
Lu Sun memberi hormat sebelum bergerak pergi memeriksa gua yang disebut oleh kakek itu.
Di arah yang di tunjuk oleh kakek itu, Lu Sun menemukan sebuah tebing, yang ditutupi sebuah batu besar tebal dan datar.
Sekali lihat Lu Sun pun tahu, itu adalah sebuah pintu batu yang sangat tebal menutupi, mulut gua di mana sekelilingnya ada tebing batu alami.
Pada bagian paling samping sebelah kanan, Lu Sun menemukan sebuah lempengan halus, berbentuk persegi empat seluas 30 x 30 cm.
Di atas lempengan itu, Lu Sun menemukan 9 lubang kunci, setelah memeriksanya dengan teliti ukuran lubang kunci tersebut.
Lu Sun mencoba memasukkan satu persatu 9 kunci emas miliknya dan memutarnya dengan serentak.
Tapi sekali ini kunci tidak bisa di gerakkan, Lu Sun tidak berani memaksa.
Dia memeriksa kembali 9 kunci tersebut, Kemudian mencoba memutarnya satu persatu.
Ternyata berhasil, kini tahulah Lu Sun bahwa untuk membuka pintu saat ini, dia harus melakukannya dengan membuka kunci satu persatu.
Begitu kunci kesembilan di putar, pintu penutup gua bergetar hebat kemudian perlahan-lahan terbuka.
Di dalam terlihat tumpukan harta batangan emas yang tak terhitung lagi jumlahnya.
Tanpa ragu-ragu Lu Sun memindahkan semua, ke dalam gelangnya.
Lalu dia pun melangkah keluar dari dalam gua menutupnya kembali.
"Senior saya permisi dulu, terimakasih banyak, maaf telah banyak menganggu ketenangan anda di sini."
ucap Lu Sun sambil memberi hormat.
"Pergilah lanjutkan perjalanan hidup mu."
ucap kakek itu sambil tersenyum dan memberi kode agar Lu Sun meninggalkan tempat itu..
Lu Sun berkelebat menggunakan Jin Tou Yun meninggalkan tempat tersebut.
Saat melewati danau di mana Shanti Dewi berada, Lu Sun tidak dapat menahan dirinya untuk melirik kearah danau yang sepi tersebut.
Lu Sun hanya melihat danau yang sepi dan tenang tidak terlihat ada siapapun di sana.
Lu Sun kemudian melanjutkan terbangnya melewati kawasan hutan lebat tempat kera salju Samapi berada.
Akhirnya Lu Sun mendarat persis di depan pintu portal dimensi yang dia lalui kemaren.
Tanpa ragu Lu Sun melangkah masuk ke dalam portal tersebut, yang setelah di lewati.
__ADS_1
Lu Sun kembali ke lokasi gua di balik air terjun yang kini berhenti mengucur sama sekali.
Lu Sun memasukkan kesembilan kunci dan menutup pintu gua itu kembali.
Begitu pintu gua terkunci air terjun kembali mengucur dengan deras mengisi air di kolam yang hampir kering.
Lu Sun berdiri di pinggir kolam menatap kearah gua di balik air terjun sambil tersenyum.
Dia terbayang satu persatu peristiwa pertualangan yang dia alami di balik air terjun tersebut.
Setelah menghela nafas panjang sebanyak 3 kali, Lu Sun kemudian membalikkan badannya.
Melangkah meninggalkan tepian kolam lalu melesat ke udara menggunakan Jin Tou Yun meninggalkan pulau tersebut kembali kerumahnya.
Tiba di rumah hari sudah sore Lu Sun mendarat ringan di balkon kamar Ying Ying.
Lu Sun masuk kedalam kamar memeriksa, apakah Ying Ying sudah kembali.
Ternyata kamar sepi gakda siapa-siapa, Lu Sun keluar dari kamar, mampir ke kamar anaknya Lu San.
Kedua suster yang sedang menjaga Lu San yang sedang tidur pulas.di kasurnya.
Sedikit terkejut saat dari arah pintu kamar yang terbuka muncul kepala Lu Sun.
