KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
ANCAMAN LU SAN


__ADS_3

Semakin lama suara tangisan semakin jelas, Lu San mempercepat langkah kakinya menuju asal suara.


Lu San melihat tempat asal suara terdapat cahaya terang yang merembes keluar dari sela sela lubang kecil.


Dengan menajamkan penglihatannya, Lu San akhirnya menemukan sebuah pintu besi tebal menghadang di depan sana.


Cahaya yang merembes keluar berasal dari lubang pintu tersebut.


Tanpa banyak pikir Lu San mengeluarkan pedang cahaya menebaskan nya kearah pintu itu.


Inti tebal yang terbuat dari bahan Tungsten, langsung terbelah dua tidak sanggup menahan tebasan pedang cahaya.


Begitu pintu roboh suara tembakan dan peluru langsung berhamburan dari dalam dalam lubang pintu.


Tanpa menghiraukan serbuan peluru yang berdesingan di sekitarnya.


Lu San dengan tenang berjalan memasuki ruangan yang terang benderang itu.


Semua peluru yang di tembakkan kearah Lu San tidak ada satupun yang berhasil melukai nya sama sekali.


Cing Kang Pu Huai Ce Sen melindungi seluruh tubuh Lu San dengan sangat baik.


Sambil memasuki ruangan Lu San mulai menggunakan kedua tangannya yang terisi Wu Xiang Cien Chi.


Melakukan tebasan kemana mana, Lu San tidak langsung membunuh mereka.


Melainkan dia memotong sebelah tangan dan kaki penyerangnya.


Ruangan yang menjadi bunker persembunyian para Yakuza, anak buah Takeshi.


Kini satu persatu mulai bertumbangan tidak kuat menghadapi serangan Lu San yang tidak terdeteksi oleh mata.


Tahu tahu kaki dan tangan satu persatu beterbangan di udara.


Melihat tembakkan mereka tidak ada yang mempan, pimpinan kelompok itu yang bertubuh pendek gemuk dan botak.


Dengan di hiasi dua kumis tipis di sudut bibirnya.


Dia berteriak sambil memberi kode dengan bahasa yang Lu San tidak mengerti.


Tapi melihat semua pengepungnya kini pada menghunus Katana panjang pendek di kedua tangan mereka.


Lu San pun mengerti apa yang di perintahkan oleh pimpinan mereka.


Lu San tetap berkelebat kesana kemari, menyerang para pengepungnya yang berdatangan tidak putus putus.


Mereka semua dengan nekad menerjang kearah nya, meski sudah tahu hasilnya bakal seperti apa.


Mereka tidak perduli dan tidak kenal takut.


Lu San sampai kagum dengan anggota kelompok ini.


Ada yang bilang kelompok ini adalah keturunan para penjahat perang dunia kedua.


Manusia ultranasionalis yang tidak takut mati.


Ini mungkin ada benarnya, pikir Lu San dalam hati.

__ADS_1


Tapi meski kagum Lu San tidak sedikitpun mengendorkan serangannya.


Biarpun potongan tangan kaki berhamburan dan tubuh bergelimpangan memenuhi sekitarnya.


Lu San tetap bergerak maju membabat mereka bagaikan membabat rumput.


Lu San tidak tahu berapa lama berlalu, akhirnya para pengepungnya tinggal puluhan orang yang bersiaga dengan pedang mereka di tangan.


Untuk melindungi Pria pendek gendut itu.


Pria pendek itu sendiri juga sudah mencabut pedangnya, siap menyerang Lu San hingga titik darah terakhir.


Lu San tersenyum dingin menatap mereka, seluruh tubuh Lu San yang berlepotan darah.


Membuat penampilannya terlihat makin menyeramkan.


"Siapa nama mu gendut..?"


"Bila ingin selamat antarkan aku, pergi temui pimpinan mu.."


Si gendut sedikit meragu,..tapi akhirnya dia berkata,


"Jangan mimpi,.. aku tidak percaya pada mu, manusia sadis.. aku akan berjuang hingga titik darah penghabisan..!"


Di luar dugaan ternyata si gendut bisa bahasa China.


Ini yang Lu San perlukan, tapi sebelum dia bisa menggunakan si gendut membantunya.


