
Cindy di dalam hati sedikit terkejut melihat kekuatan yang ditunjukkan oleh kakek tua dihadapan nya.
Satu dari tujuh tetua yang sudah ujur, pun masih memiliki kekuatan seperti ini apalagi yang lainnya.
Pantas saja setelah senior Yang dan kakaknya tiada, mereka dengan sangat berani dan terang-terangan menantang dan memaksanya menjadi ketua tanpa wewenang alias (Ketua Boneka ).
Sampai saat ini dia belum melihat keberadaan Lu Sun, bila Lu Sun tidak muncul.
Akan sangat berbahaya bagi dirinya bila harus berhadapan dengan kakek tua yang licik dan keji ini.
Kakek Xie mulai menginterogasi ke 6 orang rekannya satu persatu, setelah mengumpulkan semua rahasia kekayaan ke 6 orang itu.
Termasuk lokasi mereka menyimpan kunci emas yang mereka miliki.
Kakek Xie kemudian menikam jantung mereka satu persatu dengan belati yang dia gunakan untuk membunuh Xie Ding Kang, ketika lengah.
Setelah membunuh ke 6 orang itu dengan cara sadis dan dingin kakek Xie mengajak Cindy meninggalkan gua tersebut.
Sampai ditepi pantai kakek Xie mencari perahu karet yang di gunakan oleh ketujuh saudaranya untuk mendarat di pulau.
Setelah di ketemukan dia merobek perahu karet tersebut dengan belatinya, kemudian menghanyutkan perahu karet tersebut.
Setelah itu kakek Xie Ding Feng baru kembali kearah perahu karet miliknya dan Cindy.
Melihat Cindy belum pergi dan masih duduk di dalam perahu karet menunggu kedatangan nya.
Kakek Xie Ding Feng bergerak cepat menghampiri Cindy.
Kakek Xie Ding Feng sambil tersenyum lebar dia berkata,
"Kini hanya tersisa kita berdua sebaiknya kamu serahkan kunci emas yang ada di tangan mu kepada ku."
"Aku akan membiarkan mu keluar dari pulau ini dalam keadaan hidup hidup."
"Bila tidak maka aku terpaksa melumpuhkan mu, dan mengorek informasi seperti yang dialami ke 6 tetua itu sebelum mati."
Cindy terkejut mendengar ucapan kakek Xie Ding Feng.
Apa yang dia khawatirkan kini terbukti, keparat yang tidak bisa di percaya ini akhirnya menunjukkan belangnya.
Cindy sedang berpikir di mana Lu Sun, bila Lu Sun terlambat muncul dia pasti celaka ditangan kakek yang bukan manusia ini.
Cindy diam-diam menghubungi Lu Sun dengan HP nya dan menyisipkan nya di perahu karet.
__ADS_1
Baru dia melompat turun dari perahu karet berdiri di hadapan kakek Xie bersiaga menghadapi segala macam kemungkinan yang bisa terjadi.
"Xie Ding Feng ku sarankan kamu jangan macam-macam atau kamu akan . menyesal nantinya."
ucap Cindy mencoba mengancam kakek Xie Ding Feng agar tidak berbuat nekad menyerangnya.
"Ha...ha...ha...! kamu mau menakuti anak kecil...!"
"Sekarang juga berikan kunci emas milik mu, jangan banyak bacot lagi."
"Atau jangan salahkan aku bersikap kasar."
Cindy mengangkat bahunya dan berkata,
"Percaya atau tidak terserah, aku tidak tahu menahu soal kunci yang kamu sebutkan."
"Mungkin kakak ku yang menyimpan nya, bila kamu menginginkannya cari saja kakak ku dan minta dari nya.."
"Bocah sialan kelihatannya kamu bila tidak merasakan pisau kamu tidak tahu meneteskan air mata."
Kakek Xie mulai menyerang Cindy dengan cakar yang berwarna biru dan merah kearah dada dan perut Cindy .
Cindy tidak ingin melayani keras lawan keras, dengan menotolkan ujung kakinya ketanah, dia bergerak mundur menjauh.
Tapi Kakek Xie Ding Feng tetap bergerak meluncur mengejarnya,. dengan ujung kaki menotol tanah dia meneruskan laju tubuhnya yang semakin cepat mengejar kearah Cindy dengan sepasang cakar terbuka.