Tapi mereka melihat kode dari Lu Sun yang meminta mereka agar jangan bersuara.
Lu Sun menutup kembali pintu kamarnya, kemudian dia beralih ke kamar Xue Xue, tapi di sana dia juga menemukan kamar kosong.
Lu Sun masih penasaran dia membuka pintu kamar Giok Lan, di sini pun sama Lu Sun hanya menemukan kamar kosong.
Hanya terlihat laptop kerja Giok Lan yang masih dalam posisi menyala.
Lu Sun dengan sedikit kecewa menutup pintu kamar tersebut kembali.
Lalu berjalan menuruni tangga, menuju lantai dasar, dimana ruang tamu terlihat sepi.
Tapi Lu Sun mencium aroma masakan mie goreng yang sangat kuat, berasal dari dapur.
Lu Sun pun melangkahkan kakinya kesana, Lu Sun berdiri terpaku menatap punggung gadis cantik yang terlihat sedang sibuk masak.
Gadis cantik tersebut terlalu fokus dengan masakan mie goreng yang sedang dia olah.
Sehingga tidak menyadari, di belakangnya kini hadir seorang pria bertubuh tinggi besar sedang asyik menatap bagian punggungnya dengan tatapan mata dipenuhi rasa kagum.
Gadis itu mengenakan kaos tanpa lengan yang berbahan tipis dan halus, saking tipisnya.
__ADS_1
Pakaian d*lamnya bagian punggungnya menerawang.
Sedangkan bagian bawahnya dia mengenakan celana super pendek dan agak ketat, sehingga bagian pinggulnya yang bulat terlihat sangat menawan.
Rambutnya yang hitam panjang dan lurus di ikat agak keatas mirip ekor kuda, menampilkan bagian lehernya yang jenjang putih dan mulus.
Sepasang lengan dan kakinya yang panjang juga sangat menawan, karena ditunjang dengan kulit yang sangat putih dan halus.
Untuk bagian depan nya karena sedang masak dia mengenakan sebuah celemek panjang yang yang menutupi tubuh bagian depan nya, hingga keatas lutut.
Lu Sun yang berdiri di sana menatap dengan sangat antusias hingga menelan ludahnya sendiri.
Lu Sun melangkah dengan hati-hati dari belakang secara pelan-pelan.
Kemudian setelah tepat berada di belakangnya, Lu Sun melingkarkan sepasang tangannya yang besar di pinggang gadis itu.
Sambil mencium tengkuk gadis itu dengan mesra.
"Aihhh..!!"
Gadis itu terlonjak kaget dan menjerit kecil,
saat dia merasa ada tubuh yang menempel erat di punggungnya, dengan sepasang tangan yang besar kini sedang melingkar di pinggang nya yang ramping.
Gadis itu semakin terkejut saat merasa bagian tengkuknya yang sensitif kini sedang di ciumi dengan hangat oleh orang yang berdiri dibelakangnya.
Saking terkejutnya serokan alat masak ditangannya sampai terlepas dari pegangannya, jatuh berkerontangan membentur kuali yang berisi Mie goreng yang ada dihadapannya.
Gadis itu berusaha meronta untuk melepaskan diri, sambil berkata dengan suara galak dan bernada tinggi.
"Hentikan...! lepaskan aku bangsat ..!"
"Ihhh..! jangan disana...aduh geli...! lepaskan aku bangsat...! jangan...ahh..!"
Teriak gadis itu semakin panik saat pria di belakangnya bukan nya berhenti, setelah dia teriaki.
Tapi malah tangannya bergerak semakin liar menjalar kemana-mana, menyentuh dan membelai bagian sensitif ditubuhnya yang sangat privasi.
"Ahhh...! jangan...jangan... lepaskan aku...Ahhh..! mmmphh...!"
Gadis itu tidak bisa bersuara lagi karena bibir gadis itu kini tertutup oleh pria yang mendekapnya dari belakang itu.
Gadis itu hanya bisa menatap dengan sepasang mata terbelalak indah.
Menyiratkan ketakutan dan ketidakberdayaan, seperti mata seekor kelinci yang terpojok oleh seekor serigala kelaparan.
__ADS_1