
Prof Billy mengangguk dan tersenyum, dia percaya mantunya pasti punya cara untuk mengatasi hal ini.
HP Lu Sun berbunyi, Lu Sun melirik HP nya Kemudian dia mengangkatnya.
"Ya kapten Song gimana..?"
"Ya...ya...ya...baik makasih...!"
ucap Lu Sun kemudian menutup HP nya, dan menatap dingin kearah 3 orang di hadapannya.
"Dulu aku memberikan kakek kalian saham, karena mengingat jasa besar mereka terhadap Rumah Sakit ini.."
"Tak di sangka kalian bertiga ini makan dari sini tapi membantu orang luar untuk membuat ulah.."
"Kalian ingin mengganti direktur kan ? siapa kandidat kalian ? Ching Ming Dao kah ?"
ucap Lu Sun marah dengan menampar meja di hadapannya.
"Brakkkk...!!!"
Meja tebal terbuat dari bahan kayu besi yang sangat kuat kini hancur berkeping-keping terkena tamparan ringan Lu Sun.
Semua orang di sana tidak ada yang tidak terkejut ataupun kaget.
Ketiga orang itu mundur hingga terjatuh dari kursi yang mereka duduki, kini mereka baru sadar kenapa Ming Dao terus mengingatkan mereka berhati-hati.
Mereka baru boleh bertindak saat Lu Sun di penjara.
Tadi saat mendapat tatapan Lu Sun sehabis menerima telpon, mereka sudah sedikit gentar.
Saat Lu Sun berbicara menegur mereka, mereka semakin pucat, kini melihat meja sekali pukul hancur berkeping-keping mereka hampir tidak punya tenaga untuk bangun dari lantai.
Semua orang terkejut, termasuk Ying Ying yang biasanya selalu bersikap tenang, juga ikut terkejut.
Tapi dia dengan sigap maju memegang lengan Lu Sun dan berkata,
"Sayang tenanglah...!"
Lu Sun menghela nafas panjang menoleh menatap istrinya dan mengangguk.
Lalu dia kembali melihat ke 3 orang yang duduk di lantai dan berkata,
"Semua pelaku sudah mengakui, kalianlah porak semua kekacauan ini, kini bukti dan saksi sudah lengkap.."
"Selamat bertemu di pengadilan.."
Lu Sun menoleh kearah Edison Chen, dan berkata,
"Tuan Chen tolong bantu urus ya.."
__ADS_1
Edison Chen mengangguk dan berkata,
"Tuan tenang saja aku akan mengurusnya.."
Baru saja Lu Sun dan rombongannya ingin meninggalkan ruangan meeting, Rombongan Kapten Song bersama anak buahnya telah datang.
Tanpa banyak bicara kapten Song memberi kode ke bawahannya agar menahan ketiga orang itu.
Bawahan kapten Song langsung maju meringkus ketiga orang yang masih terduduk dilantai dengan ketakutan.
Lu Sun memberi hormat Kearah kapten Song dan berkata,
"Maaf merepotkan Anda tuan Song."
Kapten Song Tersenyum lebar, dan berkata.
"Tuan Sun terlalu sungkan, ini memang sudah tugas kami.."
"Terimakasih banyak, aku permisi duluan."
ucap Lu Sun kembali.
"Silahkan Tuan Lu.."
ucap Kapten Song sambil menganggukkan kepalanya.
Lu Sun dan rombongannya berjalan meninggalkan ruangan itu, tanpa menoleh dan memperdulikan teriakan minta maaf dan minta diampuni dari ketiga orang itu yang berteriak dan menangis.
Pagi hari itu seperti biasanya saat bangun tidur Ming Dao selalu menyempatkan diri melihat ikan Arwana merah kesayangannya.
Tapi saat melihat kearah Aquarium di mana ikan kebanggaan nya berada, dia berdiri terpaku.
Sesaat kemudian dia baru berteriak histeris sehingga menggemparkan seluruh kediamannya.
Ming Dao menangis menggerung-gerung sambil memeluk Aquarium di hadapannya.
