
Di susul dengan, pukulan Shi Cheng Liu lung, jurus ke 14 dari 18 Tapak Penahluk Naga.
Serangan pertama memunculkan dua ekor Naga Mas kemerahan dan Naga biru berkilauan menerjang kearah keempat orang itu.
Lalu di susul dengan 6 ekor naga Api dan es yang menyusul menerjang kearah ke 4 orang itu.
Keempat orang itu menggabungkan kekuatan mereka, memunculkan dua pukulan hitam dan putih, yang masing-masing membentuk sebuah lingkaran Diagram berwarna hitam dan putih, dengan tulisan dan gambar kuno di dalamnya.
Kedua perisai diagram itu saat dilepaskan kedepan dengan mudah nya mereka menghancurkan Pukulan 18 Tapak Penahluk Naga yang Lu San lepaskan ke arah mereka.
Lu San dari awal juga sadar ke 4 orang ini, bukan orang sembarangan.
Dengan kondisinya saat ini dia tidak mungkin sanggup menghadapi mereka.
Kini di pikirannya hanya satu, yaitu bagaimana cara nya dia sebisa mungkin berusaha menahan ke 4 orang ini, selama mungkin mengulur waktu hingga ayah nya tiba.
25 matahari dan bulan berputaran disekitar tubuh Lu San membentuk perlindungan bagi Lu San.
Melihat pukulan pertama dan kedua nya dengan mudah di hancurkan oleh dua diagram hitam dan putih yang terus bergerak menekan kearahnya.
Lu San pun melepaskan Tebasan Wu Xiang Cien Chi dan Liu Mai Sen Cien mencoba menahan tekanan kedua diagram hitam putih itu.
Tapi lagi lagi berhasil di hancurkan oleh kedua lingkaran yang berbentuk diagram dengan ukiran huruf kuno di sekelilingnya.
Lu San menciptakan sebatang pedang raksasa, kemudian dirinya meluncur bersama pedang tersebut menyatu untuk menyambut kedua lingkaran Diagram tersebut.
Tapi lagi lagi gagal, kini bukan hanya, bayangan pedang raksasa yang hilang, bahkan kini tubuh Lu San terpental bergulingan kebelakang.
Saat Lu San mencoba berdiri kembali, ternyata kedua diagram hitam dan putih kini sedang berputar diatas kepalanya.
Memberikan tekanan yang sangat kuat, hingga Lu San kesulitan berdiri.
Saat Lu San mencoba menghimpun seluruh kekuatan nya untuk melakukan perlawanan.
Tekanan dari atas justru semakin kuat, Apalagi saat keempat orang itu mengarahkan tangan mereka dari jarak jauh kearah kedua diagram tersebut.
Lalu mereka menekankan tangan mereka ke bawah, Sehingga Kedua diagram hitam putih itu berputar sambil menimbulkan suara berderak.
"Kreekk...Kreekkk... Kreekkk...!"
__ADS_1
Lalu kedua lingkaran Diagram bergerak menekan kebawah dan terus kebawah, semakin lama semakin kuat daya tekannya.
Di pihak Lu San, dia merasa dirinya seperti sedang di gencet dari atas oleh dua gunung raksasa yang sangat berat.
Seluruh baju yang di kenakan oleh Lu San hancur berantakan.
Urat dan nadi ditubuhnya sampai menonjol keluar
Lu San yang mengangkat kedua tangannya keatas untuk menahan tekanan dari kedua lingkaran tersebut.
Akhirnya tidak sanggup menahan nya lagi karena kedua tulang di lengan nya telah remuk, begitu pula tulang bahu dan tulang paha dan panggul serta tempurung lutut di kedua kakinya kini kembali remuk.
"Arggggghhh...!!"
Lu San menjerit pilu, menahan rasa sakit yang luar biasa.
Kemarin dia hanya remuk tempurung lutut saja sakitnya sudah bukan main.
Kini yang dia rasakan 10 kali lipat dari yang dia rasakan kemaren, karena kini seluruh tulang lengan dan kedua bahu serta tulang kedua paha, tempurung lutut dan panggul nya ikut remuk semuanya.
