
Tebasan pedang cahaya inti matahari yang membawa kekuatan penuh dengan mudah memotong pedang sinar mentari menjadi dua bagian.
Tubuh Lu San menghilang dari posisinya membawa cengkraman ujung pedang Fei Lung yang patah.
Saat muncul lagi ujung pedang itu sudah menancap di dada kiri Fei Lung menembus jantung.
Sebelum Fei Lung sempat berteriak atau bereaksi,. sebuah cahaya emas melewati lehernya.
Kepala nya langsung terbang lepas dari tubuhnya, jatuh melayang ke bawah.
Di susul oleh tubuh nya yang ikut meluncur deras ke bawah.
"Brakkk,.. blukkk...!"
tubuh dan kepala jatuh keatas tanah hampir berbarengan.
Takeshi dan seluruh anak buahnya yang berjumlah hampir seribu orang semua berkumpul di tempat itu bersiaga dengan senjata di tangan.
Mereka terlihat tidak takut sama sekali.
Lu San yang berada di ketinggian Tersenyum sadis.
Dia melayang turun kebawah dengan ringan merubah dirinya menjadi Fumio Kishida.
Lalu dia mulai bergerak membantai semua Yakuza yang ada di sana dengan pedang cahaya nya.
Tembakan senjata yang meletus di mana mana, di Sertai tebasan katana yang mengelilinginya.
Tidak bisa meredam keganasan Lu San pedang cahaya langsung menghanguskan apapun yang dilewatinya.
Takeshi berusaha memberi perintah pengepungan terhadap Lu San.
Sementara dirinya terus mundur menjauhi tempat tersebut, memanfaatkan situasi kacau.
Dia akhirnya berhasil meloloskan diri kedalam rumah kediamannya.
Lu San yang melihat hal itu langsung melesat ke arah menghilang nya Takeshi.
Tapi baru saja memasuki rumah itu Lu San terpental keluar dari dalam ruangan tersebut.
Dia jatuh terkapar di atas tanah, dengan luka cukup parah di dadanya.
Lu San saat memasuki ruangan tersebut langsung di sambut dengan sebuah tembakan senjata double loop oleh Takeshi.
Lu San yang tidak siaga dan terlalu meremehkan senjata lawan,.dia tidak sadar peluru yang di tembakkan itu sudah di modifikasi.
Isi peluru berupa butiran timah kecil sudah direndam dengan racun bunga lima warna.
Sehingga dengan mudah melukai Lu San dengan cukup parah, untungnya Im Yang Sen Kung bergerak otomatis melindunginya
Sehingga meski terluka karena tidak siap.
Tapi tidak sampai membuat Lu San terbunuh.
__ADS_1
Sambil mengigit bibirnya sendiri menahan nyeri, Lu San melepaskan tebasan pedang cahaya kearah
Takeshi, yang baru saja melangkah keluar dari dalam rumah nya sambil tertawa.
Belum habis suara tertawa nya, tubuh Takeshi dan beberapa pengawalnya langsung hangus terbakar tanpa sisa.
Setelah menghabisi Takeshi, Lu San membantai seluruh bawahan Takeshi dengan pedang cahaya nya.
Untungnya yang memiliki senjata modifikasi itu hanya Takeshi, bila tidak, Lu San yang dalam kondisi terluka cukup parah pasti berada dalam bahaya besar.
Setelah memastikan hampir 1000 orang manusia bertato yang merupakan anggota Genk Yakuza.
Sudah dia habisi tanpa sisa.
Lu San baru berjalan dengan tubuh terhuyung-huyung menuju kesebuah tepi sungai dangkal yang di aliri oleh air sungai bersih dan jernih.
Lu San duduk di dalam sungai dengan dasar batu itu, tanpa menghiraukan pakainya yang jadi basah.
Lu San membersihkan luka di dadanya dengan air sungai tersebut.
Setelah di cuci dan di basuh dengan bersih, dengan air sungai dangkal dan jernih itu.
Lu San pun mengambil posisi duduk bersila, menghentakkan kekuatan energinya, mendorong keluar semua peluru dari tubuhnya.
