
Setelah memberi pesan Lu Sun berjalan santai kembali ke ruangan kantor guru.
Sampai di ruangan kantor guru, kantor masih terlihat sepi, mungkin yang lainnya masih sibuk ngajar pikir Lu Sun.
Tapi dia tidak terlalu ambil pusing, dia menghampiri tempat duduknya.
Lu Sun duduk dengan santai di sana, sambil memandangi foto ketiga istrinya, dia bergumam sendiri.
"Kalian jangan khawatir, dengan bekerja di sini aku lebih bisa mengawasi dan menjaga mereka dengan baik.."
Lalu Lu Sun mengeluarkan sebuah buku agenda mencatat nama-nama beberapa murid yang akan di persiapkan nya, untuk mengikuti berbagai perlombaan yang mewakili sekolah Kuang Ming.
Setelah mencatat berbagai hal hal penting di agendanya, sebagai pengingat baginya, sampai di mana proses latihan yang dia berikan ke muridnya itu.
Lu Sun melakukan hal ini, karena murid sekolah Kuang Ming cukup banyak, baru kelas satu SMA saja sudah mencapai 5 kelas dengan masing-masing kelas terdiri dari kurang lebih 40 orang murid.
Begitu pula dengan kelas dua dan kelas tiga SMA, jumlah kelas dan murid pun sama persis dengan SMA kelas 1.
Sedangkan untuk murid SMP lebih banyak lagi,
Murid SMP terdiri dari 3 tingkatan, setiap tingkatan memilki 6 kelas dengan jumlah murid setiap kelasnya mencapai lebih kurang 45 orang.
Dengan murid sebanyak itu, bila Lu Sun tidak melakukan pencatatan di buku agenda, dengan memori di kepalanya yang terbatas.
Tidak mungkin dia bisa mengingat semuanya dengan rinci, satu persatu.
Saat pencatatan Lu Sun selesai, beberapa guru mulai berdatangan masuk kedalam ruangan.
Diantaranya ada si Jemmy Tan si biang kerok kehebohan.
Lu Sun menyambut kedatangan mereka, dengan anggukan kecil sambil tersenyum ramah.
Pelan-pelan ruangan yang tadinya sepi mulai ramai, Lu Sun yang tidak terlalu suka dengan keramaian dan gosip.
Setelah menyimpan foto ketiga istrinya kedalam laci dan merapikan mejanya.
Lu Sun langsung keluar dari ruangan kantor para guru.
Lu Sun langsung merapikan mejanya, karena setelah kelas mengajarnya selesai, dia akan langsung pulang bersama ketiga anaknya.
Tidak akan kembali ke kantor lagi.
Lu Sun duduk di bawah sebuah pohon rindang, menatap foto Ying Ying yang ada di HP nya dan berkata seorang diri.
"Aku sungguh sungguh sangat merindukan mu, apakah kamu sudah reinkarnasi ? atau masih tertahan di atas sana menunggu antrian.."
"Sudah sekian tahun berlalu, mereka selalu membujukku melupakan diri mu dan merelakan kepergian mu.."
"Aku juga tahu, itu adalah satu satunya cara, agar aku bisa keluar dari kehidupan yang menyedihkan dan sangat melelahkan ini."
"Aku juga tahu bila aku terus seperti ini, ini sangat tidak adil bagi mereka berdua."
"Berbicara memang mudah, tapi melakukannya benar benar sangat sulit, aku sudah berusaha mencobanya."
__ADS_1
ucap Lu Sun sambil menghela nafas sedih.
"Tapi bagaimana pun aku berusaha, tetap saja aku tidak bisa melupakan mu, mungkin takdir kita sudah habis."
"Tapi tali perjodohan yang mengikat kita belum benar-benar putus, sehingga seumur hidup ku ini, aku rasa aku tidak akan pernah bisa melepaskan nya."
"Selama ini kamu yang paling mengerti aku, selain kamu, aku tidak tahu harus bicara dengan siapa lagi."
