KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
KERIBUTAN DI RUANGAN KARANTINA


__ADS_3

Dengan tenang Xue Yen berkata,


"Gak heran lah dia si genit itu, dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah, selalu celaka ditangan sundal-sundal di sekelilingnya."


"Sudah biarkan saja, biar tahu rasa dia, itu karma untuk orang genit."


ucap Xue Yen dengan nada dingin.


Pengacara Edison Chen sedikit terkejut melihat respon istri ke dua Lu Sun ini.


Dia sedikit salah tingkah tidak tahu mau berkata apa.


Ying Ying hanya tersenyum sabar menanggapi sikap Xue Yen yang dia tahu hanya lain di mulut lain di hati.


Berbeda dengan sikap Ying Ying, Giok Lan terlihat mengerutkan alis tidak senang, dengan wajah gusar dia berdiri dari duduknya.


"Aku mau ke bandara melihat keadaan Sun ke ke, kakak Ying Ying mau ikut ?"


Ying Ying menganggukkan kepalanya, Kemudian ikut berdiri.


Pengacara Edison Chen juga ikut berdiri dari duduknya, dan berkata aku akan mengantar nyonya muda menemui tuan Sun.


Giok Lan tidak berkata apa-apa, dia bahkan tidak menoleh menatap Xue Yen, berpamit maupun mengajaknya.


Ying Ying yang merasa tidak enak hati dengan sikap Giok Lan, dia pun berkata menengahi.


"Xue Xue kamu yakin gak mau ikut melihat Sun ke ke ? jangan terlalu di ambil hati dengan sikap Adik Lan, dia masih muda dan sedang mencemaskan Sun ke ke."


Xue Yen tersenyum menatap Ying Ying dan berkata,


"Kalian saja yang pergi, aku harus ke kantor, bila semua pergi siapa yang urus bisnis kita."


"Aku tidak ada masalah dengan adik Lan, aku hanya sedikit kesal dengan Sun ke ke."


Ying Ying sambil tersenyum lembut berkata,


"Apa yang kamu kesal kan dari Sun ke ke ?"


"Apalagi tentu sikap genitnya yang sering menjadi petaka bagi dirinya, sudahlah di bahas juga tidak akan ada habisnya dan tak bermanfaat."


"Siapa suruh aku sangat mencintainya, mungkin ini adalah hutang ku di beberapa kehidupan lalu padanya."


"Ying Ying sudahlah kamu segera berangkat saja, aku titip ini saja."


"Nanti adik Lan semakin kesal bila menunggu lebih lama lagi."


ucap Xue Xue sambil memberikan sebuah rantang yang berisi masakan nya buat Lu Sun dan sebungkus permen mint kesukaannya

__ADS_1


Ying Ying mengangguk dan berkata,


"Baiklah kalau begitu aku jalan dulu..bye..*


Xue Xue tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Ying Ying.


Lalu dia pun bersiap-siap untuk pergi ke kantor Ying Ying terlebih dahulu memastikan San San Coorporate tidak bermasalah.


Baru di akan ke kantor pusat Groups Lu, Xue Xue gak terlalu khawatir dengan groups Lu, karena di sana ada David yang bisa di andalkan.


Tak lama kemudian Ying Ying Giok Lan dan pengacara Edison Chen berhasil masuk ke dalam ruangan karantina Lu Sun.


Setelah mereka melalui berbagai prosedur pemeriksaan yang rumit dan berbelit-belit.


Untungnya di sana hadir pengacara Edison Chen yang berpengalaman dan mengerti prosedur.


Sehingga memperlancar mereka untuk bisa bertemu Lu Sun.


Begitu pintu ruangan terbuka Lu Sun yang sedang duduk bermeditasi membuka matanya yang bersinar mencorong seperti seekor naga sakti.


Tapi saat melihat siapa yang datang menemuinya, sinar matanya berubah melembut.


Dia berdiri dari duduknya, karena melihat kedatangan Ying Ying dan Giok Lan Lu Sun begitu senang hingga borgol yang tadi dilepaskan oleh nya karena bikin ribet.


Kini tergeletak di lantai, lupa dia kenakan kembali.