Lu San harus menakutinya agar si gendut tidak berani macam macam dengan nya.


Langsung tumbang keatas lantai dengan tubuh terpotong dua.


Melihat yang Lu San lakukan Si gendut semakin pucat, tubuhnya menjadi gemetaran ketakutan.


Lu San sambil tersenyum dingin, menghilang dari posisinya mencengkram tengkuk Si gendut.


Seperti harimau menenteng mangsanya.


Cengkraman Lu San yang keras dan kuat membuat si gendut menjerit kesakitan


Disaat mulut si gendut terbuka, Lu San menjejalkan sebutir pil berwarna kuning kedalam mulut si gendut.


Lalu memaksa si gendut menelannya.


"Kamu sudah minum pil pemutus usus perusak raga milikku.."


"Di dunia ini kecuali aku tidak ada yang punya penawarnya.."


"Kamu boleh percaya boleh tidak, dalam 3 hari kedepan bila kamu tidak menerima penawar dari ku.."


"Perut mu akan kesakitan hebat, seluruh kulit dan daging mu akan terkelupas sendiri."


"Kamu akan menderita selama 7 hari, sebelum ajal mu tiba.."


ucap Lu San dingin..


"Kamu keparat,.. bunuhlah aku, ! jangan pernah berharap menggunakan racun mengancam ku..!"

__ADS_1


teriak si gendut marah bercampur ngeri.


"Buat apa,? toh 10 hari lagi kamu akan mati sendiri, buat apa aku repot repot mencabut nyawa mu..?"


ucap Lu San tersenyum mengejek.


"Kau..kau..!"


teriak Si gendut sambil menunjuk Lu San dengan keki.


"Sekarang terserah padamu, mau menurut pada ku, tidak mau kamu boleh mencobanya.."


ucap Lu San dengan santai berjalan meninggalkan nya, pergi membebaskan para tahanan wanita, yang di kurung di tempat itu.


Para tahanan wanita mundur mepet ketembok saling berpelukan, mereka menatap kearah Lu San dengan penuh ketakutan.


Lu San dengan santai menebaskan tangannya kearah gembok dan rantai yang di gunakan untuk mengunci pintu kamar tahanan.


Satu persatu pintu penjara di ruangan itu, di bongkar paksa oleh Lu San.


Setelah membongkar tiga kamar tahanan melihat para tahanan itu hanya menangis ketakutan tidak bergeming dari sana.


Lu San pun berkata,


"Kalian tunggu apalagi, cepat tinggalkan tempat ini, kembalilah kerumah kalian masing-masing."


"Pergilah lewat sana,..sana aman..!"


ucap Lu San sambil menunjuk kearah darimana dia datang tadi.


Ada diantara mereka yang mengerti ucapan Lu San, mereka segera buru buru maju memberi hormat mengucapkan terimakasih.


Lalu memberi tahu teman teman mereka yang lain, lalu mereka segera berbondong-bondong meninggalkan tempat itu, mengikuti arah yang di tunjuk oleh Lu San.


Sedangkan Lu San terus melanjutkan pekerjaannya membongkar jeruji besi, yang digunakan untuk mengurung gadis gadis malang itu.


Sambil bekerja Lu San berkata,


"Hei gendut coba kamu tekan rusuk ketiga mu dari bawah coba bernafas..!"


"Kamu juga boleh menekan perut kananmu di sebelah pusar..!"


Mendengar ucapan Lu San si gendut mencobanya, hasilnya dia langsung terjatuh terguling di atas lantai.


Tidak sanggup berdiri maupun bernafas, dia merasakan kesakitan luar biasa di perutnya.


Setelah agak sembuh dengan tatapan kurang percaya, dia kembali mencoba menekan perut sebelah kanan bawah di sebelah pusar.


Hasilnya si gendut kembali terguling dan merintih rintih kesakitan, dengan keringat bercucuran sebesar biji jagung.


Si gendut mau tidak mau kini mulai percaya dan tidak berani macam macam lagi dengan Lu San.


"Apa..apa.. yang kamu inginkan dari ku..?"


tanya Si gendut


"Mudah saja antarkan aku menemui pimpinan mu Takeshi, maka penawar ini boleh untuk mu.."

__ADS_1


__ADS_2