KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
MENCARI PARA PREMAN


__ADS_3

Lu Sun menoleh kearah Xue Yen dan Giok Lan lalu berkata,


"Sayang kalian belanja saja berkeliling aku menunggu di sini saja.."


Giok Lan dan Xue Yen mengangguk mereka buru-buru pergi berbelanja.


"Om kantongnya om ?"


tiba-tiba muncul seorang anak kecil menawarkan kantong ke Lu Sun.


Lu Sun tersenyum dan menyentuh kepala nya dengan lembut.


Lalu Lu Sun mengeluarkan selembar 20 Yuan dan di berikan ke anak itu sambil berkata,


"Kamu ikuti kedua Tante itu dan bantu bawakan belanjaan mereka ke saya."


"Aku nanti akan memberikan tambahan 50 Yuan bagi mu."


"Nah pergilah.."


Anak itu matanya berbinar menatap uang ditangannya, tanpa menunggu Lu Sun mengulanginya.


Dia langsung menghampiri Giok Lan dan Xue Yen, dia mengikuti mereka di belakang.


Begitu ada belanjaan dia langsung menawarkan diri membantu membawakan barang belanjaan.


Dengan cerdik dia menjelaskan bahwa, dia disuruh oleh Om berambut putih yang berdiri dekat A Sam.


Sehingga Giok Lan dan Xue Yen tidak bercuriga dan bersedia memberikan barang belanjaan ke dia.


Sementara Giok Lan dan Xue Yen sibuk belanja, Lu Sun mengobrol dengan A Sam.


"A Sam kamu tahu di mana tempat preman-preman itu biasanya mangkal ?"


tanya Lu Sun sambil menatap A Sam.


A Sam mengangguk dan berkata,


"Aku tahu..tapi aku sarankan ke kamu..jangan coba-coba mencari urusan mereka."


"Mereka adalah anggota Genk golok hitam, bahkan polisi pun takut dengan mereka.."


"Jadi lebih baik lupakan saja, cukup A Liu saja, aku tidak mau melihat mu menyusulnya."


ucap A Sam memberi nasehat dengan maksud baik.


"Gakpapa A Sam aku hanya penasaran ingin tahu saja, aku tentu tidak berani pergi cari mereka.."


ucap Lu Sun sambil tersenyum.


"Kalau tidak berani, buat apa nanya-nanya sudahlah lupakan saja.."


ucap A Sam sambil sibuk menyiram air ke ikannya biar tetap segar.


"Ini ada 50 Yuan, kalau kamu beritahu aku."


"50 Yuan ini boleh jadi milik mu.."

__ADS_1


A Sam menghentikan kegiatan nya, menyambar duit Lu Sun dan berkata,


"Baiklah.. terserah kamu.. kalau ada apa-apa jangan bilang tahu dari ku..mengerti..?"


Lu Sun tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.


"Dasar kamu ini..sama istri aja takut..mau cari preman pula..ya sudah siapa suruh kamu banyak duit.."


"Ini kubertahu.. mereka suka nongkrong di belakang pasar sana berjudi dan teler.."


"A Sam satu lagi, apa Aliu punya saudara atau sanak yang berjualan disini ?"


"Ada, tentu ada kamu lihat nenek tua yang jual kangkung di sana, dia neneknya A Liu.."


"Ok makasih infonya ya,.."


ucap Lu Sun sambil menepuk bahu A Sam, lalu berjalan kearah nenek tua penjual kangkung itu.


"Sama sama..makasih juga duitnya..!"


teriak A Sam sambil tersenyum gembira.


Lu Sun melambaikan tangannya tanpa menoleh.


"Nenek apakah benar nenek adalah neneknya Aliu.?"


"Bagaimana keadaan Aliu saat ini ?"


Nenek itu menatap Lu Sun dengan heran kemudian berkata,


"Kamu bukan nya si takut istri itu, kamu sih beruntung istri mu tidak sampai di bawa mereka.."


"Memang biaya rumah sakitnya, semua sudah di tanggung oleh istri mu.."


"Tapi untuk biaya hidup dan keperluan anak istrinya, selama Aliu terbaring di RS, siapa yang nanggung ?"


