KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
SARAPAN BERSAMA


__ADS_3

Lu San mengangguk dengan patuh dan berkata,


"Terimakasih mama Giok, San er sudah besar..San er harus belajar mandiri dan kuat seperti ayah.."


"Tidak boleh lemah dan cengeng, ibu guru di sekolah benar Setelah badai berlalu hari akan kembali terang.."


"Hari esok pasti akan lebih indah.."


ucap Lu San sambil menghapus airmata dan membusungkan dadanya yang masih kerempeng kedepan.


Melihat hal ini Giok Lan dan Lu Sun saling pandang, kemudian mereka bertiga berpelukan dengan penuh kehangatan.


Sesaat kemudian terlihat Lu San sedang berlarian mencoba menangkap capung di taman bunga.


Lu Sun dan Giok Lan berdiri saling berpelukan menatap kearah Lu San sambil tersenyum.


"Sun ke ke kenapa rambut mu menjadi begini ?"


ucap Giok Lan sambil menatap ujung rambut Lu Sun yang ada ditangannya.


Lu Sun tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa... bukan kah dengan begini aku bisa mengingatkan mu akan paman dan ayah mu yang bule itu.."


Giok Lan mencubit pinggang Lu Sun dengan gemas dan berkata,


"Sudah seperti ini..masih saja tidak serius..dasar..!"


Lu Sun tetap tersenyum dan mempererat pelukannya dan berkata,


"Terimakasih banyak sayang... maafkan aku yang selama beberapa hari ini kurang memperhatikan mu.."


"Tapi kedepan nya, setelah urusan ku dengan nya selesai."


"Aku hanya akan mengabdikan seluruh hidup ku untuk membahagiakan kamu Xue Yen dan anak-anak kita.."


ucap Lu Sun kepada Giok Lan tapi sebenarnya itu adalah janjinya kepada diri sendiri.


Giok Lan mengangguk dan berkata,


"Aku dan kak Xue Xue juga adalah istri mu, kami siap berbagi suka dan duka dengan mu."


"Berjanjilah kalau ada kesedihan bicarakan lah dengan kami, jangan bersembunyi seorang diri dan menanggung nya seorang diri.."


"Kami berdua akan merasa gagal dan tidak berguna hidup sebagai istri mu.."


Lu Sun mengangguk sambil menyentuh rambut di kepala Giok Lan dengan lembut.


"Baiklah aku berjanji pada mu.."


ucap Lu Sun pelan.


"Sun ke ke..adik Lan kalian ada di sini rupanya.."


ucap Xue Yen berjalan menghampiri mereka sambil menenteng sebuah rantang ditangannya.

__ADS_1


Di belakang Xue Yen mengikuti dua orang pengasuh Lu San, yang kini satu menggandeng tangan Lu Dan yang satu lagi menggendong Lu Fei.


Lu Sun tersenyum lembut kemudian dia maju merangkul Xue Yen di kiri sedangkan di kanan dia tetap merangkul Giok Lan.


Lu Sun mengajak kedua istrinya untuk duduk di pondok peristirahatan.


"Kalian berdua pasti belum sarapan kan, ini saya bawakan sarapan untuk kalian dan San er."


"Kamu sendiri Dan er dan Fei er sudah sarapan belum..?"


tanya Lu Sun sambil membuka rantang yang di dalamnya berisi pangsit, bakpao dan Siomay.


"Aku sendiri belum sempat, tapi Dan er dan Fei er tadi sudah di suapin makan sama pengasuh mereka."


ucap Xue Yen sambil membantu Lu Sun menyiapkan mangkuk dan Sumpit.


"Aku pergi panggil San er bentar, kalian duluan saja.."


ucap Giok Lan yang langsung bergegas pergi memanggil Lu San untuk ikut sarapan.


Lu Sun menerima semangkuk pangsit dari Xue Yen, Lu Sun memegang tangan Xue Yen dan berkata,


"Sayang terimakasih banyak, maafkan aku selama beberapa hari ini kurang memperhatikan kamu dan anak-anak."


"Kamu capek dan susah mengurus semuanya sendirian.."


