
Perlahan-lahan lantai paling atas yang merupakan ruang terbuka mulai ramai .
Satu persatu mereka mulai berdatangan ke lokasi yang di minta oleh Lu Sun dan di sampaikan lewat Hasan
Setelah melihat tidak ada yang datang lagi, Lu Sun baru berkata,
"Wahai saudaraku yang sealiran dan sepikiran, sebelum aku menyampaikan pesan dari pimpinan tertinggi kita di Sin Jiang."
"Tolong pastikan apakah masih ada teman ataupun keluarga kalian yang belum hadir.
Bila ada yang belum tolong di jemput..!"
"Ini masalah penting..!"
ucap Lu Sun dengan penuh semangat.
Sesaat suara berisik mulai memenuhi tempat tersebut.
Setelah menunggu beberapa saat, suara mulai hening Lu Sun baru berkata
"Hasan Hasyim gimana !?"
"Apakah sudah lengkap !?"
Dua orang pria brewokan dan berjanggut maju kedepan menghadap Lu Sun dan berkata,
"Semua sudah lengkap ketua..."
Lu Sun mengangguk dan berkata,
"Baiklah,...pesan yang di sampaikan oleh pimpinan Xin Jiang adalah kalian semua yang berada di sini, hari ini juga akan mati..!"
Ucapan Lu Sun menimbulkan kekagetan dan teriakan marah, kecewa, selain itu suara jeritan dan tangisan ketakutan mulai terdengar.
Para lelaki dengan marah dan sikap mengancam langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
Ternyata di balik daster gerombyongan yang mereka kenakan rata-rata para pria besar kecil menyimpan sepucuk senjata AK 47.
Mereka rata-rata terlihat sangat fasih menggunakan senjata tersebut.
Tapi sebelum mereka sempat bertindak, Lu Sun sudah melepaskan aura Naga, sehingga mereka tidak bisa bergerak.
Lalu Lu Sun mulai mengerahkan pukulan 18 Tapak Penahluk Naga nya kesemua orang yang ada di sana.
Tubuh mereka semua tersapu oleh angin pukulan Lu Sun yang melempar tubuh mereka semua keluar dari atas pembatas atas gedung.
Terjatuh dari lantai 100 menuju ke bawah, tubuh mereka saat mendarat di atas lantai menimbulkan suara berisik dan tidak berbentuk lagi.
Setelah mengosongkan semua orang yang berada di atap gedung, Lu Sun sendiri ikut melompat ke bawah tapi dia mendarat di sisi yang lain dengan ringan.
Lalu dia dengan santai meninggalkan tempat itu dalam Wujud Salahuddin.
Tak lama kemudian mobil sedan putih terlihat meninggalkan lokasi yang sedang terjadi kehebohan dan keramaian.
__ADS_1
Lu Sun berangkat menuju lokasi lainnya yang menjadi target berikutnya.
Lu Sun melakukan hal yang sama di hampir setiap lokasi yang di tuju.
Menjelang sore Lu Sun baru bisa kembali ke pesawat jet pribadinya berangkat malam itu juga menuju Sin Jiang.
Saat duduk santai di dalam pesawat Lu Sun bergumam sendiri.
"Keparat itu, ternyata markasnya ada 15 sungguh-sungguh merepotkan, untung ada data dari Ishak sehingga semua menjadi lebih cepat dan lancar.."
"Masih ada waktu beberapa jam sebelum sampai ke Sin Jiang."
"Lebih baik gunakan untuk istirahat dulu.."
ucap Lu Sun seorang diri.
"Sun ke ke....Sun ke ke... bangunlah.."
Mendengar suara panggilan lembut yang sangat di rindukan nya, Lu Sun pun membuka sepasang matanya.
"Ehh kalian berdua ? kenapa bisa ada di sini ?"
"Kelihatannya aku kembali bermimpi.."
ucap Lu Sun sambil menatap heran Ying dan Xue Yen yang berdiri di hadapannya.
Mereka berdua berdiri di hadapan Lu Sun dan menatap Lu Sun dengan wajah sedih.
