
Xue Yen tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Sun ke ke dari sini pulang kerumah hampir makan waktu 2 sampai 3 hari, mana sempat menunggu selama itu perut mu."
ucap Giok Lan sambil tertawa.
"Begini saja, gimana bila kita cari restoran daging domba dan arak susu kuda liar."
"Makanan khas daerah sini ?"
ucap Giok Lan memberikan usul.
"Lan Lan apa di sini tidak ada daging lain selain daging mahluk bau itu..?"
tanya Lu Sun yang kurang doyan daging domba.
"Ada daging kuda dan onta tapi sepertinya alot deh.."
ucap Giok Lan sambil tersenyum.
"Sun ke ke ingat tidak perjalanan kita ke kuil halilintar dulu, nah begitulah kira-kira rasa masakan di sini."
Lu Sun menghela nafas dan berkata,
"Aku heran dengan senior Tan Sim Houw kenapa begitu banyak tempat malah milih bertarung di sini.."
"Ya sudah kita cari makan apa adanya saja.."
"Sayang sabar ya, sepertinya di sini, susah deh cari makanan sayuran.."
ucap Lu Sun menatap prihatin ke Xue Yen.
Xue Yen menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku tak masalah, bisa makan roti panggang khas daerah sini juga lumayan.."
Lu Sun merangkul bahu kedua istrinya dan berkata,
"Ayo berangkat.."
Tiga hari kemudian Lu Sun Giok Lan dan Xue Yen pun kembali kerumah.
Kembali kerumah Lu Sun kembali menjalani tugas rutin menjadi supir untuk anak istrinya.
Afei pun sudah tidak tinggal di ruang rahasia lagi, melihat Afei sudah menembus level 10 tenaga sakti 9 matahari, Lu Sun mulai menurunkan berbagai ilmu yang dia miliki ke Afei.
Afei juga di masukkan kesekolah San er, jadi Lu Sun setiap pagi akan mengantar San Er Dan er dan Afei kesekolah bersama sama.
Saat mereka pulang sekolah, Lu Sun juga yang menjemput mereka pulang kerumah.
Sepulang sekolah sehabis makan, Afei dan Aliu akan langsung mendapatkan pelatihan langsung dari Lu Sun.
Sedangkan putra nya sendiri Lu Sun hanya fokus melatih mereka ilmu menjaga diri, seperti langkah ajaib dan Wu Ying Sui Sang Piau.
__ADS_1
Tulang dan bakat mereka kurang mendukung, jadi Lu Sun tidak mau memaksanya.
Setelah 2 tahun berlalu, baik afei dan Aliu, kemampuan mereka sudah jauh melampaui Peter.
Untuk urusan keamanan rumah Lu Sun serahkan ke Afei, untuk urusan mengantar ngantar Lu Sun percayakan ke Aliu.
Sedangkan Peter Ho sekarang hanya fokus mengurus keamanan perusahaan saja.
Terkadang bila perusahaan Giok Lan di luar negeri bermasalah, Peter juga sering berangkat mengurusnya.
Sehingga Peter Ho memang tidak punya waktu lagi, untuk menjaga keamanan keluarga bos nya.
Lu Sun yang banyak nganggur, dan bosan akhirnya berpikir, mengisi waktu menjadi guru olahraga di sekolah anaknya.
Pagi itu saat sarapan bersama, Lu Sun mengutarakan niatnya kepada Giok Lan dan Xue Yen.
"Sayang aku tiap pagi dan siang cuma bolak-balik ke sekolah."
"Aku sedang berpikir bagaimana bila aku mengisi waktu kosong ku, dengan mendaftar jadi guru olahraga di sekolah anak-anak.?"
"Kebetulan guru olahraga pak Theo mau imigrasi ke Canada, ikut putranya.."
"Sehingga posisi guru olahraga kini sedang kosong.."
"Aku sempat berbicara dengan kepala sekolah dan kepala yayasan sekolah San er, mereka menawarkan aku posisi tersebut.."
"Menurut kalian gimana ?"
Giok Lan dan Xue Yen terbelalak mendengar ucapan Lu Sun.
