
Sehingga kini bagian sensitif Monica yang selalu dia jaga dan rawat dengan hati-hati, untuk suatu hari bisa dipersembahkan kepada Pria yang dia cintai dan akan menjadi suaminya.
Saat ini malah terpentang lebar dilihat secara bebas oleh pria bejad itu.
Monica menjerit histeris dan terus berusaha menendang dan meronta.
Tapi percuma saja, pria itu kini berdiri tepat di celah kedua pahanya yang terpentang lebar, jadi usaha Monica menendang kesana kemari menjadi sia-sia.
Pria itu mencengkram sepasang paha Monica dengan erat untuk menahan pinggul Monica agar tidak bergerak kesana-kemari.
Lalu mengarahkan Tongkatnya kesasaran yang terbuka lebar.
Monica menegakkan kepalanya melihat apa yang di lakukan oleh pria itu padanya dengan tatapan ngeri, lalu berteriak ketakutan.
"Jangan...jangan..ku mohon...aduh...jangan...jangan...!!"
Pria itu sambil tersenyum dingin menatap Monica, dia mendorongkan pinggulnya sekuat tenaga kedepan
ahhhhhhhhh...!"
Monica berteriak kesakitan kepalanya terhempas kebelakang seluruh tubuhnya menegang.
Mata dan mulutnya terbuka lebar menahan rasa sakit yang amat sangat di bagian sensitif nya
Tangannya yang terikat meronta sekuat tenaga hingga lecet berdarah.
Sesaat Kemudian pandangan Monica menjadi gelap total.
Dia hanya merasa tubuhnya sedang di guncang-guncang dengan hebat.
Samar-samar dia mendengar suara bunyi HP nya, yang semakin lama semakin jelas terdengar.
Perlahan-lahan dia membuka sepasang kelopak matanya, cahaya putih menyilaukan masuk kedalam matanya.
Dia melihat wajah para bawahannya sedang berada di sekelilingnya, menatap dirinya dengan khawatir...
Melihat wajah para bawahannya yang semuanya masih hidup, Monica menghembuskan nafas lega.
Ternyata dia hanya mimpi buruk saja.
"Apa yang terjadi Dr Chief ? Anda kenapa ?"
tanya Tina asistennya dengan hati-hati dan penuh perhatian.
Lili menyodorkan segelas air putih hangat buat Monica.
Monica menerimanya sambil menatap mereka semua dan berkata,
"Terimakasih.."
Lalu dia menghabiskan air putih ditangannya, setelah itu dia kembali menatap Tina dan berkata,
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Tin... cuma mimpi buruk saja..mungkin karena tidur siang-siang bolong..."
Monica sambil tersenyum malu bangun dari kursi santai nya dan berkata,
"Aku ke kamar mandi dulu cuci muka, kalian boleh kembali bekerja seperti biasa.."
Monica melihat jam tangannya yang menunjukkan jam 5 sore.
ternyata aku tertidur cukup lama juga , batin Monica dalam hati, kemudian dia melangkah menuju Toilet.
Monica yang merasa kebelet, langsung buru-buru masuk kedalam WC untuk pipis.
Setelah lega dia baru merapikan pakaian nya, dan keluar dari WC.
Monica menghampiri tempat cuci tangan, dia mencuci tangan dan wajahnya agar segar, setelah mengelap wajah nya dengan tisue hingga kering.
Monica menepuk-nepuk pipinya sendiri, sambil menatap wajahnya yang cantik didepan cermin di hadapannya.
Dari dalam saku jasnya dia mengeluarkan seperangkat alat make up, setelah berias sebentar dia memperhatikan hasil riasannya.
Monica tersenyum puas melihat hasil make-up nya, lalu dia pun berjalan meninggalkan Toilet menuju ruangan di mana para bawahannya sedang berkumpul.
Tiba-tiba lampu berkedip-kedip kemudian padam.
Monica secara reflek menjerit ketakutan..
"Ahhh..."
Hahhh..! jangan-jangan mimpi itu kini menjadi kenyataan...pikir Monica mulai ketakutan..
Aku harus memastikannya, bila ada yang tidak beres, persetan dengan yang lain aku sebaiknya langsung kabur saja..batin Monica.
