KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
PENOLONG CINDY


__ADS_3

Sambil terus bergerak cepat memberikan serangan kepada kakek Xie Ding Feng.


Cindy terus mencari peluang untuk memberikan serangan mematikan yang akan mengakhiri perlawanan dari kakek Xie.


Akhirnya Cindy melihat peluang tersebut datang, Cindy dengan gerakan cepat mendaratkan jarinya yang runcing-runcing menusuk tenggorokan kakek Xie Ding Feng yang sedang terbuka.


Tapi di luar dugaan Cindy ketika jarinya hampir menyentuh kulit leher kakek Xie Ding Feng.


pergelangan tangan nya tertangkap oleh kakek Xie Ding Feng yang mencengkram urat nadi dipergelangan tangan nya dengan sangat erat.


Cindy berusaha meronta dan menarik mundur tangannya, tapi selain cengkraman itu sangat kuat, tenaga lengan Cindy juga lumpuh karena nadi dipergelangan tangannya tercengkram dan ditekan dengan kuat oleh kakek Xie Ding Feng.


Sambil tersenyum mengejek Kakek Xie Ding Feng yang berhasil mengunci tangan sekaligus pergerakan Cindy.


Menyarangkan dengkul kakinya ke perut Cindy.


"Ughhh...!"


keluh Cindy menahan mules di ulu hatinya, sesaat dia merasa mules sampai kesulitan bernafas.


Bukan ini saja kakek Xie Ding Feng masih menyusul dengan sebuah tendangan mencangkul dari atas kebawah menghantam leher Cindy dengan sangat keras.


Leher adalah bagian pusat syaraf diseluruh tubuh hampir mirip dengan otak, cuma otak masih di lindungi oleh batok kepala yang keras.


Tai leher tidak, terkena tendangan tersebut Cindy kehilangan keseimbangan tubuhnya, terhuyung-huyung seperti ayam terkena pukulan teler.


Akhirnya Cindy roboh tidak sanggup lagi menjaga keseimbangannya.


Dia roboh meringkuk memegangi perutnya yang mules luar biasa.


Keringat dingin mengucur dari dahinya yang putih dan halus.


Cindy berpikir dalam hati mati aku sekali ini, jangan-jangan Lu Sun sengaja tidak datang menolongnya.


Lu Sun telah mengkhianatinya, menjadikannya sebagai umpan bergontok-gontokan sendiri.


Setelah itu baru datang memetik hasil, keparat itu sungguh kejam, dumel Cindy dalam hati.


Bodohnya aku telah tertipu dengan wajah tampan dan simpatik darinya.


Keparat tukang kawin itu, kalau aku selamat hari ini, aku pasti akan membalas perbuatannya hari ini pada ku.


Tapi kelihatannya itu cuma keinginan dan khayalan ku saja.


Sekali ini aku pasti mati di tangan kakek brengsek ini.

__ADS_1


Kakek Xie Ding Feng tidak menyia-nyiakan kesempatan, sebelum Cindy Kembali bisa bergerak dan menyulitkan dirinya.


Dia segera menotok pundak Cindy melumpuhkan nya.


Setelah itu sambil tertawa kakek Xie Ding Feng berkata,


"Ha..ha..ha..ha...! budak betina kamu sungguh liar, kamu pikir dengan sedikit kecerdikan mu mau mengalahkan kakek mu ini."


"Dengarlah aku makan garam lebih banyak dari kamu makan beras, mau mengalahkan aku itu cuma mimpi siang bolong."


"Aku beritahukan pada mu, pergerakan ku dan kekuatan ku yang berkurang bukan karena aku kecapekan."


"Itu adalah jebakan yang kupersiapkan untuk mu, keringatan dan wajah pucat, semua itu adalah pelengkap untuk membuat mu percaya, aku telah kehabisan nafas kelelahan hampir mati."


"Sekarang kamu tahu kan kehebatan ku..! Ha.


.ha...ha..ha...!"


"Sebelum kamu kehilangan kesadaran karena pil ku, aku akan membuat mu merasakan sorga dunia.. ha..ha..ha..!"


"Kamu jangan lihat bentuk ku yang sudah kakek-kakek,. Tongkat ku masih sehat dan bisa memuaskan mu..! hahaha...!"


