
Dari lengannya sebatas siku darah menyembur keluar dengan deras, seperti keran bocor.
Melihat situasi mengerikan ini ke empat temannya berdiri terpaku di tempat.
Memanfaatkan situasi tersebut Lu Sun sambil berkelebatan cepat seperti bayangan, yang bisa hilang muncul, melakukan tebasan kearah tangan keempat orang yang memegang senjata itu.
Keempat orang itu pun meraung kesakitan seperti orang pertama tadi.
Mereka juga jatuh berlutut dengan lengan sebatas siku bercucuran darah.
Setelah melumpuhkan mereka ber 5,
Lu Sun tersenyum tenang lalu melangkah menuju ke arah Xue Yen sambil memeluk Giok Lan.
Tapi baru saja Lu Sun berjalan satu langkah, si penjahat sadis yang telah membunuh manajer toko tadi.
Dengan mata melotot marah, dia mencabut pistol di pinggang nya, lalu menembakkannya kearah Lu Sun sambil berteriak,
"Mampus kau bedebah..!!!"
"Dor...dor...dor...dor...dor...!!"
Pistol pendek nya yang di genggam ditangan kirinya meletus secara bertubi-tubi kearah Lu Sun dan Giok Lan.
Tapi tubuh Lu Sun dan Giok Lan terlindungi oleh Perisai tenaga Im Yang Sen Kung.
Sehingga perlu tidak bisa menembusnya.
Si perampok sadis sangat terkejut, karena hingga pistolnya kehabisan peluru dan berbunyi.
"Ceklek..Ceklek...Ceklek..!"
Lu Sun dan Giok Lan terlihat baik'baik saja, belum hilang kagetnya, tangannya yang menggenggam pistol menyusul lengannya yang lain tergeletak di hadapan nya.
"Arghhh..."
jerit perampok itu kesakitan.
Tanpa menghiraukan perampok itu, Lu Sun melanjutkan langkahnya menghampiri Xue Yen sambil berkata,
"Sayang kamu tidak apa-apa, maaf aku sedikit terlambat.."
Xue Yen tersenyum dan berkata,
"Aku tidak apa-apa.."
__ADS_1
Baru saja dia hendak melangkah mendekati Lu Sun, terdengar teriakan aneh si penjahat sadis yang telah kehilangan kedua tangannya.
melompat menubruk tubuh Xue Yen dari belakang, dia terlihat menatap Lu Sun sambil tersenyum sadis.
Begitu dadanya menubruk punggung Xue Yen , ledakan keras terjadi keras terjadi, abu batu pasir debu berhamburan.
Ruangan toko perhiasan itu ambruk rata dengan tanah, bangunan di lantai dua itu ambruk ke bawah sebagian sehingga rata dengan lantai satu debu mengepul kemana mana.
Tidak ada satupun orang di dalam toko perhiasan itu yang selamat, kecuali Lu Sun dan Giok Lan, yang terlindungi tenaga Im Yang Sen Kung Lu Sun.
Mereka melesat keluar dari kepulan asap debu yang menyelimuti area ledakan dahsyat itu.
Lu Sun berdiri mematung menatap kearah ****** puing reruntuhan bangunan dihadapan nya.
Giok Lan masih berada dalam gendongan nya.
Setelah menurunkan Giok Lan dari gendongan nya, Lu Sun berkata pelan,
"Lan Lan kamu tinggu di sini...aku harus menemukan nya...ini salah ku...aku..aku.. Xue Yen......!!"
teriak Lu Sun histeris.
Lalu dia melesat kearah reruntuhan puing puing seperti orang gila, terus membongkar dan melempar tumpukan batu yang besar besar dan berat berat tapi bagi Lu Sun semua itu bukan halangan.
Dengan mata basah dan wajah penuh debu, pakaiannya yang keren pun kini mulai robek di sana sini.
Tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya, di mana banyak orang yang menangis berteriak dan berdesakan melihat dari jauh.
Juga tidak menghiraukan petugas evakuasi yang mulai berdatangan membantu melakukan evakuasi penyelamatan baik yang terluka ringan ataupun berat.
Selama proses pencarian Lu Sun berhasil menyelamatkan beberapa orang yang terjebak dalam timbunan.
