KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
ORANG TUA DEBORAH IKUT MAIN KETEPI SUNGAI


__ADS_3

Bahkan di saat terakhir pun yang selalu di perhatikan adalah keselamatan dirinya.


Meski dia sudah berbuat salah dan bodoh, Lu San tetap tidak pernah menyalahkan dirinya.


Hal inilah yang membuat dirinya semakin merasa bersalah menyesal dan sulit move on dari Lu San.


Mama Deborah berjalan menghampiri anak nya, sambil berdiri di samping anaknya dan ikut menatap kearah sungai.


Mama Deborah mengulurkan tangannya, membelai rambut kepala anaknya dengan lembut


Saat mendapati rambut anaknya, mulai rontok dan memenuhi tangannya, mama Deborah semakin sedih dan cemas.


"Sayang ibu mau katakan satu hal pada mu, sampai saat ini jasad Lu San belum berhasil ditemukan.."


"Lu San sangat sakti, tidak semudah itu dia mati, mungkin saja dia berada di suatu tempat sedang merawat luka nya."


"Bila dia sudah pulih kamu tebak dia akan kemana ?"


Mama Deborah berhenti sejenak menunggu reaksi anaknya.


Benar saja tubuh Deborah yang lemah sedikit tersentak saat mendengar pertanyaan mami nya.


Sepasang matanya yang tadinya lesu suram dan tidak bersemangat, kini mulai sedikit bercahaya.


Melihat hal ini, mama Deborah melanjutkan kata-katanya kembali,


"Bila dia kemari dan melihat orang yang paling di sayanginya menyiksa diri seperti ini, menuruti mu bagaimana perasaannya nanti.?"


"Apalagi saat dia kemari cuma menemukan nisan mu, karena kamu terus menyiksa diri mu seperti ini.."


"Kira-kira apa yang akan terjadi padanya,?"


"Bukankah kamu hanya akan kembali berulang ulang menyakiti perasaannya..?"


"Coba kamu pikirkan dan renungkan kata kata ibu, setelah ini terserah padamu."


"Ibu tidak akan ikut campur lagi, kamu sudah besar dan dewasa, kamu harus pilih sendiri mana yang terbaik bagi dirimu.."


Setelah menyelesaikan ucapannya, mama Deborah menepuk bahu anaknya dengan lembut.


Lalu dia pun berjalan menjauhi anaknya dan keluar dari kamar tersebut.


Membiarkan Deborah untuk merenung dan memutuskannya sendiri.


Sesuai dengan harapan mama Deborah, sehari sesudah pembicaraan mereka berdua, hari berikutnya mulai terjadi perubahan besar besaran pada diri putri tunggalnya itu.


Setelah mendengar ucapan dari Maminya yang sangat menyentuh dan masuk akal.


Deborah perlahan-lahan mulai kembali bersemangat, gairah hidupnya mulai timbul.

__ADS_1


Dia mulai rajin makan, olahraga, bahkan dia mulai berias dengan cantik.


Setiap hari pagi pagi sekali dia selalu menyempatkan dirinya pergi ke pinggir sungai Thames untuk berlari pagi beberapa putaran.


Setelah lelah dia akan beristirahat di tempo sungai tempat kejadian bianglala raksasa itu roboh.


Di sana dia akan duduk beristirahat termenung, seorang diri menikmati sinar matahari pagi.


Bila keringatnya sudah mulai kering.


Dia akan berdiri di tepi sungai berteriak keras,


"San ke ke kembali lah..! aku akan selalu menunggu mu,..! di sini...!"


Deborah tidak memperdulikan tatapan heran orang orang yang mengira dirinya gila, atau kurang beres otaknya.


Selesai berteriak sepuasnya, dia baru berlari pulang ke rumah nya.


Saat menjelang sore, dia juga akan kembali marathon sore di tepi sungai tersebut, sama seperti di waktu pagi hari.


Bedanya cuma di sore dia akan bermandikan cahaya matahari sore menjelang terbenam, saat senja tiba


Dia baru akan kembali berteriak kearah sungai, meneriakkan hal yang sama.


