
Selesai menyuapi apel terakhir kemulut Xue Yen, Lu Sun berkata,
"Sayang aku akan memeriksa kesiapan air mandi dan perlengkapannya untuk mu."
Xue Yen mengangguk kecil, dia memperhatikan bayangan punggung Lu Sun yang pergi menyiapkan air mandi untuknya, dengan jantung berdebar-debar seperti mau copot dari tempatnya.
Xue Yen sedikit ketakutan membayangkan respon Lu Sun saat melihat kondisi dan keadaan tubuhnya saat ini.
Saat Xue Yen sedang melamun, Lu Sun yang sudah kembali dari kamar mandi dan langsung menggendongnya kekamar mandi.
Membuyarkan lamunannya, Xue Yen berkata dengan pelan
"Sun ke ke, letakkan saja aku di kursi roda biar aku mandi sendiri saja."
Lu Sun meliriknya sekilas dan berkata,
"Tidak sayang,, biarkan aku saja yang melakukan nya."
"Tapi..tapi aku malu.."
Lu Sun mencium kepala Xue Yen, dia tertawa sambil berkata,
"Kita sudah bukan pengantin baru, anak kita pun sudah besar, kenapa masih malu-malu."
"Aku..aku..hmm..!" Xue Yen menghela nafas nya, kemudian berkata,
"baiklah .. tapi kamu jangan kecewa..ya..!"
ucap Xue Yen kurang percaya diri.
Lu Sun tidak memperdulikan sikap dan ucapan Xue Yen, apapun yang terjadi dia sudah membulatkan tekadnya akan menerima Xue Yen apa adanya.
Dia tidak akan pernah membiarkan Xue Yen menanggung semuanya sendirian.
Lu Sun mengunci pintu kamar mandi, kemudian dia menurunkan Xue Yen pelan-pelan dan berkata,
"Sayang peganglah leher ku sebagai tumpuan, belajar lah berdiri, aku akan membantu dan menjaga mu."
Xue Yen menuruti kata-kata Lu Sun, sambil menggigit bibir bawahnya, dia berusaha sekuat tenaga berdiri dengan kedua kaki gemetar.
Dibantu dengan merangkul leher Lu Sun, dan pinggang nya yang dipegangi Lu Sun akhirnya Xue Yen mampu berdiri.
Meski masih terlihat sedikit gemetar, Lu Sun melepaskan pakaian Xue Yen satu persatu sampai polos.
Xue Yen mengigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan rasa malu, karena dia kini berdiri polos didepan Lu Sun.
Dia menundukkan wajahnya yang merah menahan malu tidak berani menatap Lu Sun.
Sebaliknya Lu Sun sampai menitikkan air mata, melihat kondisi tubuh Xue Yen yang kurus kerempeng, hanya tersisa kulit berbalut tulang.
Seluruh bagian tubuh atasnya baik bagian depan maupun belakang penuh dengan bekas merah kebiruan.
__ADS_1
Seperti bekas ciuman disertai gigitan kecil yang di lakukan dengan jahat bertujuan menyiksa dan melecehkannya.
Bahkan sampai ke paha, pinggang, perut, paha dan betis pun tidak terlewatkan oleh tanda biru kemerahan itu.
Lu Sun bisa membayangkan siksaan yang Xue Yen terima selama ini.
Xue Yen yang menyadari Lu Sun sedang menatap bekas yang menghiasi seluruh tubuhnya.
Xue Yen langsung memeluk Lu Sun dan sambil menangis sesunggukan dia berkata,
"Maafkan aku Sun ke ke, aku tidak berdaya mencegah mereka melecehkan tubuh ku."
Lu Sun memejamkan sepasang matanya yang basah dan berkata,
"Sudahlah lupakan saja semuanya, bila cerita tersebut akan membuat mu sedih tidak usah di ceritakan lagi."
Xue Yen menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak kalau tidak di ceritakan, hati ku tidak bisa lega."
Lu Sun membelai punggung Xue Yen dengan lembut dan berkata,
"Baiklah kamu boleh ceritakan semuanya dari awal, aku juga sangat penasaran dan ingin tahu."
"Tapi tidak sekarang, tunggu kondisi mu pulih baru bercerita, ok..?"
ucap Lu Sun lembut dan mesra.
