
Di tempat lain, Afei berdiri berhadapan dengan Michiko, Afei menatap Michiko seperti orang bodoh.
Dia benar-benar terpesona oleh kecantikan gadis cilik itu, Sukma Afei seolah-olah terbetot keluar oleh kecantikan gadis itu.
"Bajingan tidak tahu malu, apa yang kamu lihat..!?"
teriak Michiko marah, dia merasa sangat malu di lihatin oleh Afei dengan cara seperti itu.
Apalagi saat teringat kejadian di lapangan,di mana secara tidak sengaja Afei menyentuh bagian rahasianya.
Wajahnya langsung tersipu merah, emosinya langsung meledak.
Tanpa dapat mengendalikan diri lagi, dia langsung melesat kearah Afei dengan tebasan telapak tangan yang mengeluarkan sinar bulan sabit biru.
Afei segera tersadar dari lamunannya, saat instingnya menangkap ada bahaya besar sedang bergerak mengancam dirinya.
Afei segera mengangkat kedua tangannya keatas lalu melakukan putaran setengah lingkaran, kemudian mendorongnya kedepan.
Terdengar suara raungan naga, kemudian seekor naga mas merah melesat ke depan dengan mulut terpentang lebar.
Benturan di udara terjadi, mereka berdua sama sama terdorong mundur beberapa langkah,. menunjukkan kekuatan mereka cukup berimbang.
Michiko kini mulai memainkan Jurus Penahluk Phoenix mengimbangi Afei yang memainkan jurus Penahluk Naga.
Pertukaran serangan dan benturan berulang ulang pun terjadi di udara dan diatas tanah.
Angin pukulan mereka berdua menderu deru, mewarnai pertempuran mereka.
"Nona tunggu...ada masalah kita bisa bicarakan baik-baik..!'
"Tidak perlu sampai mengadu nyawa seperti ini.!"
"Tangan dan kaki tidak punya mata, Setiap saat bisa melukai kita .."
teriak Afei sambil bertarung melayani serangan Michiko.
"Tidak usah banyak bacot...! malam ini aku akan membuat mu membayarnya dua kali lipat....!"
teriak Michiko marah, tanpa menghentikan serangannya.
Afei masih mencoba membujuknya sambil menghindar dan menangkis serangan yang di lancarkan oleh Michiko.
"Nona,.. maafkan aku atas kejadian siang tadi, aku benar-benar tidak punya maksud untuk menyentuh.."
"Tutup mulutmu yang kotor...! serahkan nyawa mu.. untuk menebusnya..!"
teriak Michiko marah bercampur malu.
Sambil mengigit bibirnya sendiri, dia mempergencar serangan nya, tubuhnya menghilang berubah menjadi seekor Phoenix api yang melesat menerjang kearah Afei.
__ADS_1
Afei yang melihat tidak ada jalan mundur terpaksa menyambut nya dengan keras lawan keras.
Tubuh Afei juga berubah menjadi seekor naga yang mengeluarkan raungan menggetarkan, melesat kearah Phoenix yang mengeluarkan pekik nyaring.
Baik Phoenix maupun naga saling mengeluarkan Api membakar area sekitar tempat pertarungan hingga gosong.
Phoenix dan Naga saling berbelit-belit dan bertarung dengan sengit diudara, sesekali Afei dan Michiko kembali ke Wujud manusia nya.
Saling menjauh, kemudian kembali menyatu, berubah menjadi naga dan Phoenix yang kembali saling serang dengan ganas.
Raungan dan pekik dahsyat mewarnai pertarungan mereka berdua.
Dalam satu kesempatan Michiko yang menyerang kearah wajah Afei dengan sepasang cakarnya.
Di hadapi Afei dengan sepasang cakar yang sama hanya berbeda kekuatan.
Sepasang cakar mereka bertemu saling cengkram, saling dorong dan saling tarik.
"Lepaskan tangan mu bajingan..!"
teriak Michiko marah, karena dia mulai merasa malu.
Mereka saat ini terlihat tidak seperti sedang berkelahi.
Melainkan saling berpegangan tangan dan tarik menarik, seperti pasangan yang sedang ribut kecil.
"Tidak akan..kecuali kamu berjanji menghentikan pertarungan konyol ini.."
Kamu...! bangsat ..aku benci pada mu...!"
teriak Michiko marah.
"Mampus Lah...!"
teriak Michiko sambil melayang kan sepasang kakinya menjejak kearah dada Andi.