"Aku sudah sering memberitahunya, jangan suka mencampuri urusan orang.."


"Tapi dia tidak mau dengar, nah sekarang lihat kan akibatnya."


"Siapa yang susah sekarang.."


ucap nenek itu menutup keluh kesahnya sambil menghapus airmatanya.


Lu Sun yang mendengar curhatan si nenek menjadi semakin geram dengan para preman itu.


Tadi A Sam menyebutkan mereka anggota Genk Golok hitam, rasanya dia seperti pernah dengar.


Cuma di mana dia dengar nama itu, dia sudah lupa.


"Nenek jangan khawatir, ini terimalah tolong sampaikan rasa terimakasih ku kepada Aliu, kalau ada waktu aku akan pergi menjenguknya nanti.."


ucap Lu Sun sambil menyerahkan seikat uang pecahan 100 Yuan yang jumlahnya mencapai 10.000 Yuan.


"Anak muda mana boleh seperti ini...Aliu melakukan nya tanpa pamrih.."


"Kalau dia tahu dia pasti akan memarahi ku.."

__ADS_1


ucap nenek itu panik dan mencoba mendorong uang itu kembali ke Lu Sun.


Lu Sun tersenyum lembut dan menepuk punggung tangan nenek itu sambil berkata,


"Saat ini yang paling membutuhkan uang ini adalah anak dan istri Aliu."


"Nenek gunakan saja dulu, nanti kalau Aliu sembuh, suruh dia datang ke rumah ku, ini alamatnya."


"Aliu bila merasa tidak enak hati menerima uang ini, dia bisa bekerja pada ku.."


"Aku jamin penghasilannya akan 10 kali lipat dari penghasilan di sini."


Nenek itu menangis terharu dia hampir berlutut pada Lu Sun, tapi Lu Sun menahannya.


Dengan terbungkuk- bungkuk nenek itu berkata,


"Tuan anda sungguh orang baik yang di kirim oleh tuhan untuk membantu keluarga kami.."


"Terimakasih.. terimakasih tuan..Budi mu kami sekeluarga hanya bisa membalasnya di kehidupan berikutnya."


Lu Sun tersenyum dan berkata,


"Sudahlah nenek kamu jangan seperti ini, aku jadi tidak enak."


"Lihat teman-teman di pasar ini semua nanti mengira aku menindas orang tua.."


"Nanti aku dapat julukan baru si takut istri yang suka menindas orang tua.."


"Siapa...? siapa..? siapa yang berani berbicara seperti itu, aku si nenek tua ini akan mengadu nyawa dengan nya."


ucap nenek tua itu marah dan mengedarkan pandangannya ke arah sekelilingnya.


"Hei kalian semua dengar...!!"


"Mulai hari ini bila ada yang berani memanggil tuan penolongku dengan sebutan penghinaan itu..!"


"Berarti kalian mencari masalah dengan ku..!"


teriak nenek itu lantang sambil berdiri di atas kursi.


Lu Sun sedikit terkejut dengan reaksi nenek itu, dia buru-buru membantunya turun dari kursi.


Setelah itu Lu Sun pun berkata,


"Nek aku pergi dulu..jaga diri nenek baik-baik.."


"Jangan lupa memberitahu Aliu setelah sembuh datang lah mencari ku.."


Setelah berucap Lu Sun langsung berjalan menuju belakang pasar seorang diri.


Dia sekilas menatap kearah kedua istrinya yang sedang sibuk berbelanja, melihat mereka baik-baik saja, Lu Sun pun meneruskan langkahnya menuju belakang pasar.


Tiba di bagian belakang pasar yang kotor bau Pesing, dan sepi.


Lu Sun melihat tembok yang penuh dengan coretan kata kata kotor dan gambar gambar jorok.


Di dalam hati dia sangat bersyukur kedua istrinya tidak sampai di bawa par preman itu kemari.

__ADS_1


Bila tidak entah apa yang akan terjadi dengan mereka berdua di tangan para bajingan itu.


Lu Sun melangkah perlahan sambil mengedarkan pandangannya dan memasang pendengarnya mencari keberadaan preman-preman itu.


__ADS_2