Ada yang masih hidup tapi ada juga yang sudah menjadi mayat hancur tidak karuan tertimpa reruntuhan batu.
Setelah membongkar sampai bagian paling dasar, Lu Sun akhirnya berhasil menemukan beberapa lembar potongan pakaian Xue Yen.
Tanpa putus asa Lu Sun terus membongkar area sekitarnya, akhirnya dia mulai menemukan potongan tubuh dan kepala Xue Yen yang hancur dan berserakan di mana-mana.
Tak kuat melihat kondisi istrinya yang mati dengan cara begitu mengenaskan, Lu Sun berlutut di sana menangis tersedu-sedu sambil terus bergumam memanggil nama Xue Yen berulang ulang.
Di tangannya menggenggam erat potongan pakaian Xue Yen yang berwarna biru tua, dan yang menjadi seragam mereka berempat.
Yang kini hanya tersisa dua orang yaitu dirinya dan Giok Lan.
Para team evakuasi mereka menfokuskan diri mencari di area lain, tidak ada yang berani mendekati Lu Sun.
__ADS_1
Yang terlihat aneh dan mengerikan, untuk mereka yang manusia awam di jaman modern.
Kekuatan yang di tunjukkan oleh Lu Sun memang sangat tidak masuk akal.
Batu batu sebesar gajah, dengan mudah di pindahkan oleh Lu Sun seperti memindahkan kardus kosong.
Bahkan meski mereka menggunakan alat berat sekalipun evakuasi tidak akan bisa terjadi secepat yang Lu Sun lakukan.
Setelah puas menangis Lu Sun mengeluarkan jubah naga hitam nya, lalu dengan hati-hati dia mengumpulkan sisa potongan tubuh yang di kenalinya sebagai milik Xue Yen.
Lu Sun mengumpulkan semuanya menjadi satu, lalu di bungkus dengan jubahnya.
Setelah itu dengan langkah kaki gontai, dia meninggalkan lokasi reruntuhan puing dengan tatapan mata kosong.
Dia terus melangkah menuju sebuah mobil ambulance, di mana Giok Lan terlihat duduk termenung di sana tubuhnya tertutup selimut yang diberikan oleh team medis yang tadi memeriksa keadaan nya.
Melihat kedatangan Lu Sun, Giok Lan langsung berlari menghambur kedalam pelukan Lu Sun dan menangis sedih.
"Ba.. bagaimana..Sun ke ke... apakah Sun ke ke berhasil menemukan kak Xue Xue..?"
Lu Sun menghela nafas panjang dengan airmata bercucuran dia menunjukkan sebuah bungkusan yang di pegang nya dan berkata dengan pelan.
"Ini salah ku,.. sehingga dia harus pergi dengan cara ini.."
"Aku hanya berhasil mengumpulkan ini saja.."
ucap Lu Sun sedih.
Giok Lan melirik sekilas, kearah bungkusan jubah Lu Sun.
Lalu dia kembali menangis dan berkata,
"Tidak Sun ke ke ini musibah, aku yakin kak Xue Xue di atas sana, juga tidak mau melihat mu bersedih apalagi menyalahkan diri mu sendiri..."
Lu Sun kembali menghela nafas dan berkata,
"Dengan kondisi jasadnya yang seperti ini, kita hanya bisa mengkremasi potongan tubuhnya yang berhasil ku kumpulkan."
Tak lama kemudian di sana muncul Jimmy Huang dan kekasihnya, juga David Viktor dan Peter Ho.
Mereka membantu Lu Sun membereskan segala sesuatu yang di perlukan untuk mengurus potongan jasad Xue Yen yang tidak utuh untuk di kremasi.
Akibat peristiwa duka cita ini, kediaman Lu Sun kembali di banjiri pengunjung yang datang mengucapkan belasungkawa.
Bahkan sekali ini jauh lebih ramai, karena pihak sekolah Kuang Ming juga turut datang.
__ADS_1
Hampir seluruh murid sekolah itu datang bersama sama guru guru mereka menggunakan bis yang di koordinir pihak sekolah .
Lu Sun menyambut kedatangan mereka semua dengan penuh rasa haru.