Cindy menatap wajah kakek itu dengan tatapan jijik dan terbelalak ketakutan.


Memikirkan apa yang akan di alaminya dia merasa sangat ketakutan dan ngeri setengah mati.


Agar kelak bisa jadi kebanggan dan bisa dinikmati bersama setelah menikah dengan pangeran kuda putih yang dia cintai dan impikan.


Kini semua impiannya sirna dia akan diperkosa oleh seorang kakek tua yang masih terhitung kerabat dan keluarga nya sendiri.


Memikirkan hal tersebut Cindy hampir gila rasanya, itu adalah penderitaan yang lebih berat dari kematian.


"Kakek Xie kumohon jangan lakukan hal itu...kumohon jangan lakukan itu pada ku..lebih baik bunuh saja aku..."


ucap Cindy memohon ketakutan dengan airmata bercucuran.


"Ha...ha...ha..! jangan takut gadis kecil ku.. setelah menikmati nya ku jamin kamu akan ketagihan dan meminta-minta kepada ku untuk mengulanginya lagi..."


ucap Kakek Xie sambil tertawa cabul.


Dia mulai berjongkok dengan tangan gemetar ingin membuka bagian atas baju yang menutupi tubuh Cindy yang putih mulus..


Hal ini bisa terlihat jelas dari leher dan bagian dada atasnya yang sedikit terbuka.


Tapi sebelum tangan itu menyentuh baju Cindy.

__ADS_1


Dari atas langit melayang turun seorang pria yang langsung menendang wajah kakek Xie Ding Feng yang sedang tidak waspada, hingga terpental bergulingan.


Cindy yang sedang menutup matanya dengan ketakutan, kini membuka sebelah matanya .


Melihat apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia tiba-tiba mendengar jeritan kesakitan kakek Xie Ding Feng.


Saat melihat sosok pria yang berdiri memunggunginya, awalnya Cindy mengira yang datang adalah Lu Sun.


Tapi saat membuka matanya melihat lebih teliti, ternyata orang itu bukan Lu Sun.


Tubuh sosok pria didepan nya tidak sebesar dan setinggi Lu Sun.


Tubuh pria didepan nya lebih atletis dan proporsional.


Dari bayangan punggung nya sangat mirip dengan bentuk tubuh kakaknya Jack.


Tapi mungkinkah ini kakaknya, pikir Cindy dalam hati dengan mata terbelalak lebar.


Pria misterius itu langsung melesat memberikan tendangan berulang-ulang kearah tubuh Xie Ding Feng yang dia jadikan seperti mainan bola.


Kakek Xie bukannya tidak ingin melawan dia sudah berusaha mati-matian menangkis menghindar dan ingin .melawan.


Tapi tubuhnya tidak mau mengikuti perintah pikirannya.


Tubuhnya tertekan oleh aura yang dipancarkan oleh pria itu sehingga sulit bergerak, apalagi melawannya.


Setelah puas menyiksa Xie Ding Feng hingga babak belur tak berkutik, pria itu baru melepaskan totokan yang membuat kakek Xie tidak bisa bergerak dan bersuara.


Lalu pria itu baru berjalan menghampiri Cindy.


"Kakak...kakak...kamu kah itu..? .kamu sungguh kakak ku...? kakak kamu masih hidup ? kemana saja kakak selama ini..? Hu...hu...hu...!"


ucap Cindy sambil menangis tersedu-sedu.


Pria itu berjongkok disamping Cindy melepaskan totokan Cindy, membantu Cindy bangun untuk duduk.


Kemudian dia menerima pelukan Cindy, membiarkan Cindy menangis di dalam pelukannya dan membelai rambut Cindy penuh kasih sayang.


Setelah suara tangisan Cindy mereda, dia baru berkata,


"Cindy ayo kita pulang membereskan semua kekacauan yang di buat oleh beberapa tetua ini."


"Ya kak, tapi kak selain dia tetua yang lain sudah tewas di tangannya, dan aku punya rekaman pembunuhan yang dia lakukan."


ucap Cindy cepat menjelaskan kepada kakaknya.

__ADS_1


"Bagus dengan demikian pekerjaan kita menjadi jauh lebih ringan, kita tinggal mengirimnya ke penjara, lalu mengurus asset dan harta yang selama ini di kuasai oleh mereka."


__ADS_2