KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
KERIBUTAN DI LANTAI 30


__ADS_3

Untungnya ada seorang sepasang kakek nenek penghuni apartemen tersebut yang ingin keluar dari pintu tersebut.


Bila di lihat dari pakaian yang mereka kenakan, sepertinya mereka adalah pasangan tua yang ingin ikut senam pagi, di taman depan apartemen mewah ini.


Melihat kedatangan mereka, Lu Sun pura-pura periksa kantong mantelnya, mencari cari sesuatu.


Si kakek menggunakan sebuah kartu penghuni apartemen di tempelkan pada sebuah sensor kecil di dekat pintu kaca.


Maka pintu kaca lobby pun terbuka secara otomatis.


Saat mereka keluar, Lu Sun pun berpapasan dengan mereka dan masuk kedalam.


Saat berpapasan Lu Sun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kearah kedua orang tua itu.


Kedua orang tua itu juga tersenyum ramah menganggukkan kepala mereka kearah Lu Sun.


Lu Sun tidak khawatir karena dia saat ini menggunakan wajah penjahat itu.


Sedangkan kedua orang tua itu juga tidak terlalu menaruh curiga, karena di gedung apartemen ini.


Khusus nya lantai 30 hampir seluruh kamar di sana, di huni oleh orang orang yang berwajah mirip seperti Lu Sun.


Wajah dan bentuk tubuh yang khas sangat berbeda dengan wajah bangsa Han.


Wajah dan postur tubuh mereka adalah wajah campuran Han bukan Arab bukan, India bukan, Rusia juga tidak.


Tapi wajah percampuran ini justru membuat mereka terlihat tampan dan cantik-cantik.


Saat Lu Sun ingin menggunakan lift menuju lantai 30, dia kembali mengalami halangan.


Tanpa kartu anggota, Lu Sun bisa masuk kedalam lift tapi dia tidak bisa naik ataupun turun.


Lu Sun diam diam mengumpat dalam hati,


"Anjing benar ini apartemen, benar benar merepotkan.."


Untuk itu Lu Sun terpaksa melewati tangga darurat dan berjalan kaki secara manual.


Menurut petunjuk lokasi dari Viktor, kelompok itu, hampir seluruhnya menghuni lantai 30.


Bila orang lain yang menghadapi situasi seperti Lu Sun saat ini, setelah sampai ke lokasi sebelum terjadi keributan di sana, orang itu pasti sudah mati kelelahan


Boro-boro bertarung, untuk melangkah saja masih menjadi tanda tanya besar.


Tapi Lu Sun berbeda, dia dengan ringan melesat menuju lantai 30.


Bahkan di bandingkan dengan lift, masih lebih cepat Lu Sun tiba di lokasi.

__ADS_1


Lu Sun melihat dan mencari nomor kamar 333, menurut info Victor di sanalah markas pusarnya.


Setelah melihat-lihat nomor kamar satu persatu di sana, akhirnya Lu Sun menemukan pintu kamar 333 yang dia cari.


Lu Sun menekan tombol bell kamar, sesaat kemudian Lu Sun mendengar langkah kaki beberapa orang sedang berjalan kearah pintu.


Lu Sun tahu mereka sedang mengintipnya dari lubang pintu, memastikan siapa dirinya, sebelum membuka pintu.


Lu Sun sengaja tersenyum dan melambaikan tangannya kearah mereka, yang berdiri di balik pintu.


Tak lama kemudian pintu terbuka, terlihat sebuah kepala nongol dari dalam kamar dan berkata, dalam bahasa mereka


"Hei Haidar..ada apa anda kemari ? bukannya anda sedang bertugas di Nanjing,...?"


Sebelum sempat bertanya lebih lanjut, Pintu kamar ditendang dari luar oleh Lu Sun hingga terpental terbuka.


Pintu kamar yang copot dari engselnya, langsung menimpa, beberapa sosok bersenjata senapan mesin Ak 47.


Begitu pintu terbuka lebar Lu Sun melangkah masuk kedalam ruangan tanpa banyak bicara dia terus menembakkan Wu Xiang Cien Chi.


Ke siapa pun yang berada di dalam ruangan tanpa pilih pilih.


