
Lu Sun tersenyum menanggapi sikap Ling Mei yang imut dan lucu.
"Sun ke ke kamu belum jawab pertanyaan Mei Mei tadi."
"Ohh itu, salah satu teman baik ku Istrinya di culik orang ke Beijing, jadi aku datang ke Beijing mengurusnya."
Mei Mei mengangguk dan berkata,
"Bagaimana udah beres ? apa berhasil ditemukan ?
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Udah.. semua dah beres jadi aku mau pulang ke Nan Jing."
"Kamu sendiri kenapa kembali jadi pramugari, bukannya waktu itu bilang nya mau buka butik usaha sendiri.?"
Ling Mei menghela nafas panjang dan berkata,
"Mungkin aku kurang berbakat, toko butik yang aku buka sepi, akhirnya uang ku cuma habis di biaya sewa."
"Terpaksa gulung tikar, dan kembali ke profesi lama."
"Sun ke ke udah berhasil menemukan Xue Xue ya,? kabarnya Sun ke ke akhirnya juga menikahi Sandra ya ?"
tanya Ling Mei kurang puas.
Lu Sun menghela nafas dan berkata,
"Kamu benar Ling Mei, mungkin semua ini sudah takdir dan jodoh."
"Manusia bisa berencana, tapi akhirnya takdir jua lah yang menentukan."
"Bila di pikir-pikir harusnya waktu itu aku dan Jane tidak menyerah untuk ikut dengan mu."
"Bila kami ikut mungkin saja di acara pernikahan itu, kami bisa ikut ambil bagian.."
ucap Ling Mei kecewa.
Lu Sun menelan ludah isteri lima, gak kebayang nasibnya bila itu terjadi.
Tiga aja dah pusing pa lagi 5, bisa kacau hidupnya.
"Sun ke ke kenapa kamu bisa menikahi Sandra ?"
Lu Sun terdiam sejenak, kemudian dia bercerita apa adanya, dia menceritakan semua pengalamannya saat berada di Canada bersama Sandra Giok Lan.
Sehingga akhirnya dia memutuskan menjadikan Giok Lan isterinya yang ketiganya.
__ADS_1
Setelah mendengar cerita Lu Sun, Ling Mei menghela nafas dan berkata,
"Sun ke ke aku sungguh merindukan kehidupan kita di pulau dulu."
"Andaikan pesawat ini cuma terisi kita berdua, aku pasti akan berdoa agar pesawat ini kembali jatuh, sehingga aku bisa mengulangi pengalaman kita dulu."
ucap Ling Mei pelan.
"Mei Mei yang lalu biarlah berlalu jangan terlalu di pikirkan lagi, kamu harus menatap kedepan."
"Mei Mei bila suatu hari kamu bosan bekerja sebagai pramugari, kamu boleh datang mencari ku."
"Sebagai teman aku pasti akan aturkan pekerjaan yang cocok untuk mu."
"Mau di luar negeri atau di dalam negeri kamu tinggal pilih saja."
Mei Mei mengangguk dan berkata,
"Terimakasih banyak Sun ke ke, tapi kurasa saat ini pekerjaan inilah yang paling cocok untuk ku."
"Baiklah Sun ke ke aku tidak mengganggu penerbangan mu lagi, silahkan nikmati penerbangan ini."
"Aku mau ngurus konsumsi penumpang ekonomi dulu, kalau ada perlu apa tekan saja lampu di atas kepala mu itu."
"Sampai jumpa bye ..."
ucap Mei Mei berusaha untuk tetap tersenyum meski hatinya pahit.
Jadi hanya bisa membalas dengan tersenyum lembut mengantar kepergian Mei Mei.
Lu Sun kembali membuka koran yang tadi sedang di bacanya.
Eva sesekali sengaja lewat dekat Lu Sun, tapi dia terpaksa harus kecewa Lu Sun sama sekali tidak menoleh kearahnya.
Dia tentu tidak sebebas Mei Mei, yang bisa duduk bebas ngobrol dengan Lu Sun.
Eva tidak mungkin bisa seperti itu, karena di pesawat ini ada pacarnya Steven yang bekerja sebagai co-pilot.
