
Tapi serangan Lu San dengan seluruh kekuatan nya, di hindarkan dengan manis oleh Michiko.
Dengan menekuk kedua lututnya kebawah dan tubuh di biarkan tidur melipat kearah belakang.
Setelah serangan dengan tubuh melayang kedepan Lu San lewat diatasnya.
Dengan ringan tubuh Michiko bangkit kedalam posisi berlutut sambil mencengkram ganas kearah sambungan lutut Lu San dan meremukkannya.
"Arggghhh...!!!"
teriak Lu San kesakitan.
Saat kedua cakar Michiko kembali ingin mendarat di tulang punggung Lu San.
Afei mendadak muncul menangkisnya dari berkata,
"Cukup Michiko,.. hentikan...! atau aku yang akan melawan mu.."
Michiko melompat mundur menjauh sambil meletakkan lidahnya dan mengangkat dua jarinya di samping wajahnya.
Sebagai tanda damai kearah Afei sambil tersenyum.
Afei yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Semuanya bubar kembali ke kelas,... untuk mengikuti pelajaran...!"
Afei sendiri menggendong Lu San yang sedang meringis menahan nyeri lututnya yang telah di remuk kan oleh Michiko.
Afei langsung membawa Lu San pulang kerumah, Deborah dan Alicia memilih ikut dengan Afei.
Kedua gadis itu merasa bersalah pada Lu San sehingga mereka ingin menemani dan menjaga Lu San dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
Afei tidak berdaya menolaknya, selain itu dia berpikir ada bagusnya, dengan kehadiran kedua gadis itu, setidaknya bisa membantunya menjaga Lu San si perjalanan.
"Kak San apa yang kamu rasakan ? sakit ya ? tahan sebentar ya ? kita segera sampai rumah mu.."
ucap Deborah yang memangku kepala Lu San di pahanya.
Airmata nya tidak berhenti bergulir di pipinya, dia terus menatap kearah Lu San dengan di penuhi rasa bersalah.
Alicia yang duduk di sebelah Deborah juga terus menatap kasihan ke Lu San dengan sepasang mata berkaca-kaca.
Lu San berusaha tersenyum dan berkata,
"Aku... tidak apa-apa...kalian...kalian tenang saja.."
"Orang nakal.. dan jahat... seperti aku, tidak akan semudah itu mati..."
"Ini...ini.. adalah balasan.. untuk perbuatan ku..dulu.."
"A..Ali..CIA..kamu ..ma.. maafkan aku.."
"Aku..aku.. benar benar menyesal.."
__ADS_1
ucap Lu San terputus putus karena harus menahan rasa nyeri yang luar biasa di kedua lututnya.
"Sudahlah yang berlalu biarlah berlalu, jangan terlalu di pikirkan lagi,.. aku sudah lama memaafkan kakak."
ucap Alicia terharu.
"Kak San sudahlah, kamu jangan terlalu banyak bicara dan bergerak gerak dulu.."
ucap Deborah penuh perhatian.
"Terimakasih.. Deborah.."
ucap Lu San sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
Deborah mengangguk, lalu dia menggunakan sapu tangannya yang wangi, untuk membersihkan keringat di wajah Lu San dengan lembut dan hati hati.
Lu San kembali memejamkan matanya, dia berusaha menggunakan Ih Kin Cin Keng, untuk meregenerasi kerusakan pada lututnya.
Beberapa saat berlalu, Lu San mulai merasa lebih tenang, rasa sakit nya sudah jauh berkurang.
Begitu sampai di rumah, Ying Ying dan Giok Lan sangat terkejut melihat kondisi Lu San.
Mereka meski berilmu tinggi, tapi mereka minim ilmu pengetahuan tentang pengobatan.
Giok Lan yang cemas buru buru pergi ke ruang rahasia untuk mencari Lu Sun.
Tapi baru saja dia hendak masuk ke dalam ruang rahasia.
Kebetulan Lu Sun sedang berjalan keluar dari dalam ruang rahasia.
"San er.. San er...San er ..dia..dia..."
ucap Giok Lan gugup.
