KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
KELAS KE 4 MELATIH MEMANAH SASARAN


__ADS_3

Lu Sun tersenyum sabar, dia tahu persis orang ini arogan suka di puji, dari awal sentimen terhadapnya.


Karena berpikir kedatangannya untuk berebut dengannya.


Lu Sun berpikir tujuan kedatangannya bukan ingin cari musuh dan keributan, tapi ingin bekerja santai tenang sambil mengawasi keamanan anak anaknya.


Jadi dia tidak perlu berbuat keributan tertentu yang akan membongkar indentitas dirinya.


"Ohh pak Ken, apa kabar pak ?"


Guru Ken tersenyum mengejek menanggapi sikap ramah dari Lu Sun.


Tapi Lu Sun pura-pura tidak tahu dan melanjutkan berkata,


"Pak Ken benar, ini cuma olahraga buat lansia agar tubuh sehat, bukan ilmu beladiri yang hebat seperti pak Ken kuasai."


ucap Lu Sun merendah.


"Terkadang memang ada beberapa orang yang terlalu percaya diri, karena kebanyakan nonton film, jadi over berkhayal."


"Sehingga mengira ilmu olahraga kesehatan ini sebagai ilmu beladiri, lalu nekad maju menantang para ahli beladiri dan petarung.."


"Hasilnya hanya membuat dirinya terlihat konyol dan memalukan."


"Benar tidak pak Ken, melihat fisik pak Ken, sekali lihat juga semua orang tahu."


"Pak Ken pasti petarung yang hebat dan berpengalaman, makanya pak Ma bersusah payah mengundang anda kemari jadi pelatih."


Pujian dari umpakan yang di berikan Lu Sun membuat pak Ken tersenyum senang, dia membusungkan dadanya dengan bangga.


Rasa ingin membuat masalah dengan Lu Sun karena iri, seketika terlupakan.


Lu Sun kemudian dengan cerdik berkata,


"Maaf pak Ken waktu mepet, saya masih ada kelas berikutnya.."


"Mohon maaf pak Ken saya pamit permisi dulu."


ucap Lu Sun sambil menepuk-nepuk bahu pak Ken.


Lalu dia pun berlalu dari sana.


Semua murid yang berlatih Tai Chi tadi meski di hati mereka yang berjiwa muda, merasa kecewa berat.


Melihat Lu Sun guru yang mereka idolakan adalah seorang pengecut yang takut dengan guru Ken yang arogan itu.


Mereka semua tetap dengan tertib mematuhi perintah Lu Sun, untuk kembali ke kelas mereka.


Sambil berjalan mereka pada berbisik-bisik membicarakan sikap guru Lu yang memalukan dan bikin kecewa.

__ADS_1


Lu Sun tentu bisa mendengar semuanya, tapi dia tersenyum sendiri, dan pura-pura tidak mendengar.


Lu Sun tidak terganggu dengan respon para murid, dia kesini bukan untuk cari tenar.


Jadi dia tidak terlalu memikirkan yang mereka bicarakan.


Lu Sun langsung menuju ke kelas anak SMP kelas 1 , sama seperti murid SMA kelas 3 ruangan kelas anak SMP kelas 1 juga kosong.


Tidak terlihat ada siapa-siapa di sana, Lu Sun langsung melangkah ke lapangan terbuka.


Ketika tiba di area latihan memanah, Lu Sun melihat anak-anak itu sudah berbaris rapi menanti kedatangan nya.


Bahkan mereka sudah menyiapkan meja untuk meletakkan busur dan kantong anak panah.


Lu Sun tersenyum senang melihat semangat murid-murid yang akan di latihnya.


"Anak-anak hari ini kita akan belajar memanah, karena masih pemula kita latihan dari jarak 60 meter saja."


"Nanti kalau sudah mahir, kita baru bermain di jarak 90 meter."


Lu Sun pertama Tama memberikan contoh menembakkan panah kearah sasaran, tembakan Lu Sun mendarat dengan tepat di lingkaran keemasan yang berada di titik paling tengah.


Para murid semakin kagum dengan kemampuan guru baru mereka yang serba bisa ini.