"Sun ke ke mengapa kamu lakukan hal itu, ? mengapa kamu melakukan pembantaian kejam seperti itu ?"
"Hentikan Sun ke ke, kamu harus hentikan sebelum semuanya terlambat..."
ucap Ying Ying dengan wajah sedih.
Begitupula dengan Xue Yen, dia terlihat sudah menangis tersedu-sedu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Mendengar teguran dari Ying Ying, Lu Sun pun terperanjat dan dia langsung terbangun dari mimpi nya.
"Apa yang sedang ku lakukan, apakah yang ku lakukan saat ini adalah suatu kesalahan..?"
ucap Lu Sun terlihat menyesal dan merasa bersalah.
"Apakah aku sedang menabur benih karma buruk..?"
gumam Lu Sun sambil memegang kepalanya sendiri yang terasa sakit.
"Ahh wajah wajah itu..!'
teriak Lu Sun histeris..
"Mereka semua sedang menatap ku,. mereka menuntut pertanggungjawaban ku, aku...aku telah salah ...aku telah salah..."
"Aku melenyapkan begitu banyak jiwa jiwa tak berdosa.."
__ADS_1
"Ahh maafkan aku... maafkan aku yang maha agung.."
teriak Lu Sun histeris.
Lu Sun jatuh berlutut di atas sebuah hamparan rumput hijau yang sangat luas dan tidak bertepi.
Lu Sun terlihat begitu kecil di hamparan rumput yang begitu luas, angin sejuk menerpa rambut dan wajahnya.
Menghapus kering sepasang matanya yang basah, Lu Sun terlihat berlutut merangkapkan sepasang tangannya didepan dada, dengan wajah menengadah menatap langit dan berkata,
"Wahai dewa agung pencipta semesta, aku sungguh berdosa.. hukumlah aku..aku siap menerimanya.."
"Tapi bebaskanlah dosa mereka, biar aku saja yang menanggung nya.."
Sebuah cahaya emas turun dari langit terlihat sesosok manusia yang seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya keagungan.
dan wajahnya selalu tersenyum ramah penuh welas asih.
Dia menatap Lu Sun seperti tatapan seorang ayah yang menatap putra nya yang habis berbuat nakal dan kini merasa menyesal.
Kemunculan dirinya membuat waktu berhenti seketika.
Sambil tetap tersenyum sabar dia berkata,
"Kamu bisa menyadari kesalahan mu dan menyesali perbuatan mu itu adalah hal baik.."
"Semua dosa yang kamu lakukan itu adalah hukum sebab akibat, kamu tidak perlu terlalu menyesali nya.."
"Mereka yang mati di tangan mu, meski di saat ini mereka tidak berdosa, tapi sebenarnya mereka sedang menanggung dosa dosa mereka di kehidupan yang lampau.."
"Kedua tangan mu hanya sebagai alat untuk membebaskan dosa dosa di masa lalu mereka.."
"Sebagian lagi adalah para pendosa yang langsung menuai karma buruk yang mereka lakukan di kehidupan ini.."
Lu Sun mengagkat wajahnya menatap wajah sosok yang sedang melayang di udara itu.
"Maksud yang agung, yang ku lakukan itu tidak salah dan semua adalah wajar..?"
Dewa agung menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Membunuh tetap adalah membunuh, dosanya tetap akan kamu tanggung, bila di kehidupan ini kamu tidak bisa membayar nya hingga lunas."
"Maka kamu akan melanjutkan nya di kehidupan berikutnya."
"Karena kamu sudah menyesali perbuatan mu, dan di antara kita memang berjodoh,"
"Maka aku akan bantu menghilangkan dosa orang di sekitar mu, tapi sebagai pertukaran nya, dosa mereka akan di perhitungkan di atas pundak mu."
"Bagaimana apakah kamu bersedia menerimanya..?"
tanya Dewa Agung.
"Terimakasih Dewa Agung, hamba bersedia menerima dan menanggungnya."
__ADS_1
Dewa agung Tersenyum lembut, lalu perlahan-lahan tubuhnya kembali naik keatas langit bersama cahaya emas yang turun dari langit.