Eva tadi setelah di teriaki Mei Mei dia buru-buru mengangkat telpon yang tergantung di dinding pesawat.
Tapi saat mendengar telpon tidak ada bunyi suara apapun, Eva langsung sadar pasti Mei Mei lah yang mengerjakannya.
Meski kesal, tapi dia juga tidak bisa apa-apa, karena tadi dia lah yang duluan mengerjai Mei Mei, jadi dia tidak mungkin berani pergi protes dan menegur Mei Mei.
Lu Sun selesai baca koran, dia mengambil majalah melihat-lihat sebentar, karena tidak ada yang menarik perhatiannya dia menaruhnya kembali.
Lu Sun sempat mengeluarkan HP nya, tapi karena takut menganggu sinyal pesawat, dia tidak jadi menggunakannya.
__ADS_1
Dia membuka file foto di HP nya, menatap foto-foto yang ada di dalam HP nya.
Sebagian foto tersebut di dominasi foto ke tiga Istrinya yang cantik-cantik.
Lu Sun menatap foto mereka sambil tersenyum sendiri, rasanya tidak pernah bosan dia melihat foto-foto istrinya itu.
Karena tidak enak sama penumpang lain yang mengira dirinya bermain HP di dalam pesawat, Lu Sun akhirnya menyimpan HP nya.
Lu Sun kini mencoba memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, sambil mendengar lagu dari headphone yang menjadi fasilitas pesawat untuk kenyamanan penumpang.
Dengar dengar Lu Sun akhirnya tertidur bersandar di sandaran kursi.
Tidak tahu berapa lama tertidur, Lu Sun terbangun oleh sentuhan lembut di bahunya.
Lu Sun membuka matanya menoleh kearah orang yang menyentuh bahunya.
Ternyata yang membangunnya adalah Mei Mei, Lu Sun buru-buru membuka headphone yang menutupi telinganya.
"Sun ke ke pesawat bentar lagi mendarat, jangan lupa kenakan sabut pengamannya ya ."
"Ini sedikit hadiah kenang-kenangan dari ku, tolong diterima, sehabis ini tidak tahu kapan lagi kita bisa bertemu kembali."
ucap Mei Mei sambil meletakkan sebuah kantong di kursi samping Lu Sun.
Lu Sun tersenyum dan berkata,
"Makasih banyak ya Mei Mei, "
Mei Mei mengangguk kemudian dia pun berlalu dari kursi Lu Sun, pergi melakukan pengecekan ke setiap penumpang.
Mengingatkan mereka agar segera mengenakan sabuk pengaman.
Lu Sun membuka kantong tersebut mengeluarkan isinya, ternyata adalah sebuah kotak musik yang berbentuk love.
Bila dibuka akan terlihat patung seorang gadis sedang menari berputar-putar di iringi oleh lagu kotak musik tersebut.
Lu Sun tersenyum sendiri lalu dia menutup kotak musik tersebut dan menyimpannya kembali kedalam kantong dengan hati-hati.
Benda ini cukup lucu dan cantik, saat sampai di rumah siapa yang menyambutnya duluan, dia akan hadiahkan benda ini padanya.
Pesawat Kemudian mendarat di bandara Nanjing dengan aman, Lu Sun dan beberapa orang penumpang kelas bisnis di persilahkan turun duluan dari pesawat.
Lu Sun berjalan santai tanpa bawa apa-apa kecuali kantong kecil hadiah dari Mei Mei yang dia tenteng ditangannya.
Semua barang bawaan Lu Sun dia simpan di dalam gelang, tanpa perlu menunggu bagasi barang bawaan Lu Sun langsung berjalan menuju pintu keluar bandara.
Sebelum keluar dari bandara, ada seorang petugas yang membawa seekor Anjing herder.
__ADS_1
Anjing tersebut bergerak mendekati Lu Sun Kemudian mengendus-endus kantong yang dipegang di tangan Lu Sun.
Si petugas langsung waspada, dia segera menaruh tangannya di pinggang bersiap menarik pistolnya.