"Dia kenapa ? katakan pelan pelan jangan panik dan gugup gitu."
ucap Lu Sun sambil memegang kedua bahu Giok Lan dengan lembut.
Tapi Giok Lan mengelak tangan Lu Sun dan berkata,
"Kamu ikut aku saja, tidak ada waktu untuk menjelaskannya lagi.."
Giok Lan menarik tangan Lu Sun, setengah menyeretnya.
Lu Sun pun mempercepat langkahnya, hati nya mulai penasaran dan bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan putranya yang terkenal nakal itu.
Tapi begitu mereka sampai di ruang tengah, Lu Sun sangat terkejut melihat putranya, terbaring lemas di sofa di pangkuan Ying Ying yang terlihat sedih.
Di sana juga terlihat ada Afei dan dua orang gadis kecil yang menurut dugaan Lu Sun mungkin teman satu kelas Afei.
Meski penasaran apa yang terjadi, tapi Lu Sun tetap bersikap tenang dan langsung menghampiri Lu San, melakukan pemeriksaan pada keadaan putranya.
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, Lu Sun menghela nafas panjang dan berkata,
__ADS_1
" San er,.. kenapa bisa begini ? siapa yang melukai mu hingga seperti ini..?"
Lu San tersenyum sedih dan berkata,
"Tidak ada yang perlu di salahkan.."
"Kalau mau di salahkan, salahkan saja anak mu yang tidak memiliki kemampuan.."
"Dulu bakat jelek tidak bisa di tempa, kini ditambah ini jadi lengkap, bakat jelek plus cacat dan lumpuh."
"Ayah putra mu ini, kelihatannya adalah legenda terkelam keluarga Lu....ha...ha...ha...!"
Lu San mengeluarkan suara tertawa kecewa yang lebih mirip menangis.
Lu Sun tersenyum sedih dan berkata,
"San er kamu jangan khawatir, ayah pasti tidak akan membiarkan mu lumpuh."
"Kamu pasti akan bisa kembali berjalan seperti orang normal lainnya."
Lu Sun menyesapkan sebutir pil nirwana kedalam mulut Lu San.
Kemudian dia duduk bersila di hadapan Lu San, mengalirkan kekuatannya membantu pemulihan kedua tempurung lutut Lu San yang rusak parah itu
Hawa hangat menjalar di sekitar lutut Lu San membantu memulihkan syaraf urat otot dan daging yang rusak, agar pulih kembali.
"Lan Lan kamu tolong Carikan perlengkapan untuk meng gips kedua kaki San er."
ucap Lu Sun sambil terus menggunakan I'm Yang Sen Kung di padu dengan Ih kin Cin Keng membantu pemulihan kondisi anaknya.
Berkat Wu Ming Sen Kung yang telah Lu Sun latih dengan sempurna, kekuatan seperti Im Yang Sen Kung dan Ih kin Cin Keng milik Lu Sun juga mengalami peningkatan pesat.
Hal ini membuat proses pemulihan luka San er menjadi jauh lebih cepat.
Giok Lan mengangguk, lalu dia buru-buru menelpon ke Prof Billy Teng ayahnya Xue Yen.
"Halo ayah, tolong bantu kirim peralatan gips kaki patah dan kursi roda kerumah ya ayah."
ucap Giok Lan buru-buru begitu telpon tersambung.
"Ada apa ini ? siapa yang cedera..?"
tanya Prof Billy cemas.
"San er ayah, tapi ayah tenang saja kini San er sudah di tangani Sun ke ke."
ucap Giok Lan memberi penjelasan agar prof Billy Teng tidak panik.
"Baiklah lan Er, ayah akan segera kirim barangnya kesana sekarang.."
ucap Prof Billy kemudian memutuskan panggilan.
Lu Sun yang sedang mengobati Lu San tanpa menoleh dia berkata,
__ADS_1
"Afei, kamu dan kedua teman mu ini, kalian sebaiknya segera kembali kesekolah, di sini ada ayah yang urus, kalian tenang saja.."