Mereka berpikir ni orang stress atau kebanyakan minum arah di ruang rahasia.
Giok Lan maju memegang kening Lu Sun dan berkata,
"Sayang kamu lagi sakit ? tapi gak panas..?"
Giok Lan menatap kearah Xue Yen dengan bingung sambil pegang dahi Lu Sun.
Xue Yen menahan tawa, menutupi mulutnya dengan tangan.
Nenek Lu yang duduk di sana pun akhirnya berkata,
"Cin Bao apa kamu gak salah, cabang usaha grup Lu terus berkembang pesat di mana-mana.."
"Belum lagi usaha Giok Lan di luar sana, juga sedang sangat sibuk, kamu tidak pergi membantu urus.."
"Malah ingin jadi guru, apa otak mu sudah terganggu karena kematian Ying Ying atau karena terluka saat melawan Tan Sim Houw."
Lu Sun terdiam sejenak, tubuhnya bergetar hebat.
Akibat kata-kata nenek Lu yang terlalu tajam.
Giok Lan dan Xue Yen yang tahu, Nenek Lu sudah membicarakan hal yang sensitif bagi Lu Sun.
__ADS_1
Mereka mengedipi nenek agar tidak melanjutkan kata-katanya.
Tapi Nenek Lu hanya tersenyum santai, tidak menanggapi kode dari kedua istri Lu Sun.
"Cin Bao, Ying Ying pergi aku juga sedih.. tidak kalah sedih dengan mu.."
"Kamu jangan lupa, aku lah yang memilih dia, untuk mendampingi mu."
"Tentu saja aku juga sangat menyayangi anak baik itu, dan merasa kehilangan atas kepergiannya."
"Tapi hidup harus terus berlanjut, yang pergi sudah pergi, yang hidup tetap harus jalani tanggung jawab nya.."
"Dia sudah pergi hampir 6 tahun, kenapa kamu masih tidak bisa merelakan kepergiannya..?"
"Mengapa kamu tidak bisa bangkit dan pergi mengurus group Lu dengan baik..? atau pergi bantu Giok Lan urus usaha ayahnya..?"
"Selama ini kamu bersikap tidak masuk akal, menyimpan mayatnya di taman rahasia, menghabiskan waktu dengan mabuk di sana."
"Apa aku pernah mengeluarkan sepatah kata pun, tidak Cin Bao, kami semua berusaha memakluminya."
"Tapi kini 6 tahun sudah berlalu, kamu bahkan kalah dengan seorang anak kecil, dalam hal menangani perasaan.."
"Kamu suruh aku sebagai nenek mu, bagaimana bisa bertahan untuk terus diam.
Melihat kamu terus menyiksa diri seperti ini.."
ucap Nenek Lu sedih.
Lu Sun tubuhnya bergetar hebat, menahan emosinya, akhirnya dia berkata.
"Nek Group Lu, meski aku tidak turun tangan langsung, juga tidak akan ada masalah selama aku masih hidup.."
"Begitu pula dengan usaha Giok Lan di sana, selama paman Clooney masih ada, semua bukan masalah."
"Kini yang menjadi fokus utama adalah keselamatan anak dan istri ku, sisa hidup ku hanya untuk menjaga dan membahagiakan mereka.."
"Harta dan kekuasaan di mata ku hanya seperti debu, aku tidak mau sampai akhir hayat nanti, aku hanya menjadi seorang hantu kesepian seorang diri.."
"Keputusan ku sekarang sudah bulat, aku akan tetap pergi menjadi guru."
ucap Lu Sun tegas.
Setelah itu dia langsung pergi meninggalkan makanan di piring yang belum habis.
Selama mereka hidup bersama, ini adalah kali pertama Xue Yen melihat Lu Sun tidak menghabiskan makanan di piring nya.
Tapi dia dan Giok Lan hanya bisa saling pandang sambil menghela nafas panjang.
"Cin Bao...! Cin Bao...! kamu berhenti..! berhenti kata ku..!"
teriak nenek kesal, melihat reaksi Lu Sun.
Lu Sun menghentikan langkahnya, tubuhnya bergetar hebat, dia memejamkan matanya menahan emosi perasaan nya.
__ADS_1