
Kenapa dia bisa sampai berlumuran darah seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi batin Monica.
Monica masih ragu-ragu meninggalkan tempat itu, tanpa perlindungan dari Lu Sun, dia tidak yakin dengan stok pelurunya yang ada, dia bisa keluar dari tempat ini dengan selamat.
Di dalam kamar sel tahanan kembali terdengar suara gedebak-gedebuk orang saling melepaskan pukulan yang sangat keras.
Tiba-tiba Sosok Lu Sun kembali terlempar keluar dari dalam ruangan, kini kondisinya lebih mengenaskan lagi.
Setelah memuntahkan darah beberapa kali dan berusaha bangun dengan tubuh terhuyung-huyung dia kembali berjalan masuk kearah kamar tahanan sambil berkata,
"Cepat....pergi...!"
Suara Lu Sun terdengar gemetar.... mungkin akibat luka parah yang di deritanya, dia sudah kesulitan berbicara dengan jelas.
Monica menggigit bibirnya sendiri dengan erat, lalu dia mengeraskan hati nya, mengikuti anjuran Lu Sun.
Dia memutar tubuhnya berlari meninggalkan tempat itu dengan linangan air mata.
Dia saat ini sangat putus asa, satu-satunya harapan pertolongan yang bisa membantunya kini juga terluka parah.
Mungkin dalam waktu dekat ini orang tersebut juga akan mati menyusul Jeff Zhang temannya.
Monica cukup hafal jalan untuk keluar dari penjara ini, dia berlari sambil menggenggam pistolnya erat-erat.
Tidak ada tahanan yang berani menghalangi jalannya, Monica berlari keluar dari area sel tahanan menuju ruang penerimaan tamu.
Begitu keluar dari area sel tahanan, keadaan kembali menjadi gelap gulita.
Monica kini menyalakan senter HP nya sebagai penerangan, setengah berlari berusaha secepatnya tiba di ruangan penerimaan tamu.
Setelah berlari beberapa saat, akhirnya Monica tiba di ruang penerimaan tamu yang di tuju nya.
Sebenarnya ada 3 jalan untuk keluar dari area penjara, 1 melalui klinik nya, dua melalui kantor Jeff Zhang, ketiga yang paling dekat dengan posisinya saat ini adalah melalui ruang penerimaan tamu.
Monica bergegas menggunakan kartu pasnya ditempelkan di alat scan dekat pintu keluar masuk.
Setelah itu dia memasukkan beberapa digit kata sandi pintu pun terbuka.
Meski listrik padam tapi kunci pintu otomatis ini terhubung dengan generator cadangan.
Sehingga pintu tidak terpengaruh dengan listrik nyala maupun padam, dia akan on terus dalam berbagai situasi.
Kecuali servernya dirusak dari ruang kontrol, bila tidak dia akan tetap berfungsi normal.
Monica menghela nafas lega begitu pintu keluar terbuka, begitu pintu terbuka Monica sangat terkejut dengan siapa orang yang berdiri muncul di hadapannya.
__ADS_1
Pria itu hanya tersenyum dingin menatapnya, dan langsung meninju wajah Monica, merebut pistolnya disaat Monica sedang kesakitan memegangi hidungnya yang berdarah.
Monica tentu saja berusaha melawan mempertahankan pistolnya.
"Dorr...Dorrr...!"
terdengar letusan pistol Monica, akibat tertarik pelatuknya oleh Monica saat mencoba mempertahankan pistolnya.
Sayang nya pistol Monica meletus ke arah kaca Anti peluru, sebagai pembatas antara tahanan dan pengunjung.
Pria itu dengan kasar meninju perut Monica, hingga Monica tubuhnya melengkung seperti udang kering.
Monica merasa perutnya mules sampai sulit bernapas, pistol ditangannya terlepas direbut pria itu.
Pria itu memgunci pistol dan menyimpan nya, dibagian belakang pinggangnya.
Lalu dengan kasar dia menyeret rambut Monica menuju ruangan lain, dia melempar tubuh Monica yang berusaha melawan dan meronta ke atas sebuah ranjang besi.
Dia menampar wajah Monica dengan keras, hingga Monica terhempas keatas ranjang dan menangis menahan sakit.
