
Tapi saat tiba di depan mulut Lu San, Lu San mengatupkan bibirnya tidak mau membuka mulutnya.
Deborah menatap Lu San dengan bingung dan berkata,
"Kakak San kenapa..?"
Lu San menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tersenyum lah.. dan jangan menangis lagi,.."
Deborah memejamkan matanya sesaat, mencoba menenangkan perasaannya, dia menghapus airmatanya.
Lalu sambil berusaha tersenyum dia menyuapi Lu San, tapi bagaimana pun di paksakan Deborah hanya bisa tersenyum sedih.
Tapi Lu San kini membuka mulutnya lebar-lebar dan memakannya dengan lahap, tapi pada suapan ketiga Lu San tersedak.
Dia batuk batuk kecil berusaha menahannya hingga wajahnya menjadi merah, sesat kemudian dia memiringkan kepalanya memuntahkan darah segar bercampur makanan yang dia makan di lantai.
"Maaf..maaf...aku..menyia nyiakan makanan mu...dan mengotori ruangan tunggu.."
ucap Lu San sambil berusaha tersenyum tenang.
Deborah berdiri bengong melihat kondisi Lu San yang begitu parah, sumpit ditangannya terlepas dari pegangannya.
Bila kotak bekalnya, tidak sedang di bantu pegangin oleh Alicia pasti sudah ikut jatuh tumpah ke lantai
Deborah buru buru memutar tubuhnya memunggungi Lu San, dia menangis tanpa suara hingga bahunya berguncang guncang.
Sepasang tangannya menutup mulutnya rapat-rapat agar suara tangisnya tidak keluar dan terdengar oleh Lu San.
Airmata nya bercucuran membasahi wajahnya.
Alicia juga memalingkan wajahnya kesamping berusaha menahan tangis.
Lu Sun buru-buru memeriksa bagian dada dan perut Lu San, kemudian dia menotok beberapa jalan darah di sana untuk menghentikan pendarahan dari dalam.
Ying Ying dan Giok Lan yang di samping Lu Sun menatap dengan wajah cemas dan sedikit pucat.
Di saat bersamaan mobil ambulance pun tiba di lokasi, beberapa petugas medis profesional.
Buru buru datang membawa ranjang dorong, ke ruangan tersebut.
Setelah Lu San di pindahkan ke ranjang tersebut di ikat dengan baik dan di pasangi berbagai peralatan medis terutama alat bantu pernafasan.
Lu San pun di evakuasi oleh petugas medis kedalam mobil ambulance.
Yang ikut menemani di dalam mobil tersebut hanya Lu Sun seorang, yang lainnya mengikuti mobil ambulance dari belakang.
Giok Lan dan Ying Ying satu mobil, sedangkan Alicia menumpang mobil Deborah yang di bawa oleh supir pribadinya, menyusul di belakang mobil Giok Lan.
Sepanjang perjalanan Lu Sun terus membantu dengan pengerahan Ih Kin Cin Keng membantu menstabilkan kondisi Lu San.
__ADS_1
Setiba di rumah sakit, saat team dokter menangani Lu San di ruangan ICU, atas rekomendasi Prof Billy yang ikut hadir di dalam ruangan.
Lu Sun diijinkan ikut membantu partisipasi penyelamatan.
Dengan menggunakan pakaian khusus dokter operasi dan masker Lu Sun turun tangan membantu para dokter medis.
Para dokter itu sangat kagum dengan kemampuan medis tradisional Lu Sun, dalam menghentikan pendarahan memperbaiki jaringan syaraf dan organ tubuh yang rusak.
Berkat kerja sama medis tradisional dan modern, akhirnya Lu San berhasil di selamatkan nyawanya.
Tapi mereka semua dalam hati tahu, meskipun Lu San berhasil di selamatkan, tapi dia seumur hidup akan menjadi orang cacat yang tidak bisa bergerak sama sekali dari leher kebawah.
Buat psikologis Lu San, ini adalah suatu pukulan berat yang lebih berat daripada kematian.
Tapi mereka tidak berdaya, mereka sudah maximal tidak ada yang bisa mereka lakukan lagi.
Lu Sun keluar dari ruangan ICU dengan wajah lesu.