Lu San yang tidak kuat menahan rasa sakitnya lagi akhirnya pingsan tidak sadarkan diri.
Melihat Lu San sudah terkapar tidak berdaya, keempat orang itu, baru menarik kembali kekuatan mereka.
Sedangkan murid lainnya semua dalam keadaan tidak sadarkan, akibat tidak kuat menahan efek dari setiap benturan kekuatan Lu San dengan keempat orang itu.
Keempat orang itu melesat pergi meninggalkan tempat tersebut bagaikan bayangan hantu.
Mereka memutuskan meninggalkan tempat itu, untuk pulang memberi laporan pada Hei Pai Suang Kui guru mereka.
Deborah sambil berlari menuju kantor Pak Ma dia menelpon ke kediaman Lu Sun.
"Ya halo,.."
terdengar suara lembut di seberang sana.
Deborah langsung mengenalinya, karena dia selama ini cukup dekat dan akrab dengan ketiga orang tua Lu San.
Karena selama Lu San tidak bisa berjalan, dia hampir setiap hari pergi kesana menemaninya.
__ADS_1
"Bibi ini aku Deborah, tolong minta paman segera kemari, kakak San sedang dalam bahaya.."
ucap Deborah panik bercampur suara Isak tertahan.
Mendengar kata-kata Deborah, Giok Lan langsung berteriak,
"Sun ke ke... !! kamu di mana..!? kita haru segera ke sekolah Kuang Ming...!! San er memerlukan kita....!!"
Lu Sun yang sedang bermain dengan Lu Fei di temani Ying Ying, sangat terkejut mendengar teriakkan panik Giok Lan.
Lu Sun buru-buru menyerahkan Lu Fei kepada dua orang pengasuhnya.
Lalu dia mengirim pesan suara jarak jauh ke Giok Lan,
"Aku di taman samping, ayo kita berangkat ke sekolah Kuang Ming Sekarang juga."
Giok Lan melesat keluar ke taman samping rumah, sambil memegang Xuan Yuan Cien ditangannya erat erat.
Mereka bertiga langsung melesat ke arah sekolah Kuang Ming dengan menggunakan Jin Tou Yun.
Hanya sekejap Lu Sun dan kedua Istrinya telah tiba di depan ruangan kantor Pak Ma, Pak Ma bersama para guru lainnya dan Alicia, Deborah.
Memang sudah bersiap di depan kantor menanti kedatangan Lu Sun.
Mereka tidak ada yang berani pergi kearah gedung SMA yang sedang terjadi keributan hebat di sana.
Begitu Lu Sun tiba, pak Ma langsung bertindak sebagai penunjuk jalan diikuti oleh para guru dan rombongan Lu Sun.
Mereka segera mengikuti pak Ma menuju gedung khusus untuk murid SMA
Sampai di sana mereka hanya menemukan para murid SMA bergelimpangan tidak sadarkan diri.
Selain itu mereka juga menemukan Lu San yang tertelungkup di lantai dekat tangga turun dengan kondisi mengenaskan.
Lu Sun buru-buru berjongkok di samping tubuh Lu San, melakukan pemeriksaan dengan hati-hati.
Perlahan lahan airmatanya mulai menetes membasahi pipinya, Lu Sun sangat sedih setelah melakukan pemeriksaan pada tubuh Lu San.
Lu Sun dengan tangan gemetar menjejalkan 2 butir pil nirwana kedalam mulut Lu San, dia juga menggunakan salep hitam dengan hati-hati mengoleskan dengan rata di hampir seluruh tubuh Lu San.
__ADS_1
Lu Sun menyadari betul, kondisi Lu San saat ini, bisa tertolong dan hidup lagi itupun sudah keajaiban.
Tapi kalau pun tertolong, Lu San akan menjadi seorang yang cacat total, mungkin sisa hidupnya kedepan, harus dia habiskan dengan cara berbaring di ranjangnya saja.