"Maaf ya.."


Wajah Xue Yen menjadi merah menanggapi sikap mesra suaminya.


"Memalukan Ihh di lihat anak-anak.."


ucap Xue Yen pura-pura sewot dan menarik tangan nya.


Lu Sun tersenyum lembut menanggapi sikap istrinya yang gengsi ini.


Lu Sun sengaja duduk merapat, tidak memperdulikan gaya Xue Yen yang mendeliki nya.


Dia menyuapi Xue Yen dengan sumpitnya yang menjepit sepotong pangsit.


Meski mendeliki Lu Sun yang bersikap mesra, tapi Xue Yen membuka mulutnya menerima pangsit tersebut sambil tersenyum.


Xue Yen buru-buru menjauh dari membuang mukanya kearah lain begitu mendengar langkah kaki Giok Lan yang datang bersama San er.


Tapi saat ingin menjauh tangannya ditahan dengan lembut oleh Lu Sun, agar tetap duduk di sisinya.


Xue Yen terpaksa tidak jadi pergi, untuk menutupi rasa malu dan groginya, dia buru-buru memanggil Lu San.


"San er kemari lah, ini mama Yen siapkan bakpao isi telur asin kesukaan mu.."


"Asyik ada bakpao telur asin..!"


teriak San er gembira sambil berlari menghampiri Xue Yen.


"Makasih Mama Yen.."

__ADS_1


ucap Lu San senang saat menerima bakpao dari Xue Yen.


Lalu anak itu membawa dua butir bakpao, berlari menghampiri kedua adiknya yang sedang bermain didekat kolam bersama kedua pengasuhnya.


Santer makan dengan gembira sambil sesekali menyuapi kedua adiknya..


Sedangkan di dalam pondok Lu Sun Giok Lan dan Xue Yen makan bertiga juga saling menyuapi dengan mesra.


"Yen Mei sejak gak aktip lagi di kantor masakan mu semakin lama semakin enak.."


ucap Lu Sun sambil makan dengan lahap.


Setelah dalam beberapa hari ini kehilangan nafsu makan, hari ini adalah hari pertama di mana Lu Sun mulai bisa kembali makan dengan lahap.


"Sun ke ke bisa aja, padahal masak nya sama sama aja, gakda bedanya dengan dulu-dulu."


ucap Xue Yen malu dengan wajah merah.


Tapi hatinya sangat senang dan bahagia mendengar pujian suaminya.


"Sun ke ke benar masakan kakak Xue sekarang memang sangat lezat, kalau terus seperti ini masakan restoran jadi gak laku deh buat keluarga Lu.."


ucap Giok Lan sambil memberi tanda jempol kearah Xue Yen.


"Kamu ini.. bukan cuma wajah saja yang cantik tapi mulutnya juga semanis madu.."


"Pantes saja Sun ke ke selalu lupa diri bila berdekatan dengan mu.."


"Untung saja sewaktu di lembah dulu, kamu gak ada."


"Kalau gak mungkin Sun ke ke sudah pindah tinggal ke langit ."


ucap Xue Yen sambil tersenyum.


Giok Lan dengan bibir cemberut berkata,


"Apanya yang cantik apanya yang manis, dia bahkan lebih rela potong tangan daripada bersama ku.."


Melihat sikap Giok Lan, Lu Sun dan Xue Yen tersenyum lebar.


"Itu kan dulu,.. sekarang tentu beda..."


"Sekarang aku sudah terjerat benang cinta mu, selama nya tidak akan bisa jauh lagi dari mu.."


ucap Lu Sun sambil meraih tangan Giok Lan dan menciuminya.


"Aduh mesra nya, bikin iri yang ngelihatnya.."


ucap Xue Yen sambil tertawa.


Tapi tertawanya berhenti saat tiba-tiba Lu Sun memeluk dan mendaratkan ciuman mesra di pipinya.


Wajahnya langsung merah padam menahan malu.


Apa lagi dia melihat beberapa petugas pemakaman sedang memperhatikan mereka sambil berbisik bisik dan tertawa-tawa.

__ADS_1


__ADS_2