Setelah semua peluru terdorong keluar, dan bekas luka sudah di cuci bersih.
Perlahan lahan semua luka itu bisa menutup kembali dengan rapat.
Beberapa jam kemudian, setelah kondisinya pulih Lu San pun melesat pergi meninggalkan tempat tersebut.
Lu San mencari penginapan di pulau tersebut untuk beristirahat jelang dia berangkat ke pulau misterius.
Agak sulit karena sebagian besar penginapan di tempat tersebut rusak parah.
Akibat bencana alam yang dia timbulkan.
Setelah berkeliling cukup lama, akhir nya Lu San menemukan penginapan yang cocok.
Setelah masuk kedalam kamar, Lu San langsung membersihkan diri dan berganti pakaian.
Keadaan nya yang kacau balau penuh noda darah, tidak terlalu membuat heran penjaga penginapan.
Karena pulau itu memang baru mengalami bencana besar, banyak yang terluka dan kehilangan tempat tinggal.
Sementara Lu San sedang beristirahat, di kamarnya.
Di tempat lain sebulan yang lalu, tepatnya di kota Barcelona Spanyol.
Lu Sun dan kedua istrinya yang terpaksa menginap sementara di kota itu karena cuaca buruk.
Sambil makan di restoran yang terletak di bawah apartemen mewah Giok Lan.
Lu Sun berkata, sambil menatap Giok Lan
__ADS_1
"Sayang aku jadi ingat perjalanan kita dulu menuju Canada, tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat.."
"Sayang nya Xue Yen sudah tiada.."
ucap Lu Sun sambil menghela nafas sedih.
Dia sedikit melamun, membayangkan perjalanan hidupnya bersama Xue Yen dari masa lalu hingga kini.
Tak urung air mata jatuh menitik dari kedua sudut matanya.
"Sun ke ke sudahlah, dia sudah pergi ke alam yang lebih bahagia, tak perlu lagi kita memikirkan dan merisaukannya.."
ucap Ying Ying sambil menyentuh tangan Lu Sun.
Giok Lan juga ikut termenung dan larut dalam kesedihan, dia teringat dengan kebaikan pamannya hatinya juga diliputi perasaan berduka.
Lu Sun menoleh kearah Ying Ying, sambil tersenyum sedih dia mengangguk lalu menyentuh wajah istrinya dengan lembut dan berkata,
"Manusia tidak pernah puas dan mensyukuri apa yang di terima nya.."
"Makasih sayang.."
ucap Lu Sun lembut.
Lalu di menoleh kearah Giok Lan, melihat Giok Lan diam termenung, dengan lembut Lu Sun merangkul bahu Giok Lan dan berkata,
"Jangan terlalu berduka, bila cuaca sudah bagus besok kita bisa pergi ke sana mengurusnya.."
"Mengurus apa ? meski pelaku kita temukan dan habisi semua, apa gunanya..?"
"Paman ku tidak mungkin bisa kembali lagi, sama seperti kak Xue..."
sampai di sini Giok Lan menghentikan kata katanya tidak di lanjutkan.
Mereka bertiga larut dalam keheningan kehilangan ***** makan.
Melihat hal ini, Ying Ying pun berkata,
"Aku mau telpon ke rumah dulu, cuaca begitu buruk, entah bagaimana keadaan dirumah..?"
Setelah mencoba beberapa kali tetap tidak bisa tersambung, Ying Ying sambil menghela nafas panjang berkata,
"Cuaca sungguh buruk, hingga sambungan telpon ke rumah pun tidak bisa.."
"Jangan khawatir di rumah ada banyak orang semua pasti baik baik saja."
"Lebih baik kita segera selesaikan makan malam kita, lalu pergi beristirahat memulihkan tenaga kita."
Kedua istri Lu Sun mengangguk tanpa berkata apa-apa mereka melanjutkan makan.
Giok Lan hanya makan sedikit saja, dia lebih memilih makan buah yang di sajikan sebagai makanan penutup.
Tak lama kemudian mereka bertiga sudah kembali ke apartemen mereka untuk beristirahat.
__ADS_1