KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
BERBELANJA OLEH-OLEH DAUN TEH


__ADS_3

Giok Lan dengan wajah nakalnya memberi kode ke Ying Ying.


Ying Ying hanya tersenyum lembut dan memberikan kode lakukanlah.


"Ya sudah kakak Yen gak mau biar saya saja..!!"


teriak Giok Lan dari belakang.


Lalu dia bergegas maju ingin menyerobot, tentu saja Xue Yen gak rela.


Dia tadi hanya berpura-pura karena gengsi, bukannya tidak mau.


"Apaan sih...! Sun ke ke nawarin nya ke saya..!


teriaknya sambil buru-buru maju nemplok di punggung Lu Sun.


Sambil melingkarkan sepasang tangannya yang putih halus di leher Lu Sun.


Lu Sun bangun berdiri menggendong Xue Yen di punggungnya sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Giok Lan dan Ying Ying.


Giok Lan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.


Ying Ying hanya menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Melihat reaksi Ying Ying dan Giok Lan, Xue Yen pun sadar bahwa dia tadi sedang dikerjai, Giok Lan tidak benar-benar ingin berebut dengan nya.


Xue Yen yang tidak pandai bercanda dan berekspresi membalas Giok Lan dengan meleletkan lidahnya,


Giok Lan semakin tertawa terpingkal-pingkal melihat nya.


Lu Sun menggelengkan kepala tak berdaya menghadapi kedua istrinya ini.


Untuk menengahinya, Lu Sun memberi kode ke Ying Ying agar maju merangkul lengannya.


Ying Ying mengangguk lembut kemudian maju merangkul lengan kanan Lu Sun dengan mesra.


Melihat hal ini, Giok Lan pun tidak mau kalah, dia buru-buru maju merangkul lengan kiri Lu Sun.


Setelah membereskan transaksi pembayaran, Lu Sun bersama ketiga istrinya pun keluar dari toko Xing Hua.


"Sayang aku ingin beli teh Oolong Tie Kuan Yun yang kwalitas no 1 kira-kira beli di mana ya ?"


Tanya Lu Sun ke Xue Yen yang masih mengelendot manja di punggungnya.


"Sun ke ke salah alamat kalau nanya nya sama orang mabuk, harusnya nanya ke kak Ying Ying."


ucap Giok Lan kembali ingin mempermainkan Xue Yen.


"Aku tahu kok, siapa bilang aku mabuk, dari sini berjalan 10 meter belok kanan di sebelah kiri jalan ada kok yang jual.."


ucap Xue Yen gak mau kalah.

__ADS_1


"Bukannya itu tempat sampah..?"


ucap Giok Lan sambil tersenyum mengejek.


"Sampah kepala mu, kalau ada sampah di sana biar aku makan.."


ucap Xue Yen mulai terpancing, dan melotot marah.


Giok Lan tertawa sambil berjalan dia berkata,


"Kak Ying Ying takut ihh bila bentar lagi ada yang makan sampah.."


Xue Yen melotot menahan marah tubuhnya sampai gemetar, menahan marah.


Lu Sun yang menyadari, akan terjadi perang karena saling ejek segera menengahi.


"Udah jangan bertengkar lagi, kalau kalian terus bertengkar lebih baik kalian berdua lanjutkan di dalam mobil."


"Aku cari tehnya sama Ying Ying saja.."


Kedua orang itu saling melotot gakda yang mau ngalah, tapi mereka tidak berani bersuara, karena takut di tinggalkan Lu Sun di mobil.


Lu Sun hanya bisa menggelengkan kepala tak berdaya, inilah yang dia takuti bila punya istri banyak, tapi mau gimana lagi.


Semua sudah takdir, Lu Sun sangat bersyukur, Ying Ying selalu bersikap dewasa, dan selalu bisa membantunya menenangkan suasana.


Bila semuanya ingin menang sendiri maka mampuslah dia.


Xue Yen sangat hapal, karena ayahnya selalu menyuruhnya tolong belikan teh di sini.


Prof Billy Teng termasuk penggemar dalam menikmati teh.


