdua bersantai.
Sama sekali tidak menyadari, as yang sedang di alami oleh Giok Lan di kamar sebelah.
Mereka hanya mengira Giok Lan sedang sibuk bekerja, sehingga memilih tidak mengganggunya.
Saat makan malam tiba, di mana semua sudah hadir di meja makan, hanya Giok Lan yang tidak hadir di sana Lu Sun baru menyadari ada ketidak beresan pada diri Giok Lan.
"Kalian semua lanjutkan saja makannya, jangan tunggu aku, aku mau pergi lihat Giok Lan dulu ."
ucap Lu Sun kemudian buru-buru meninggalkan ruangan makan
Saat pintu kamar di buka, kondisi kamar dibiarkan gelap gulita.
Setelah mengedarkan pandangannya, akhirnya Lu Sun menemukan
Giok Lan terlihat sedang duduk didekat balkon kamar sambil memeluk sepasang lutut nya.
Dia terlihat duduk menyendiri di temani kegelapan malam.
Lu Sun masuk kedalam kamar, menutup pintu, lalu berjalan menghampiri Giok Lan dan berkata,
"Sayang kamu kenapa ?"
Giok Lan menoleh kearah Lu Sun, berusaha tersenyum sambil menghapus airmata di pipinya dan berkata dengan suara sedih.
"Sun ke ke, barusan aku dapat kabar dari Amerika, Paman Clooney telah pergi meninggalkan kita.."
Lu Sun buru-buru maju mendekap kepala Giok Lan kedalam pelukannya dan berkata,
"Apa yang terjadi, mengapa begitu tiba tiba..?"
"John suami Nicole, tadi telpon, katanya aman meninggal karena kecelakaan, mobilnya menabrak pembatas jalan dan pohon.."
"Penyebab kecelakaan nya, masih belum di ketahui secara pasti, masih sedang di dalami oleh pihak kepolisian Amerika."
ucap Giok Lan memberi penjelasan sambil menahan tangis
Di dalam hati, Lu Sun sangat curiga,hal ini pasti ada hubungannya dengan Group Nagoya dan kelompok Wu Sin yang kelihatannya mulai bergerak.
Hanya dia memilih tidak mengatakannya sekarang, karena hanya akan menambah kesedihan dan kecemasan Giok Lan saja.
"Sayang kamu tenanglah makam ini juga kita bertiga akan berangkat ke Amerika, aku akan meminta pilot siapkan pesawat nya.."
__ADS_1