Semua bawahannya berkumpul di ruangan Tersebut mereka berdiri ketakutan dengan wajah pucat kepala tertunduk seluruh tubuh mereka gemetar ketakutan.
Mereka semua tahu persis bagaimana sayangnya Ming Dao terhadap ikan ini, yang menurut para pembantu senior.
Ming Dao sudah mulai memelihara ikan ini mulai dari sebesar satu ruas jari kelingking hingga seperti sekarang.
Di mana Arwana cantik miliknya sudah sebesar paha orang dewasa.
Rasa cinta Ming Dao terhadap ikannya ini, bahkan melebihi rasa cintanya terhadap para gadis cantik yang sering secara berganti-ganti di bawa kerumah untuk ditiduri.
Bila sudah bosan dia akan mencampakkan gadis-gadis itu seperti sampah, lalu mengejar gadis lain lagi.
Ikan Ming Dao ini pernah di tawar dengan harga 10 juta Yuan tapi dia tidak bersedia melepaskan nya.
__ADS_1
"Catherine mengapa kamu pergi begitu cepat meninggalkan ku...hu...hu..hu...hu...!"
ucap Ming Dao sambil menangis sedih.
Catherine adalah nama ikan arwana Ming Dao, dia dulu tertarik dan mendekati Catherine Liu Ying Ying salah satunya karena nama Ying Ying sama dengan nama ikannya ini.
Kini di dalam Aquarium milik Ming Dao yang berukuran besar dan mewah, terlihat Ikan Arwana kebanggaan Ming Dao sedang mengambang tak bergerak.
Dengan perut menghadap keatas dan mulut terbuka lebar, seperti ikan tersebut kehabisan oksigen.
"Siapa yang mendekati aquarium ini selama beberapa hari ini ?"
tanya Ming Dao dengan suara tertahan menahan amarah.
Para bawahannya dari pembantu bersih-bersih rumah, pembantu masak, pengurus taman, hingga Satpam keamanan semua hadir disana dengan kepala tertunduk.
Tidak ada yang berani menjawab, di samping takut menjadi sasaran kemarahan tuan mereka, mereka semua memang tidak tahu mau jawab apa..
Tidak ada satupun di antara mereka ada yang berani mendekati daerah di sekitar aquarium ini.
Mereka tidak ada yang mau cari penyakit buat dirinya sendiri.
Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Ming Dao menjadi semakin naik pitam dan berkata,
"Kalian ini semuanya adalah sekumpulan gentong nasi, yang tahunya cuma makan. sampah...! Sampah... semuanya tidak berguna..'!
teriak Ming Dao emosi dan marah-marah tidak karuan.
"Keparat sialan,.... ini pasti gara-gara orang yang datang menawar ikan ku kemaren, dasar pembawa sial...!"
Teriak Ming Dao seorang diri memaki-maki orang seperti orang stres.
Semua bawahannya hanya menundukkan kepala tidak ada yang berani bersuara, bahkan satpam nya, yang pagi-pagi sarapan ubi dirumahnya.
Kini perutnya sedang mules dan terus berontak ingin buang angin, dia tidak berani buang angin.
Dia hanya berusaha mati-matian menahannya hingga wajahnya sebentar merah sebentar pucat.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, perutnya terus berbunyi semakin lama semakin keras.
Di dalam hati dia berdoa agar cepat-cepat selesai masalah Ming Dao, sehingga mereka bisa kembali ketempat masing-masing untuk bekerja.
Dua pembantu muda bagian bersih-bersih yang kebetulan berdiri di sampingnya, mereka melirik kearah perut satpam itu, saat mereka terus menerus mendengar bunyi aneh yang suaranya berasal dari sana.
Karena tidak tahan dan penasaran akhirnya mereka berbisik
"Pak Gio kenapa perut mu ? kok terus berbunyi ?"
Satpam itu melirik kearah dua orang gadis muda itu dengan wajah merah menahan malu dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalian bertiga disana...!! sialan kalian...!!"
teriak Ming Dao marah sambil menunjuk kearah ketiga orang itu.