KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
LAWAN AFEI DI ARENA SAN DA


__ADS_3

Sambil bergerak mundur Afei berteriak


"Jurus ke 17 Lu Shuang Bing Zhi.


Tubuh Afei dengan ringan melayang mundur, seperti sehelai kapas.


Angin pukulan Xu Dong yang keras seperti terus meniup Afei mundur menghindari serangannya.


"Jurus ke 8 Zhen Jing Bai Li, "


teriak Afei.


Afei mengeluarkan suara raungan naga yang menggetarkan seluruh arena, gerakan Xu Xiao Dong terhenti tubuhnya terhuyung huyung mundur.


Kedua tangan nya menutupi kedua gendang telinga nya yang terasa sangat nyeri.


Sebelum dia sadar dari kagetnya.


Afei kembali berteriak,


"Jurus ke 12 Shuang Lung Qu Sui.


Kedua telapak tangan Afei muncul tiba-tiba didepan wajah dan dadanya, sambil mengeluarkan raungan Naga dan 2 cahaya naga merah biru menghantam wajah dan dadanya.


Tubuh Xu Xiao Dong terpental kebelakang seperti layang layang putus, jatuh terjengkang kebelakang.


Saat mencoba untuk bangun berdiri, Xu Xiao Dong memumtahkan darah segar dari mulutnya.


Tubuhnya sebentar menggigil kedinginan sebentar kepanasan seperti terbakar.


Tapi dia masih bisa kembali berdiri dengan tubuh sempoyongan.


"Jurus ke 10 Shen Lung Bai Wei.


teriak Afei.


Dia melayang kan sebuah tendangan berputar kebelakang, yang di awali dengan raungan Naga, kemudian dari kaki Afei melesat cahaya ekor naga merah menghantam kepala Xu Xiao Dong.


Tubuh Xu Xiao Dong terpental berputaran 2 kali di udara, lalu jatuh tertelungkup diatas lantai, pingsan tidak bergerak lagi.


Afei tidak ingin membunuhnya, hanya ingin memberinya pelajaran saja, sambil menunjukkan bahwa jurus yang dia mainkan bukan hanya untuk di pamer saja..


Tapi setiap jurus nya mengandung serangan mematikan juga pertahanan yang kuat.


Dan jurus di gunakan sesuai situasi bukan di urut urut kan seperti pameran.


Afei sengaja hanya menggunakan 10 % kekuatan nya saja, bila dia mau cukup satu jurus saja Xiao Dong akan hangus terbakar, ataupun mati menjadi patung es.


Tapi Afei tidak tega melakukan hal itu, di antara mereka tidak ada permusuhan.

__ADS_1


Tepuk tangan bergemuruh menyambut kemenangan Afei.


Tubuh Xu Xiao Dong langsung di gotong keluar oleh para petugas keamanan.


Kini semua orang memandang dengan takjub kearah Afei.


Tapi Afei menanggapinya dengan tersenyum ramah.


Dia berjalan menghampiri biksu tua dan berkata,


"Maaf Guru besar, tadi ada sedikit gangguan, jurus Andalan ku sudah selesai."


"Sesuai janji sekarang aku akan menunjukkan Jurus Chang Quan seperti teman-teman yang lainnya."


ucap Afei penuh hormat.


Biksu tua dari Shaolin itu mengangguk dan tersenyum lembut sambil berkata,


"Silahkan anak muda, masa depan kungfu tradisional kita, akhirnya menemui titik terang."


Afei mulai bergerak memainkan peran Zhang Quan yang dia tiru dan perbaiki gerakannya dengan Qian Kun Ta Lo Ih Sin Fa.


Setiap gerakan yang Afei tunjukkan selalu menimbulkan angin berseru deru, terlihat sangat kuat dan dahsyat.


Dari pelan hingga cepat akhirnya sulit diikuti pandangan mata, hanya terlihat segulung cahaya putih yang bergerak kesana-kemari.


Lalu dia melanjutkan dengan gerakan jurus Nan Quan, tanpa kesulitan Afei menyelesaikan jurus selatan yang cepat kuat meledak ledak di Sertai teriakan, dengan sempurna.


Lalu Afei menunjukkan gerakan Tai Chi yang lambat, tapi saat di mainkan oleh Afei gerakan menjadi jauh lebih lamba.