Pria itu dengan kasar menarik tangan Monica yang tak berdaya untuk di borgol dan di satukan dengan ujung kiri kanan ranjang.
Monica sangat terkejut dia berusaha meronta dan menendang kesana kemari berusaha melepaskan diri.
Tapi percuma saja, kedua tangannya kini terikat bahkan untuk bangun pun tidak bisa.
Pria itu berjongkok mengambil pisau lipat yang tergeletak di lantai, lalu berdiri kembali mendekati Monica.
Pria itu mengerakkan pisau itu didepan wajah Monica, yang menatapnya dengan pucat ketakutan tidak berani meronta atau bergerak lagi.
Perlahan-lahan pisau itu diturunkan kearah leher Monica yang putih mulus.
"Apa...apa... yang kamu inginkan...."
tanya Monica terbata-bata.
Pria itu tidak menanggapi pertanyaan Monica dia terus menurunkan nya menuju dada Monica.
Kemudian dia memotong kancing kemeja Monica satu persatu.
Monica semakin ketakutan merasakan pisau yang dingin dan tajam menempel di dadanya.
"Jangan... jangan...ku mohon jangan...!"
teriak Monica dengan suara tertahan dan panik.
__ADS_1
Wajah nya semakin pucat ketakutan, sepasang matanya terbelalak ketakutan.
Pria itu tidak memperdulikan permintaan Monica dia terus memotong kancing baju Monica hingga terlepas semua.
Lalu dengan ujung pisau dia mencungkil baju Monica ke kiri dan ke kanan sehingga terbuka lebar.
Menampilkan dadanya yang membusung indah tertutup bra hitam yang seperti kekecilan tidak bisa menampung sepasang bukitnya yang kebesaran.
Pria itu kini mengarahkan ujung pisaunya membelah bagian tengah-tengah, diantara dua bukit yang menjulang.
"Jangan...tolong...jangan lakukan itu..."
ucap Monica ketakutan kini dia memejamkan matanya sambil memiringkan kepalanya dengan ngeri.
Pria itu tersenyum menyeringgai, lalu dia memotong tali penghubung kedua penutup dada Monica, dengan sekali sentakan pelan.
Maka terbukalah kedua penutup yang kekecilan itu, sehingga kedua bukit yang tertahan di balik penutup kini terbebas sempurna.
Menampilkan ujung bukitnya yang berwarna pink sangat menggoda dan menggemaskan.
Melihat pemandangan tersebut di depan mata, tanpa sadar pria itu menelan ludah sehingga jakunnya terlihat naik turun.
Monica terkejut saat merasa bagian dadanya terasa dingin, dia membuka matanya melihat apa yang terjadi.
Melihat dadanya yang selalu dia rawat dengan hati-hati kini terbuka lebar, dia langsung berteriak ketakutan..
"Ahhh...!!"
"Bajingan biadab... lepaskan aku ...!"
teriak Monica meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan tangannya.
Rontaan Monica malah menambah keindahan sepasang bukitnya yang bergoyang-goyang.
Pria itu tidak memperdulikan reaksi Monica, dia terlihat dengan penuh nafsu merobek rok hitam ketat Monica hingga terbuka lebar.
Menampilkan sepasang pahanya yang indah, tidak berhenti di sana dia juga memotong bagian pinggir penutup bagian sensitif Monica hingga kini terbuka.
Monica mengatupkan sepasang pahanya dan terus berteriak memaki-maki pria itu.
Tapi pria itu tersenyum dingin tidak memperdulikan reaksi Monica, dia kini terlihat sibuk membuka gesper nya dan melepaskan celananya hingga terlihat Tongkatnya yang besar mengacung berdiri.
Monica menjerit ngeri melihat pemandangan di hadapannya.
Pria itu sambil tersenyum menyeringai, dia maju menyentuh betis Monica dengan kedua tangannya yang kasar.
__ADS_1
Monica secara reflek menendang kan kakinya, kearah pria itu agar menjauh darinya.
Tapi pria itu bukan nya menjauh, dia malah menangkap betis Monica, dan membentangkan nya lebar-lebar.