Tiba-tiba HP Lu Sun berbunyi, menyadarinya dari lamunan, Lu Sun melihat telpon masuk dari Giok Lan.
Dia pun mengangkatnya dan berkata,
"Ya sayang ada apa ?"
"Kamu ada di mana sayang ?"
tanya Giok Lan lembut.
"Aku sedang bersantai di bawah pohon yang rindang."
ucap Lu Sun sambil mengarahkan HP nya ke pemandangan di sekitarnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sana ?"
tanya Xue Yen yang tiba-tiba ikut muncul wajahnya di layar HP Lu Sun.
"Sedang ngobrol dengan kedua istri ku yang cantik jelita...."
"Gombal..."
ucap Xue Yen sambil tersenyum senang.
"Benar tuh, paling paling dia sedang berbicara sendiri lagi sambil menatap foto kak Ying Ying."
ucap Giok Lan sambil tertawa nakal.
Lu Sun tersenyum Canggung karena rahasianya, ditebak dengan sangat tepat oleh Giok Lan yang cerdik.
"Sun ke ke kenapa kamu harus terus seperti ini,? apa kamu mau seperti ini, hingga kami semua pergi kamu baru puas ?"
tanya Xue Yen jengkel dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Lu Sun terdiam tidak berani menjawab, dia juga tidak tahu mau jawab apa.
Perdebatan ini akhir-akhir ini sering muncul, terutama datang dari Xue Yen yang cemburuan.
Ini juga salah satu alasan, Lu Sun pergi mengajar, agar lebih punya waktu privasi, melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Melihat sikap Lu Sun, Xue Yen sedikit menyesal dengan sikap nya yang terlalu keras.
Apalagi Giok Lan juga memberi kode padanya agar jangan terlalu menekan Lu Sun.
"Kamu sudah makan belum ?"
__ADS_1
tanya Xue Yen mengalihkan topik.
Lu Sun kembali mengangkat kepalanya menatap layar HP dan berkata,
"Aku lebih suka masakan mu, nanti pulang sekolah baru makan di rumah bersama anak-anak."
Tiba-tiba terdengar bunyi bel panjang tanda jam istirahat siang sudah habis.
Lu Sun buru-buru berkata,
"Sayang maaf, aku masih punya kelas setelah ini, nanti kita bicara lagi saat di rumah ok ?"
"Xue Yen dan Giok Lan terpaksa mengangguk dan berkata,
"pergilah ngajar sana..."
"Bye..love u.."
ucap Lu Sun kemudian mematikan HP nya.
dan bergegas menuju ke kelas jadwal mengajar dia.
Sampai di kelas Lu Sun terkejut, Karena di kelas tersebut dia hanya melihat ada seorang murid saja yang sedang menanti kedatangannya.
Sedangkan murid yang lain tidak ada satupun yang terlihat berada di sana.
Dengan heran Lu Sun bertanya pada murid di hadapan nya,
"Siapa nama mu ? kemana rekan-rekan mu yang lain ? kenapa cuma ada kamu..?"
Sambil memberi hormat Kearah Lu Sun, murid itu berkata,
"Nama ku Roby,.. guru Lu."
"Aku memang sengaja di tugaskan untuk menanti kedatangan guru Lu di sini."
"Semua teman teman ku, kini sudah ada di gedung olahraga, menanti kita di sana.."
ucap Roby memberi penjelasan.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?"
tanya Lu Sun ke Roby, sambil.melangkah menuju gedung olahraga.
"Tadi saat istirahat siang, kami mendengar cerita dari adik kelas kami, bahwa guru Lu tidak suka mengajar teori di dalam kelas."
"Guru Lu lebih suka mengajar praktek langsung di lapangan, jadi untuk menghemat waktu."
"Kami semua memutuskan langsung menanti guru Lu di gedung olahraga saja.."
ucap Roby sambil menjejeri langkah kaki Lu Sun.
Lu Sun tidak tahu saat istirahat siang tadi, gosip mengenai, segala kemampuannya mengajar yang mengagumkan telah menyebar di mana mana.
__ADS_1