Ttapi angin berputar-putar di sekitar tubuh Afei sebentar panas sebentar dingin, membuat jurus pelan itu terlihat sangat jauh berbeda dan sarat tenaga mematikan.


Sebuah cahaya bayangan Pat Kwa yang terbentuk karena pengerahan Im Yang Sen Kung tampak muncul di atas dan dibawah tubuh Afei.


Bila pencipta ilmu Tai Chi ini, master Thio Sam Hong masih hidup dia sendiri pun akan terbelalak tak percaya.


Karena jurusnya bisa berubah menjadi begitu dahsyat saat di mainkan oleh Afei.


Setelah menyelesaikan demonstrasi jurus tangan kosong, sesuai arahan ayah angkat sekaligus merangkap jadi gurunya.


Afei memainkan pedang golok tombak dan tongkat dengan ilmu yang dia kuasai satu persatu.


Kini para juri sudah tidak bisa berkata-kata lagi melihat ilmu yang di tunjukkan oleh Afei, mereka semua merasa mereka hanya nama saja yang besar.


Bila soal kemampuan mereka jelas tidak ada apa-apa nya, di bandingkan dengan bocah di depan mereka ini.


Para juri menatap Afei dengan penuh kagum, dan masing-masing langsung memberikan angka 10 ke Afei.


Afei kembali memberi hormat kearah mereka sekali lagi, lalu dia pun mundur keluar dari lapangan, memberikan kesempatan untuk peserta lain.

__ADS_1


Setelah menonton penampilan Afei maka penampilan peserta lain terlihat sangat tidak menarik lagi.


Bagaimana pun mereka mendemonstrasikan jurus yang mereka kuasai, jurus yang kosong tanpa isi itu


Hanya terlihat seperti lelucon bagi para penonton, yang sudah terbuka matanya oleh demonstrasi yang di tunjukkan oleh Afei.


Afei sendiri kini sudah muncul di arena lain, arena San Da, di mana dia mulai bertarung satu lawan satu dengan penantang nya.


Meski di batasi oleh berbagai peraturan di arena pertarungan San Da.


Satu persatu lawan Afei jatuh mencium kanvas saat berhadapan dengan dirinya.


Bahkan ada beberapa lawan Afei yang begitu mengetahui lawan mereka adalah Afei, mereka langsung mengundurkan diri.


Mereka melihat Afei seperti momok yang menakutkan.


Sebelum bertanding mereka sudah kehilangan semangat bertarung.


Sementara itu di sisi lain dari jalur lain pertarungan ada seorang pemuda tampan bermata indah dan bertubuh sedikit pendek berasal dari sekolah Qing Dao.


Dia bernama Takeshi Lim karena darah campuran China Jepang.


Di jalurnya dia mengimbangi Afei dalam hal mengalahkan lawan lawannya.


Dia dan Afei terus melaju ke puncak pertandingan, mereka belum bertemu karena berada di jalur berbeda.


Afei bergerak di jalur merah sedangkan Takeshi Lin bergerak di jalur biru.


Kemampuannya juga cukup menakjubkan, semua musuh nya di kalahkan tidak sampai satu jurus.


Kebanyakan hanya dalam sekali gebrak sudah roboh.


Berbeda dengan Afei yang mengalahkan lawannya dengan cedera seringan mungkin


Takeshi Lim termasuk sadis, semua lawannya Ko dengan cedera cukup parah, rata rata kebanyakan pingsan dan di tandu keluar dari arena.


Tapi berhubung dia tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran aturan dalam mengalahkan lawannya.


Pihak panitia tidak bisa memberikan hukuman maupun teguran atas tindakan yang dia lakukan pada lawan lawannya.


Karena kesadisannya, dia juga melaju dengan sangat cepat mengimbangi Afei menuju puncak pertandingan.


Akhirnya Afei dan Takeshi Lim bertemu di partai final.


Afei berdiri di sudut merah dengan topi penutup dan celana pendek merah.


Sedangkan Takeshi Lim berdiri di sudut Biru dengan penutup kepala berwarna biru


Begitu wasit memberi kode pertandingan di mulai, Takeshi langsung memasang kuda-kuda bersiap melancarkan serangannya.

__ADS_1


__ADS_2