Lu Sun tahu soal itu, makanya dia tadi sengaja bertanya kepada Xue Yen, siapa sangka Giok Lan malah mengejeknya.


Mereka berempat berjalan memasuki toko teh yang sangat besar dan sangat ramai pengunjung nya.


Xue Yen berbisik pada Lu Sun,


"Sayang langsung ke lantai dua saja, semua barang bagus di simpan di lantai dua."


Lu Sun mengangguk kemudian melangkah memasuki Toko teh yang sangat ramai pengunjung nya.


Setibanya di lantai dua, ternyata di sini lebih tenang, dan pengunjungnya tidak seramai pengunjung di lantai 1, yang sebagian besar adalah turis.


Yang di bawa oleh tour guide, datang ketempat ini untuk belanja oleh-oleh untuk di bawa pulang ke negara asal mereka.


"Sayang turun kan aku, biar aku yang bantu Carikan saja."


ucap Xue Yen berbisik pada Lu Sun.


"Kamu yakin sudah bisa jalan sendiri, jangan maksa gakpapa kok digendong juga.."

__ADS_1


ucap Lu Sun ragu.


Xue Yen berbisik ditelinga Lu Sun dengan wajah merah,


"Aku gakpapa tenang saja, aku tadi cuma kangen dan pingin merasakan di gendong saja."


Lu Sun pun tersenyum, dia kemudian menurunkan Xue Yen dengan hati-hati.


Setelah turun Xue Yen pun bertanya,


"Sun ke ke mau beli berapa banyak ?"


"jadikan dua kaleng dengan isi setengah kilo saja masing-masing nya.."


Xue Yen mengangguk kemudian dia melangkah menuju bagian yang khusus menjual daun teh kualitas tinggi.


Sedangkan Lu Sun mengajak Giok Lan dan Ying Ying melihat lihat perlengkapan minum teh kualitas tinggi yang di pajang di etalase tertutup kaca bening transparan.


Seorang pelayan menghampiri Lu Sun, mempromosikan berbagai barang yang di jual di sana ke Lu Sun dan kedua Istrinya.


"Sayang tolong pilihkan 3 macam perlengkapan menyeduh dan menikmati teh, satu untuk ku, dua lagi untuk ayah Teng dan ayah Liu."


Ying Ying dan Giok Lan saling pandang keduanya mengangguk senang, lalu mereka berdua terlihat sibuk berkeliling mencari dan memilih perlengkapan yang bagus menurut mereka.


Lu Sun hanya berdiri santai menikmati kegembiraan ketiga istrinya yang terlihat sibuk memilih barang belanjaan.


Xue Yen tidak terlalu lama sudah kembali dengan dua kantong belanjaan yang berisi daun teh pesanan Lu Sun.


Lu Sun mengajak Xue Yen duduk di sebuah bangku panjang yang khusus di sediakan buat pengunjung yang sedang menunggu teman atau keluarganya berbelanja.


Lu Sun duduk santai sambil merangkul Xue Yen dan bertanya,


"Sayang David pernah menyinggung atau bertanya tentang Viona pada mu tidak ?"


Xue Yen menoleh menatap Lu Sun dan berkata,


"Sebenarnya bagaimana nasib gadis itu sekarang ada di mana dia ?"


Lu Sun Tersenyum dan berkata,


"Dia dan anaknya dalam kondisi baik-baik saja, sekarang mereka bertiga termasuk ibu Viona yang kurang....Itu "


"Mereka bekerja mengurus hotel dan restoran Giok Lan yang di Miami, kalau David ingin bertemu mereka suruh hubungi Giok Lan saja."


"Tar biar Giok Lan yang membantu mengaturnya.."


Xue Yen mengangguk, Kemudian dia menoleh mengikuti arah pandang mata Lu Sun.


Xue Yen merasakan perubahan Lu Sun yang sangat tidak biasa saat menatap ke arah tangga naik.


Di mana di sana terlihat Monica Sun datang bersama seorang pria ganteng.

__ADS_1


__ADS_2