Dia berharap bila Lu San kebetulan masih hidup dan berada di sekitar sana.


Lu San akan tahu dan segera kembali ke sisinya.


Deborah sudah bersiap mau meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke rumah.


Tiba-tiba Deborah melihat air didepan bergolak.


Deborah tidak jadi beranjak, dia berdiri di sana menatap kearah air di depannya yang sedikit bergolak dengan heran.


Tiba-tiba muncul kepala seekor ular hijau kecil, yang berenang kesana kemari di hadapannya.


Deborah memperhatikan dengan penuh penasaran kearah ulat hijau kecil tersebut.


Teringat bahwa Lu San memang punya kemampuan berubah ubah, Deborah segera berlari kearah pedagang Roti hot Dog yang hampir menutup tempat berjualan nya.


Deborah buru-buru menghampiri penjual roti tersebut dan berkata,


"Roti hot dog nya satu.."


"Maaf nona kecil,roti hotdog nya sudah habis, ini saya sedang beres beres mau pulang.."


ucap penjual itu menolak sambil tersenyum ramah.


Tapi Deborah tidak beranjak dan tidak berputus asa.

__ADS_1


Dia kembali berkata sambil merangkapkan kedua tangannya di depan wajahnya,


"Pak ku mohon satu saja,.. bantu lah saya, besok besok saya janji akan menjadi pelanggan bapak pagi dan sore di sini.. please.."


Melihat tatapan Deborah yang penuh permohonan bapak penjual roti akhirnya luluh dan berkata,


"Baiklah...baiklah..aku akan buatkan khusus untuk mu ."


Bapak tersebut kemudian mengeluarkan roti olesannya dan dua batang sosis lalu mulai membakarnya.


Sesaat kemudian dia menyerahkan sosis tersebut ke Deborah dan berkata,


"Ini ambillah gratis untuk mu.."


"Terimakasih pak.. terimakasih..bapak sungguh baik sekali..sekali lagi terimakasih.."


ucap Deborah mengucapkan terimakasih berulang-ulang sambil membungkukkan badannya memberi hormat kepada bapak penjual roti yang baik itu..


Deborah kemudian dengan riang membawa potongan roti panas itu ketepi sungai, Deborah melihat ular kecil tersebut masih belum pergi masih berenang disekitar tempat itu.


Deborah mencuil rotinya kecil kecil, kemudian dia melemparnya ke arah ular kecil.


ular kecil itu dengan cepat menyambutnya.


Dan langsung menghabiskan potongan roti itu, secuil demi secuil akhirnya habis satu potong roti hot dog tersebut berpindah kedalam perut ular kecil tersebut.


Ular itu memunculkan kepalanya keatas, kemudian menenggelamkan diri, berulang sebanyak 3 kali.


Seperti memberi penghormatan dan mengucapkan terimakasih pada Deborah, setelah itu ular itupun menghilang kedalam air.


Deborah sangat gembira, seolah olah menemukan teman baru.


Setelah memastikan ular itu sudah benar-benar pergi.


Tempat itupun mulai gelap dan sepi, Deborah pun segera berlari pulang ke rumah nya, dengan hati riang gembira.


Sampai di rumah saat makan malam, bersama kedua orang tua nya, Deborah tidak habis habis memuji kebaikan bapak penjual roti itu padanya.


Melihat putri tunggal mereka terlihat begitu senang dan bahagia.


Kedua orang tua Deborah saling pandang dan mereka sama-sama mengangguk.


Keesokan paginya, papa dan mama Deborah pagi pagi sengaja khusus menemani putri tunggal mereka berlari di tepi sungai.


Mereka berdua penasaran apa yang di lakukan anak mereka di sana, sehingga semalam saat pulang terlihat sangat bahagia berbeda jauh dari biasanya.


Mereka berdua akhirnya menemukan bapak penjual roti yang baik hati sesuai dengan cerita anak mereka semalam.


Papa dan mama Deborah berjalan menghampiri si penjual roti tersebut, sambil Pura-pura memesan roti hot dog .

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua mulai terlibat bercerita seru dengan bapak penjual roti hot dog tersebut.


__ADS_2