
Nenek tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuhnya kedua kaki dan tangannya lemas.
Tanpa bisa melawan nenek Lu jatuh bertekuk lutut di hadapan Henshin dan Ikeda.
Pedangnya tergeletak begitu saja di atas lantai di sampingnya, nenek terlihat terkejut dan melongo sesaat dengan keadaan dirinya yang tidak normal.
Di saat itu sebuah pukulan Tapak Hitam dan biru secara bersamaan menghantam dada Nenek sehingga tubuhnya terpental puluhan meter sambil menyemburkan darah dari mulutnya.
Pandangan nenek kabur berkunang-kunang kemudian menjadi gelap.
Di saat Ikeda dan Henshin bergerak ingin menghabisi Nenek Lu.
Sepasang tangan mereka di sambut oleh sepasang telapak tangan lain yang secara lembut menariknya lalu melontarkan mereka berdua mundur menjauh.
Di depan nenek terlihat muncul Afei berdiri gagah dengan sepasang mata menyorot tajam menatap kedua lawannya.
Dia tadi menggunakan Qian Kun Ta Lo Ih Sin Fa, menyambut kemudian meretur kembali kekuatan dua orang itu, untuk menyelamatkan nenek dari tangan ganas mereka.
Afei seluruh tubuhnya terbungkus cahaya merah biru, 25 matahari dan bulan mengelilingi tubuhnya.
Dia terlihat berada dalam keadaan siaga, dia melirik kearah Peter Ho Aliu dan nenek sekilas
"Maafkan Afei,.. Afei pasti akan menebus kesalahan nanti dan memberikan kalian jawaban yang memuaskan.."
"Afei kembali menatap kearah ke 4 paman Michiko dan berkata,
"Bangsat tidak tahu malu, berani kalian mengacau di sini dengan cara licik.."
"Tempo hari guru ku sudah mengampuni nyawa anjing kalian ber 4, kini kalian masih berani kesini mengacau saat guru ku tidak ada.."
"Bukan hanya itu, kalian malah menyuruh Michiko memancing ku pergi, kalian memang bangsat licik yang tiada duanya.."
"Jaga mulut mu bocah, kamu masih belum pantas untuk menjadi lawan kami.."
ucap Kyoto dingin.
"Bila bukan karena kami sangat menyayangi Michiko, saat ini nasib mu tidak akan beda jauh dengan mereka..!*
"Kami sudah memberi mu kesempatan untuk hidup, kamu malah kembali mencari jalan kematian.."
"Ini pilihan mu, jangan menyesal kamu..!"
ucap Kyoto dingin.
Dia mulai melepaskan energi birunya, begitu pula Ryozo Henshin, hanya Ikeda yang melepaskan energi hitam menutupi tubuhnya.
"Tahan..paman...jangan ..!"
teriak Michiko muncul menghadang di depan Afei sambil merentangkan sepasang tangannya.
Di saat ke 6 orang ini sedang berdebat, masing masing mempertahankan prinsip mereka dengan keras, tidak ada yang saling mengalah.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara tertawa membahana dari angkasa kemudian sesosok tubuh tinggi besar yang bahkan lebih besar dan berotot ketimbang Lu Sun.
Mendarat ringan di depan ke 4 paman Michiko, dan berkata,
"Kalian berdelapan majulah, hari ini, hutang lama dan hutang baru sekalian kita perhitungkan dengan jelas...!"
"Michiko kalau kamu ingin bergabung dengan mereka, kamu boleh melengkapinya jadi ber 9, bila tidak kamu dan Afei cepat urus dan obati luka nenek Lu, kak Peter dan kak Aliu..!"
ucap Lu San tegas.
Michiko menoleh kearah Afei, kemudian sambil mengigit bibirnya sendiri.
tanpa berkata apa-apa, dia segera membungkuk memeriksa keadaan Nenek Lu.
Lalu dengan cekatan dia memasukkan sebutir pil hijau kedalam mulut Nenek Lu,
Lalu menotok dan mengurut Nenek Lu, hingga Nenek Lu akhirnya bisa membuka kembali matanya.
Afei berdiri mematung melihat gerakan Michiko menolong Nenek Lu, hatinya menjadi bimbang akan keputusannya sendiri.
