KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
SITUASI DI KEDIAMAN LU SUN


__ADS_3

Lu San tidak pergi ke kamarnya sendiri, setelah keluar dari ruang rahasia.


Melainkan langsung menuju kamar ayahnya.


Setelah masuk kedalam kamar, dia langsung membuka lemari pakaian mencari letak pakaian ayahnya.


Lu San tersenyum puas, saat melihat tumpukan pakaian ayahnya tersusun dengan sangat rapi, berbeda jauh dengan pakaiannya yang asal di tumpuk.


Lu San memilih kaos berukuran besar, yang cocok dengan dirinya, dan beberapa stel celana panjang, semua dia masukkan ke dalam gelangnya.


Saat sedang mencari celana pendek yang cocok, secara tidak sengaja Lu San menemukan celana d*lam dengan bagian depan ada boneka kepala koala, sedangkan bagian belakang gambar Spongebob.


Lu San hampir tertawa terpingkal-pingkal, melihat ayahnya punya celana model seperti itu.


Dia tidak habis pikir bila ayahnya mengenakan celana jenis itu bagaimana penampilan nya.


Lu San dengan nakal memotretnya, kemudian dia kirimkan ke HP ayahnya dan kedua ibunya.


sambil tertawa.


Setelah puas mengacak-acak lemari pakaian ayahnya, Lu San pun numpang mandi di kamar ayahnya, yang sebenarnya ini kamar Ying Ying ibu kandungnya.


Lu San setelah besar jarang masuk ke kamar ini, sehingga agak asing dengan berbagai perlengkapan mandi, dan kondisi shower mandinya dan bathtub nya yang super mewah.


Lu San mandi dan menikmati dengan santai, sedangkan Cherry tidak berani masuk ke kamar ayahnya Lu San.


Dia terpaksa berdiri menunggu di depan kamar sambil menggendong kedua tangannya dengan wajah sebal.


Dia merasa Lu San setelah sembuh, sifatnya agak berubah menjadi berani dan nakal, susah di atur.


Ini wajar, karena Lu San kini di pengaruhi sifat Lu Fan yang benar benar memusingkan, selain Wu Song, mertuanya, dan istrinya Lin Lin tidak ada yang sanggup menangani sifat liarnya Lu Fan.


Selagi asyik mandi tiba-tiba Lu San merasakan dinding dan lantai di kamar mandi berguncang hebat.


Seperti ada guncangan dahsyat, Lu San mematikan kran air, mencoba memasang pendengaran nya yang tajam.


Lagi lagi terdengar benturan yang jauh lebih dahsyat di banding sebelumnya.


Setelah memasang pendengaran nya, untuk mendengarkan dengan lebih teliti.


Dari suara angin kesiurnya.


Lu San dapat menebak ada 8 orang yang sedang bertempur di luar sana, 4 lawan 4.


Tapi kondisinya sangat berat sebelah, sepertinya pertempuran tidak akan berlangsung lama.


Lu San buru-buru berganti pakaian, tiba-tiba pintu kamar mandi di gedor dengan keras dari luar.

__ADS_1


Terdengar suara Cherry yang ketakutan berteriak,


"Adik San...adik San...buruan keluar,.. kita harus segera pergi,.. situasi di luar sana sangat buruk..!!"


Saat pintu kamar mandi terbuka dari dalam, wajah Lu San hampir di gedor oleh Cherry yang panik.


Tapi tangan Cherry yang kecil halus, berhasil di tangkap oleh Lu San.


"Tenanglah kak, kakak bersembunyi di sini saja, saya akan keluar melihat situasi apa yang terjadi.


"Jangan adik San, lebih baik kita segera tinggalkan tempat ini ."


ucap Cherry dengan wajah pucat


Lu San menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak bisa seperti itu, aku harus pergi bantu mereka."


"Kalau kakak mau pergi, kakak boleh pergi lewat pintu belakang, di sana ada mobil dan motor cadangan."


"Terserah kakak mau pakai yang mana.."


ucap Lu Sun tanpa menunggu jawaban Cherry, dia sudah membalikkan badannya siap meninggalkan kamar ayahnya


Saat Lu San membalikkan badannya hendak keluar dari dalam kamar, kembali terdengar suara benturan yang beberapa kali lipat lebih dahsyat.