Melihat Lu Sun berjalan kearah mereka tanpa mengenakan borgol, kedua petugas itu sangat kaget, mereka segera mengangkat senjatanya di arahkan ke Lu Sun sambil berteriak,


"Berhenti di tempat...! angkat tangan...!"


Di saat bersamaan Ying Ying dan Giok Lan yang terlalu gembira malah berlari menghampiri Lu Sun, untuk memeluk melepaskan rasa kangen dan rasa cemas mereka.


Lu Sun yang melihat hal yang mungkin bisa membahayakan istrinya, dia menghilang dari tempatnya.


Muncul tepat menghadang di antara kedua istrinya dengan kedua petugas kepolisian yang sedang mengangkat senjata kearahnya.


Melihat Lu Sun bergerak, kedua petugas itupun melepaskan tembakan kearah Lu Sun.


Dorr..! Door..! Dorr...! Dorr..! Doorr...! Dorrr..!"


terdengar bunyi tembakan yang sangat keras bergema di dalam ruangan tersebut.


Kedua petugas itu menjadi pucat dan kaget, saat melihat tembakan yang mereka lepaskan sama sekali tidak berpengaruh terhadap Lu Sun.


Mereka menatap melongo dengan wajah pucat, saat Lu Sun menjatuhkan peluru dalam genggamannya keatas lantai yang menimbulkan bunyi berdentingan,


"Ting...! Tring...! Ting...! Tring...! Ting...! Ting...!"

__ADS_1


"Kalian berdua mundur dari sini..! Jangan membuat ku marah dan meratakan tempat ini..!"


ucap Lu Sun setengah membentak dengan suara dingin.


Kedua orang petugas itu, yang merasa sangat tertekan oleh aura yang dikeluarkan oleh tubuh Lu Sun.


Mereka terjatuh terduduk di atas lantai, tanpa tahu apa penyebabnya.


Mereka hanya merasa tubuh mereka seperti tertindih oleh barang yang sangat berat,


Sehingga sepasang lutut mereka tidak kuat menahan berat badan mereka lagi.


Kedua orang petugas itu secara reflek bergerak mundur menjauhi Lu Sun, hingga punggung mereka membentur tembok di belakang mereka dan tertahan disana tidak bisa mundur lagi.


Suara tembakan mereka mengundang rekan-rekan petugas kepolisian bandara lainnya, mereka berlarian berdatangan sambil membawa senjata Laras panjang semi otomatis.


Beberapa bergerak masuk kedalam ruangan dengan senjata siaga ditangan, begitu masuk mereka mengarahkan senjata mereka ke Lu Sun dan berkata,


"Mundur..! menyerahlah..! atau kami akan menembak...!"


Lu Sun berdiri tenang di hadapan mereka dan berkata,


"Kalian yang tenang..bila aku menghendaki percayalah mainan ditangan kalian, tidak berguna di hadapan ku."


"Kami hitung sampai tiga, segera tiarap dengan kedua tangan di kepala..!"


"Menyerahlah. !"


Teriak para petugas kepolisian tidak mau kalah, dan mereka terlihat sangat percaya diri.


Mereka tetap bersiaga dengan senjata ditangan di arahkan ke Lu Sun Ying Ying dan Giok Lan.


"Satu..!... dua...! tiga....!"


mereka berhitung, karena Lu Sun tidak terlihat ada tanda-tanda mau menuruti perintah mereka, mereka pun melepaskan tembakan kearah Lu Sun.


"Doorr..! Dorr..! Doorrr. ! Door..! Door..Door...!"


Kembali terdengar suara tembakan yang lebih keras dan bertubi-tubi dilepaskan kearah Lu Sun.


Pengacara Edison Chen dengan ketakutan berjongkok di pojok ruangan, sambil memejamkan mata dan menutup kedua telinganya.


Begitu tembakan mereka di lepaskan, ke 6 petugas kepolisian yang memegang senapan semi otomatis.


Kini terlempar keluar ruangan satu persatu, mereka bertumpuk-tumpuk di depan pintu ruangan dengan kondisi tumpang tindih yang menyedihkan.


Kini diluar gedung karantina terlihat 5 mobil Van terparkir di sana.

__ADS_1


__ADS_2