Monica menggunakan senter HP sebagai penerangan, sambil mendekat kearah ruangan bawahannya dia berteriak,
"Tina ..Lili...kalian di mana ?
"Eni...Mia...di mana kalian semua.."
"Rudy....Toni... kalian di mana ?"
Monica berteriak berulang kali, tidak ada jawaban, dia semakin yakin ada yang tidak beres.
Monica terburu-buru berlari kearah ruangannya, Monica masuk sebentar keruangan nya, mengambil sepucuk pistol kecil dan sebuah semprotan mata.
Lalu dia buru-buru meninggalkan kantornya, menggunakan jalan pertama untuk meninggalkan penjara secepat mungkin.
Dengan adanya kejadian dalam mimpi, Monica tidak mau lagi mengambil resiko, dia langsung buru-buru kabur dari penjara melalui pintu keluar yang letaknya tidak begitu jauh dari kantornya.
Dengan menempelkan kartunya di alat Scan yang terletak di samping pintu, serta memasukkan kode rahasia pintu pun terbuka.
Monica tidak buru-buru membuka pintu, dia menyiapkan alat semprot mata ditangan baru dia membuka pintu.
__ADS_1
Melihat di depan pintu kosong tidak ada siapapun, Monica pun bernafas lega.
Dia kemudian keluar dengan terburu-buru, setengah berlari Monica menuju kearah lapangan parkir yang sepi.
Mobil para bawahannya dan Jeff Zhang terlihat masih parkir rapi di dekat mobilnya.
Monica berjalan buru-buru menghampiri mobilnya, dia menggunakan remote mobil membuka pintu mobilnya dari jarak jauh.
Sebelum membuka pintu mobil, Monica celingukan melihat kekiri dan ke kanan memastikan tidak ada yang mengejar atau mengikutinya.
Setelah yakin dia baru masuk kedalam mobil, menyalakan mobilnya dan AC mobilnya.
Monica menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil sambil membuang nafas lega.
"Huhh..! akhirnya..."
gumam Monica sambil menaruh kedua tangannya diatas stir mobil.
Iseng-iseng dia melihat kearah spion sebelum memasukkan gigi dan menjalankan mobilnya.
Sepasang mata Monica terbelalak ketakutan, menatap wajah pria yang sedang tertawa dingin kepadanya.
Monica buru-buru ingin mengambil alat semprotnya, tapi sebelum dia sempat mengambilnya Pria di belakang tempat duduknya telah membekap mulut dan hidungnya dengan selembar kain.
Monica meronta-ronta dengan sepasang mata mendelik ketakutan.
Tapi tak lama kemudian matanya mendelik keatas, kemudian Kepalanya terkulai lemas, begitu pula dengan kaki dan tangannya terlihat terkulai tak berdaya.
Pria itu turun dari kursi penumpang lewat pintu belakang mobil Monica, dengan santai dan bersenandung kecil.
Dia membuka pintu mobil di mana Monica terkulai tak berdaya, Pria itu membungkuk kemudian menggendong Monica di bahunya.
Lalu berjalan kembali menuju penjara, Pria itu melewati pintu di mana Monica keluar tadi.
Ujung bawah pintu terganjal sepotong kayu, sehingga pintu tidak bisa tertutup kembali.
Kelihatannya pria itu sudah mengatur sedemikian rupa, sehingga begitu pintu terbuka, potongan kayu akan jatuh kedalam.
Sehingga ketika pintu menutup kembali, dia akan terganjal potongan kayu itu, Hal ini membuat pintu tidak bisa menutup dengan rapat.
Sehingga pintu tidak bisa mengunci otomatis, Pria itu memanfaatkan pintu yang tidak terkunci menggendong Monica masuk kedalam.
Pria itu membawa Monica menuju ruang pemeriksaan pasien.
Pria itu membaringkan Monica yang pingsan di atas sebuah ranjang besi untuk pasien.
Pria itu mengikat tangan dan kaki Monica di setiap sudut ranjang.
Lalu dia mulai melepaskan semua pakaian yang melekat ditubuh Monica, satu persatu hingga polos tanpa sehelai benang pun melekat ditubuh Monica yang mulus.
.
__ADS_1
.