Andi yang tidak ingin melepaskan pegangan tangannya dari Michiko, tapi juga tidak ingin terkena tendangan brutal sepasang kaki Michiko yang kecil tapi dahsyat.
Terpaksa Andi memiringkan tubuhnya, dengan Wu Xiang Sen Kung.
Tubuh Afei menjadi tipis dan tepat menyelip diantara sela sela kaki Michiko.
Michiko tentu sangat terkejut, dia tentu tidak bersedia tubuh Afei menyelip masuk membentur bagian sensitifnya.
Bila terjadi ingin akan semakin memalukan, Michiko buru buru merapatkan kedua paha dan betisnya.
Menjepit tubuh Afei kemudian dengan menarik tubuhnya ke bawah membuat gerakan bersalto.
dia menarik dan membanting tubuh Afei kebawah.
__ADS_1
Sedangkan dirinya kini berada di atas tubuh Afei, karena terbanting secara tiba-tiba, cengkraman Afei pada tangan Michiko pun terlepas.
Sambil duduk diatas dada Afei, Michiko menyerang wajah Afei secara bertubi-tubi dengan sepasang cakar nya.
Afei sebisa mungkin menangkis dan menghindar, melindungi wajah panca indera dan kepala nya dari serangan Michiko yang cepat dan ganas
Tapi berhubung ruang gerak Afei sangat terbatas, beberapa cakaran dan cengkraman sepasang cakar Michiko berhasil melukai telinga pelipis pipi dan dagu Afei hingga berdarah.
Wajah Afei menjadi berlumuran darah, untungnya beberapa kali cengkraman kearah leher berhasil Afei tangkis.
Tiba-tiba sepasang kaki Afei yang lentur dan busa memanjang membelit dan mengunci bahu dan melingkar di leher belakang Michiko.
Yang dengan kuat menjepit mencekik leher dan bahu Michiko lalu di tarik kearah sela sela paha Afei.
Michiko menjadi gelagapan meronta ronta tak berdaya, segala jurus dan tenaga saktinya kehilangan fungsi.
Di samping merasa nyeri di bagian bahu dan leher, dia juga merasa panik dan malu, karena wajahnya jadi menempel dekat dengan bagian rahasia Afei yang tepat berada didepan matanya.
Michiko hanya bisa menggerakkan sebelah tangannya berusaha mendorong perut Afei agar dia bisa melepaskan diri.
Tapi malang baginya, semakin dia meronta jepitan Afei semakin kuat dan dia semakin merasa nyeri di bagian bahu dan leher belakangnya.
Dia sampai menitikkan air mata menahan rasa nyeri, karena bagian tersebut seolah olah mau patah di buat Afei.
Sebenarnya gerakan asal asalan ini, tidak pernah ada yang mengajari Afei.
Gerakan ini muncul secara kebetulan saat, Afei Lu San dan Lu Dan sedang bermain gulat ditaman.
Michiko tidak bersedia menyerah, dia masih terus berusaha melepaskan diri dari jepitan Afei.
"Menyerahlah,..dan berjanji tidak akan pernah menyerang ku lagi..maka aku aky melepaskan mu.."
ucap Afei memberikan tawaran, karena merasa kasihan dengan Michiko.
Gadis cantik yang telah merebut perhatian nya itu, bila tidak terpaksa Afei tidak bakal bersedia melayani gadis itu dalam pertarungan Adu nyawa.
Sebenarnya banyak kesempatan bagi Afei untuk merobohkan gadis itu, tapi Afei tidak tega melakukannya, Afei tidak ingin mencederai gadis itu dengan berat.
Dengan selisih kemampuan mereka yang berbeda tipis, hal itu menjadi agak sulit.
"Ti...dak..Sudi...lebih baik...aku mati...!"
ucap gadis itu dengan keras kepala.
Tapi rontaan nya semakin lama semakin lemah,Michiko mulai kehabisan tenaga, saking lelahnya tangannya kini hanya memegangi perut Afei yang berotot dengan tak berdaya.
Sedangkan wajah nya kini benar-benar menempel pasrah di benda rahasia Afei.
Setelah berpikir lama dan menimbang bolak balik, akhirnya Michiko mengeraskan hati nya,
__ADS_1
Sambil memejamkan matanya.
Dia memutar sedikit kepalanya membuka mulutnya lebar-lebar.