Cindy tidak bisa terus bergerak mundur menghindar, dia terpaksa menggunakan selendang yang dialirkan tenaga sakti.
Untuk membelit sepasang cakar kakek Xie Ding Feng yang terus menerus mengejar kearahnya.
Cindy berencana membelitnya kemudian menariknya kedepan sambil menyusul melepaskan sebuah tendangan kekepala dan dada kakek Xie Ding Feng.
Tapi rencana tinggal rencana, antara rencana dan kenyataan jauh bertolak belakang.
Baru saja selendang membelenggu kedua tangan Xie Ding Feng, selendang langsung hancur berkeping-keping tidak kuat menahan tenaga panas dan dingin yang terpancar dari sepasang cakar kakek Xie Ding Feng.
Cindy terpaksa dengan cepat harus merubah rencana, kaki yang dipersiapkan untuk menendang wajah dan dada Kakek Xie Ding Feng.
Kini dirubah arah nya menjadi tendangan yang menyambut sepasang cakar kakek Xie Ding Feng yang terus mengejar dirinya.
Tendangan Cindy berhasil menghentikan pergerakan kakek Xie, tapi dia sendiri terpental kebelakang, untuk mematahkan daya dorongnya.
Cindy bersalto beberapa kali kebelakang baru mendarat ringan diatas tanah.
__ADS_1
Bila di lihat sekilas gerakan Cindy sangat indah dan keren.
Tapi kenyataannya, Cindy merasa sepasang kaki yang digunakan menyambut serangan kakek Xie Ding Feng.
Terasa ngilu berdenyut-denyut sedikit mati rasa, ini menunjukkan kekuatan kakek Xie Ding Feng masih jauh di atas kekuatan Cindy.
Kakek Xie Ding Feng kembali bergerak menyerang Cindy, kini tubuhnya meluncur dari atas kebawah memberikan serangan cakar yang bertubuh menjadi puluhan cakar yang mengepung jalan mundur Cindy.
Cindy terpaksa menggunakan ilmu ringan tubuhnya menghindari semua bayangan cakar yang dengan ganas terarah ke dirinya.
Cindy lenyap menjadi sebuah bayangan merah jambu berkelebat kesana kemari.
Akhirnya menghilang dari arena pertempuran dan muncul ditempat yang cukup jauh dari Kakek Xie Ding Feng.
"Budak betina...! mau kabur kemana kamu..?!"
teriak Kakek Xie kemudian melesat mengejar kearah Cindy.
Pertempuran terus berlangsung mirip kejar-kejaran, Cindy yang tidak kuat menghadapi langsung serangan kakek itu.
Memilih terus mengelak dan menghindar mengandalkan kelincahan dan kecepatan geraknya.
Cindy memanfaatkan keunggulannya dalam hal ilmu ringan tubuh, untuk meredam keganasan serangan kakek Xie Ding Feng.
Pertempuran tersebut terlihat seperti bayangan putih dan merah saling belit dan berkejar-kejaran.
Kakek Xie Ding Feng semakin lama terlihat semakin lambat, peluh terlihat bercucuran membasahi baju dan wajahnya.
Nafasnya juga mulai ngos-ngosan, pukulan nya juga semakin lama semakin lemah.
Melihat kesempatan ini Cindy bergerak lebih cepat mengelilinginya dan terus memaksanya bergerak dengan memberikan serangan-serangan tak terduga dari berbagai arah.
Akhirnya Kakek Xie mulai terhuyung-huyung kesana kemari menerima serangan pukulan dan tendangan dari Cindy.
Tapi dia masih belum menyerah dan bertahan mati-matian dengan sisa tenaganya, matanya mulai berkunang-kunang menghadapi kecepatan pergerakan Cindy.
Cindy terus berterbangan mengelilingi kakek Xie, seperti seekor kupu-kupu yang lincah.
Dari tempat tempat tak terduga Cindy akan melepaskan pukulan dan tendangan nya kearah kakek Xie Ding Feng.
Cindy semakin gembira saat melihat kondisi kakek Xie Ding Feng yang seperti lilin yang hampir padam.
Cindy berpikir tinggal tunggu waktu saja, kakek tua ini akan rebah dengan sendirinya.
__ADS_1