Mereka terlihat sangat antusias dan semangat untuk mencoba memanah sesuai bimbingan Lu Sun


Ayahnya sendiri adalah seorang jagoan panah yang bisa menembak sasaran dengan mudah dalam jarak 120 langkah.


Tentu kemampuan Lu Sun dalam memanah juga termasuk sangat baik, apalagi kini dia di dukung dengan berbagai kesaktian.


Jarak 600 meter lemparan tanpa busur pun bukan hal sulit baginya, apalagi ini cuma 60 meter.


Setelah Lu Sun melakukan tembakan pembukaan sebagai contoh, satu persatu murid mulai maju melepaskan tembakan anak panah mereka sesuai dengan petunjuk dari Lu Sun.


Selain tehnik memanah, Lu Sun juga mengajarkan tehnik pernafasan untuk memperoleh fokus dan konsentrasi yang tinggi.


Dengan tehnik ini bahkan benda bergerak, maupun pemanah sendiri sedang berada di atas punggung kuda.


Tembakan akan tetap dengan tepat mencapai sasaran.


Dalam memanah juga sangat di perlukan bakat dan latihan, oleh karena itu meski mendapat petunjuk langsung dari Lu Sun.


Hanya ada 3 siswa yang bisa mengenai sasaran emas dengan tepat.


Sisanya sebagian besar anak panah mereka mendarat di lingkaran biru.


Ada beberapa orang, yang anak panahnya mendarat di lingkaran hitam.


Tapi berkat petunjuk dari Lu Sun tidak ada anak panah yang tidak mencapai sasaran, atau pun meleset dari sasaran.

__ADS_1


Anak anak itu terlihat sangat puas dan gembira, karena masing-masing dari mereka tidak ada yang tembakan Anak panah nya meleset dari sasaran.


" Simon Kevin dan Clara kalian bertiga kemarilah.."


ucap Lu Sun sambil berjalan kearah batas jarak 90 meter.


Kalian bertiga bersiap-siap untuk melakukan tembakan jarak 90 meter.."


"Anak Anak semuanya, Selain Simon Kevin Clara, kalian semua boleh kembali ke kelas dengan tertib, bersiap-siap untuk pulang sekolah.."


uap Lu Sun ke muridnya yang lain.


Murid yang lainnya, dengan girang segera bubar dari lapangan kembali ke kelas bersiap-siap untuk pulang.


Lu Sun menatap sebentar ke muridnya yang bubar dari lapangan dengan gembira, dia tersenyum melihatnya.


"Kevin kamu mulai dulu, ingat fokus dan konsentrasi, atur nafas mu,.sesuai tehnik yang ku ajarkan."


"Setelah udara sekitar terkumpul di tubuh mu, baru lepaskan kekuatannya ke busur dan anak panah mu."


"Ingat itu.."


ucap Lu Sun dari samping.


Kevin mulai membidik anak panahnya kesadaran, tak lama kemudian anak panah pun melesat dengan cepat kearah Sasaran.


Anak panah Kevin berhasil mendarat ditengah tengah lingkaran dengan tepat.


Kevin bersorak sorak kegirangan, saat melihat anak panahnya mendarat tepat di sasaran.


"Simon kini giliran mu.."


ucap Lu Sun sambil kembali memberikan pengarahan dari samping.


Begitu panah Simon di lepaskan, anak panah sampai mengeluarkan bunyi berdesing.


Dan menembus papan sasaran.


Sehingga anak panah yang sangat kuat dan cepat itu telah menghilang dari papan sasaran tidak terlihat lagi.


Lu Sun tersenyum puas melihat hasil tembakan anak panah Simon.


Sedangkan Simon sendiri terlihat kecewa karena anak panahnya tidak ada pada papan sasaran.


"Simon jangan kecewa, kerja mu sudah bagus, dengan kekuatan mu itu, kamu bisa ikut lomba yang berjarak 120 meter."


"Kalau tidak percaya, coba kamu cek sendiri ke papan sasaran sana..."


ucap Lu Sun sambil tersenyum

__ADS_1


__ADS_2