Dalam waktu sekejap potongan kepala berserakan di mana mana.


Ada beberapa yang sempat menembakkan senjata mereka kearah Lu Sun, tapi tanpa menghiraukan berondongan peluru, yang tidak bisa menyentuh dirinya.


Dia mengacungkan pistolnya ditangannya kearah Lu Sun dengan tangan gemetar dan wajah pucat.


"Haidar apa yang kamu lakukan..? kamu sudah gila ya ? kita ini bersaudara.. kenapa ?"


ucap pria itu dalam bahasa mereka.


Lu Sun tersenyum dingin dan berkata dalam bahasa Han.


"Haidar sedang menunggu mu di atas sana, hari ini bahkan tuhan mu tidak akan bisa menolong mu.."


"Kamu,...kamu... kamu... siapa ?"


ucap pria itu gugup dalam bahasa Han yang lancar.


Lu Sun tersenyum dingin dan merubah penampilannya ke bentuk asli.


"Lihatlah dengan puas agar bisa lapor pada Tuhan mu, ha..ha...ha..ha...!"


ucap Lu Sun sambil tertawa.


Pria itu langsung meletuskan pistol di tangannya berkali kali sambil berteriak,

__ADS_1


"Argghh...! keparat...! Dor...dor...dor...dor...! mati kamu...!"


"Ceklek...Ceklek...Ceklek...!"


akhirnya pelurunya habis.


Tapi Lu Sun masih berdiri di hadapannya sambil tersenyum dingin dan terlihat tanpa kurang apapun.


Wajah pria itu menjadi sepucat kertas, sebelum sempat berteriak, kepalanya hingga tubuhnya telah terkena tebasan Wu Xiang Cien Chi.


Sehingga terbelah dua dengan posisi tebasan memiring.


Pelan-pelan tubuh itu terbelah dua, melorot ke bawah.


Lu Sun menghampiri ke arah sebuah meja panjang yang berisi sederet komputer.


Lu Sun mengcopy semua file penting yang berhubungan dengan kegiatan kelompok itu, berikut rencana mereka.


Di saat Lu Sun sedang sibuk melakukan copy data.


Dari arah kamar kamar lain yang mendengar suara keributan tembakan, para penghuni di sana, pada keluar membawa senjata AK 47 dan granat bergerak mengepung kamar 333.


Di mana Lu Sun masih berada di dalam nya, sedang menunggu copy data.


Mendengar pergerakan di depan sana, Lu Sun tersenyum dingin berjalan keluar dari dalam kamar, menuju ruang tengah yang sudah berantakan dengan mayat malang melintang di mana mana tanpa kepala.


Sedangkan para pengepung yang berdatangan, saat melihat apa yang terjadi dengan teman-teman mereka, mereka hampir muntah.


Saat melihat kemunculan Lu Sun dalam wujud Haidar dengan kemarahan memuncak mereka menembakkan berbagai jenis senjata di tangan mereka kearah Lu Sun.


Tapi semua teriakan dan tembakan yang mereka lepaskan, tidak ada satupun yang berhasil melukai Lu Sun.


Sebaliknya begitu Lu Sun melepaskan serangan balik satu persatu mereka tumbang dengan tubuh terbelah.


Tapi Lu Sun harus akui mental orang orang ini patut di acungi jempol meski melihat situasi seperti ini di hadapan mereka.


Mereka tidak ada satupun yang memiliki tanda-tanda akan melarikan diri, mereka terus merangsek menembaki dan melempar granat tangan kearah Lu Sun.


Tapi serangan mereka semua sia sia, serangan mereka tidak berarti sama sekali bagi Lu Sun.


Mereka bagaikan sekumpulan ngengat yang nekad menerjang kedalam api, meski tahu di sana mereka bakal kehilangan nyawa.


Tapi mereka tetap dengan nekad menerjang kesana.


Lu Sun melepaskan aura Naga nya, untuk mempermudah gerakannya menghabisi lawannya yang tidak bisa bergerak.


Kini para pengepung mulai melotot ketakutan, menatap kearah Lu Sun seperti melihat monster ganas.

__ADS_1


__ADS_2