Dalam posisi melayang di udara di dekat atap rumah, Lu San melihat Aliu, Peter Ho dan nenek semuanya sudah terkapar di lumpuhkan oleh musuh.


Kini hanya tersisa Afei yang di depan nya berdiri Michiko, sedang membentangkan kedua tangannya, menghalangi keempat pamannya untuk menyerang Afei.


Lu San tentu mengenali ke 4 orang itu, yang merupakan paman Michiko.


Mereka adalah Kyoto, Ryozo, Henshin, dan terakhir Ikeda.


Di belakang ke 4 paman Michiko masih berdiri 4 orang muda yang sedang berdiri, mengawasi situasi di sana


Ke 4 orang itu adalah murid kelas sebelah yang mencelakai dirinya kemaren hingga lumpuh, Lu San tentu tidak akan semudah itu melupakan mereka.


Keempat orang itu sudah menyadari kehadiran Lu San, yang bisa melayang di udara, mereka bersikap waspada, karena dari pergerakan Lu San yang bisa melayang seperti itu.


Mereka memperkirakan kemampuan Lu San pasti tidak berada di bawah mereka ber 4.


Tapi mereka tidak mengenali wajah Lu San, karena kini Lu San telah berubah menjadi bentuk Lu Fan.


"Paman tolong hentikan, kalian telah berjanji pada ku tidak akan mencelakainya.."


ucap Michiko berusaha membujuk ke 4 pamannya itu.

__ADS_1


"Michiko minggirlah, kami telah memberimu kesempatan untuk menjauhkan dia dari sini.


Adalah kamu sendirilah yang tidak berhasil melakukannya."


"Jadi jangan salahkan kami, kami hanya menjalankan tugas dan ayah mu, cepatlah menyingkir Michiko.!"


ucap Kyoto dingin.


"Bila tidak jangan salahkan kami bermain kasar pada mu.."


ucap Ikeda mengingatkan.


"Tidak aku tidak akan menyingkir, sampai mati pun aku akan melindunginya..!"


teriak Michiko tegas.


"Kamu ini sungguh keras kepala, kak tolong urus Michiko."


"Bocah di belakangnya serahkan saja pada ku ."


ucap Ikeda sambil bersiap menyerang Afei.


Kyoto menganggukkan kepalanya, dia juga bersiap ingin melumpuhkan Michiko keponakannya yang bandel.


Afei yang berdiri di belakang Michiko berkata,


"Michiko kamu jangan bodoh, kita tidak mungkin bersama."


"Kamu pergilah dengan mereka, aku tidak akan pernah menyalahkan mu.."


"Nyawa ku ini milik keluarga Lu, hidup aku adalah bagian dari keluarga ini, mati pun aku akan menjadi hantu keluarga ini, dan itu selamanya tidak akan pernah berubah.."


"Kamu pulang lah ke ayah mu, jangan ikut campur di sini."


Michiko menoleh menatap kearah Afei dengan sepasang mata berkaca-kaca, dia mengigit bibir erat-erat, sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.


Lalu kembali melihat kearah ke 4 pamannya dengan tatapan penuh tekad tidak akan mundur dari sana selangkah pun.


Dia memilih tidak menjawab maupun menghiraukan ucapan Afei padanya.


Afei sendiri merasa sangat bersalah pada keluarga gurunya, kemaren dia pergi dengan Michiko kepantai, berakhir dengan kelumpuhan Lu San.


Tidak di sangka kali ini pun sama, dia berpikir untuk pergi sebentar menemui Michiko di supermarket di bawah bukit, yang letaknya masih terhitung di dalam kompleks perumahan mereka.


Padahal dia sudah berusaha cepat pergi cepat pulang, yang tidak di sangka adalah saat dia pergi musuh langsung datang menyerang.


Saat dia buru-buru kembali, tanpa menghiraukan Michiko, yang terus berusaha menahannya, dia menemukan Nenek Aliu dan Peter Ho telah berhasil di lumpuhkan oleh Ikeda paman ke 4 Michiko.

__ADS_1


__ADS_2