Melihat Xue Yen sudah bisa berdiri sedikit lebih stabil, Lu Sun sedikit berjongkok mencoba membantu melepaskan celan* dalam pelindung khusus Xue Yen yang menggunakan sandi.
"Sayang celan* dalam khusus pelindung mu ini,
memakai sandi, berapa nomor sandinya.?"
Xue Yen bertumpu memegang bahu Lu Sun berkata sambil tersenyum,
"Tanggal lahir mu di jaman kita, dan letakkan jari jempol kirimu, di pinggir deretan angka, di kotak kecil berwarna merah."
"Celan* dalam pelindung wanita ini, hanya bisa dibuka dengan tanggal kelahiran mu dan sidik jari mu."
"Aku meminta ayah merancangnya secara khusus buat berjaga-jaga, sejak kami tinggal di Toronto Canada."
"Demi keamanan, jadi selain diri mu sayang, tidak akan ada yang bisa melepaskan nya."
Lu Sun dengan terharu membuka nya perlahan-lahan, memasukkan tanggal lahir sambil menempelkan sidik jarinya hingga terbuka,
Lu Sun dapat membayangkan kekesalan Jack dan anak buahnya saat melihat Xue Yen mengenakan celana pelindung seperti ini.
Pantas saja mereka melecehkan bagian tubuh Xue Yen yang lain, dengan sangat brutal dan meninggalkan bekas di sekujur tubuh Xue Yen.
Batin Lu Sun.
__ADS_1
Lu Sun bisa membayangkan bagaimana tersiksa nya, Xue Yen saat itu, kalau bisa memilih saat itu mungkin dia memilih mati saja.
Pantas saja dokter yang memeriksanya, meminta ku merawat kondisi psikis Xue Yen dengan baik.
Jangan biarkan dia tertekan oleh beban pikiran apapun, agar dia tidak menjadi terganggu pikirannya.
Lu Sun sambil tersenyum haru, setelah melepaskan celana pelindung Xue Yen dia bertanya,
"Sayang sidik jari ku ini kamu gimana cara memperolehnya ?"
Xue Yen tersenyum sambil membelai rambut Lu Sun dia berkata,
"Aku ambil dari sidik jari mu yang tertinggal di gelas, yang kamu gunakan saat minum dan ngobrol di kamar ayah ku dulu."
Lu Sun mencium bibir Xue Yen dengan mesra dan berkata,
"Kamu selalu pintar sayang, aku bangga padamu."
Xue Yen tersenyum sedih dan berkata,
"Apa nya yang pintar ? lihat lah, aku sudah di kotori oleh mereka."
Lu Sun memeluk Xue Yen dan berkata,
"Sudahlah jangan di pikirkan lagi, bagi ku yang paling penting adalah keselamatan mu, hal lainnya aku tidak perduli."
"Asal kamu tidak sedih aku pun sudah sangat bersyukur."
ucap Lu Sun lembut sambil menyalakan kran Shower mulai membantu memandikan Xue Yen.
Xue Yen membalikkan tubuhnya menghadap Lu Sun, tidak memperdulikan pakaian Lu Sun ikut basah.
Dia memeluk dan mencium Lu Sun sambil berkata,
"Sayang mengapa kamu selalu begitu baik dan menyayangi ku tanpa pamrih, padahal di saat kamu sedang berada dalam kondisi paling sulit."
"Aku malah pergi meninggalkan mu."
"Maaf.. maafkan aku sayang.."
Lu Sun pun melepaskan seluruh pakaiannya dan ikut mandi bersama Xue Yen, dan berkata, sambil memeluk Xue Yen dari belakang.
"Alasannya sangat mudah, karena aku sangat mencintaimu dan kamu adalah wanita ku."
Xue Yen melenguh manja dan bersandar di tubuh Lu Sun, membiarkan Lu Sun menyantuni bagian depan tubuhnya sambil memejamkan matanya.
Bulu matanya yang lentik sedikit bergetar, saat Lu Sun menyabuni tubuhnya.
Lu Sun melakukannya dengan hati-hati, Lu Sun sengaja melewatkan bagian sensitif Xue Yen dan berbisik,
"Bagian Sensitif kamu bersihkan sendiri ya."
__ADS_1