"Sayang kamu jangan diam di sana, cepat tolong kak Aliu dan kak Peter, kita harus segera meninggalkan tempat ini..!"
tegur Michiko setelah berhasil menyadarkan Nenek.
Tanpa melihat lagi ke Afei Michiko langsung menaikan nenek kepunggung nya, kemudian menggendong nenek menjauhi arena pertarungan.
Afei yang tersadar oleh teguran Michiko, dia buru-buru berlari ke arah Aliu dan Peter, kemudian dia memapah kedua orang itu menjauhi arena pertarungan.
Di mana Lu San terlihat sedang menghadapi kepungan 8 orang penyerang kediaman keluarga Lu.
Afei menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Peter dan Aliu mencoba menyembuhkan luka dalam yang di derita kedua orang tersebut.
"Anak manis terimakasih banyak..siapa nama mu ? kenapa kamu bisa ada di sini..?"
tanya nenek Lu ke Michiko, setelah dia merasa kondisinya mulai membaik.
"Nama ku Michiko nek, aku di sini karena dia.."
ucap Michiko malu malu sambil menggunakan bibirnya menunjuk kearah Afei.
Nenek lu mengangguk mengerti dan tersenyum, tapi sesaat kemudian dia kembali berkata,
"Bukankah Michiko adalah gadis Jepang yang sempat membuat San er lumpuh.."
"Apakah kalian adalah gadis yang sama..?"
tanya nenek heran
Michiko menundukkan kepalanya dalam dalam, tidak berani menatap Nenek Lu, karena merasa bersalah.
Lalu dengan suara pelan dia berkata,
__ADS_1
"Itu salah ku nek, dulu aku terlalu ingin menang sendiri."
"Sehingga mencelakai kak San.. untuk itu aku minta maaf nek.."
"Aku tahu kesalahan ku sangat fatal, permintaan maaf saja tidak akan cukup.."
"Aku bersedia menerima hukuman apa pun asalkan di ijinkan tetap boleh bersama dia.."
ucap Michiko dengan kepala tertunduk.
Nenek Lu terdiam sejenak lalu berkata,
"Untuk hal ini aku tidak bisa ambil keputusan, tapi aku hanya bisa berjanji akan mendukung kalian bersama."
"Mengenai hukuman dan permintaan maaf mu, itu masih harus menunggu respon San er, ayahnya dan kedua ibunya."
"Terutama Giok Lan, dia sangat menyayangi San er, berhati-hati lah bila bertemu dengan nya."
"Kesaktiannya jauh di atas nenek, bila dia ingin melakukan sesuatu pada mu, nenek dan Afei tidak akan sanggup mencegahnya.."
ucap nenek pelan.
Michiko mengangguk dan berkata,
"Michiko siap menerima resiko apapun..nenek tenang saja ."
Sementara itu di tengah arena, ke 4 paman Michiko mulai mengepung Lu San dari 4 arah.
Keempat orang itu di tangan mereka masing-masing kini memegang sebatang golok biru, hanya Ikeda yang memegang Golok Hitam.
"Anak muda berlututlah lutut mu tidak kuat kamu sudah lelah ."
ucap Henshin mengerahkan kekuatan magisnya mencoba mempengaruhi Lu San.
Lu San tertawa keras dan berkata,
"Lucu sekali,..aku lebih tua 2000 tahun dari mu, kamu berani menyuruh ku berlutut..!"
"Apa tidak terbalik harusnya kamu yang berlutut dan menyembah ku..!"
ucap Lu San sambil tersenyum nakal.
Tapi anehnya Henshin tiba-tiba jatuh berlutut di hadapan Lu San, sampai membenturkan dahinya di atas tanah.
Lu San pun tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk Henshin, yang terlihat seperti orang bodoh yang kebingungan.
Ke 3 saudaranya buru buru membangunkan nya dan berkata,
Adik ke 3 cepat sadar, kamu telah termakan sihir mu sendiri yang di balikkan olehnya.
"Sihir mu tidak mempan dengannya, waspadalah, bocah ini Kekuatan nya sepertinya tidak di bawah Lu Sun.."
__ADS_1
ucap Kyoto mengingatkan ke 3 saudaranya.