Giok Lan dan Ying Ying buru-buru menghampiri Lu Sun dan berkata,
"Bagaimana kondisi San er..."
Lu Sun melepaskan maskernya dan berkata,
"San er terselamatkan, dia kini dalam keadaan stabil dan baik baik saja.."
"Paling lama Minggu depan dia sudah bisa kembali kerumah.."
Lu Sun terlihat berat mengatakannya, di menengadahkan wajahnya keatas, berusaha menahan sedu sedan di dadanya.
"Hanya saja kenapa,?! Sun ke ke...! katakan dengan jelas..!"
ucap Giok Lan panik sambil menarik tangan Lu Sun.
Lu Sun menghapus dua butir air mata nya, yang melompat keluar, sambil menghela nafas panjang dia berkata,
"San er kedepannya ,.. hanya bisa melewati sisa hidupnya dengan berbaring di kasur.."
Suara Lu Sun terdengar serak saat mengucapkan nya.
Giok Lan dan Ying Ying merasa kaki mereka kehilangan tenaga saat mendengar Jawaban suaminya.
Mereka berdua terduduk bersimpuh di lantai rumah sakit dengan tatapan mata kosong.
Dari awal mereka sudah bisa menebak, Lu San sekali ini pasti akan mengalami hal ini, tapi mereka masih menaruh harapan lain.
Dan berharap ada keajaiban yang terjadi, tapi kini setelah mendengar ucapan Lu Sun.
Mereka berdua kehilangan harapan.
Mereka sangat sulit menerima kenyataan ini, selain itu mereka juga cemas, bagaimana Lu San bisa menerima kenyataan ini.
__ADS_1
Bila dia nanti mengetahui dirinya akan melewatkan sisa hidupnya menjadi seorang cacat tak berguna.
Deborah maju mendekati Giok Lan dan Ying Ying kemudian berkata,
"Ibu,.. ijinkanlah aku mendampinginya seumur hidup ku.."
Giok Lan dan Ying Ying sangat terkejut, mereka berdua buru buru menoleh ke arah Deborah.
Lu Sun pun ikut menoleh kearah gadis itu.
"Deborah kamu jangan main-main, kamu sendiri sudah dengar ucapan paman Lu tadi.."
"Kamu masih kecil, masa depan mu masih panjang, kamu jangan emosi sesaat merusak masa depan dan kebahagiaan mu sendiri.."
ucap Ying Ying mencoba memberi nasehat.
Tapi Deborah menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak ibu Ying Ying, aku sudah memikirkannya matang matang, keputusan ku sudah bulat."
"Aku hanya meminta ijin, sesuai adat kesopanan saja.."
"Di ijinkan atau tidak, aku tetap pada keputusan ku, aku akan tetap mendampinginya seumur hidup."
"Deborah kamu jangan ikut gila, kamu tidak boleh merusak masa depan mu dengan cara seperti ini.."
"Lu San ada kami, kamu tidak perlu khawatir menyesal atau pun merasa bersalah"
"Semua kejadian ini tidak ada hubungannya dengan mu."
"Kamu punya orang tua, kamu harus perhatikan perasaan mereka, kamu tidak boleh gegabah.."
"Lebih baik kamu lupakan saja ucapan mu barusan, kami akan anggap tidak pernah mendengarnya."
ucap Giok Lan mencoba menasehati Deborah.
Lu Sun menatap gadis kecil itu dengan haru, lalu berkata.
"Ucapan mereka berdua sangat tepat, kami sekeluarga mengucapkan terimakasih atas niat baik dan ketulusan mu."
"Tapi Om mohon sebaiknya kamu lupakan saja, soal ide tidak masuk akal mu itu."
Deborah menggelengkan kepalanya dengan kuat, dia menatap mereka bertiga secara bergantian, kemudian berkata.
"Tidak ayah ibu.. keputusan ku sudah bulat, aku tidak perduli dengan pandangan orang lain."
"Keinginan ku cuma satu, aku ingin melewatkan sisa hidup ku bersama nya.."
ucap Deborah kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapan mereka bertiga.
Lalu memberikan penghormatan kepada mereka, seperti seorang mantu memberi hormat pada mertua nya, saat pertama kali masuk sebagai bagian dari keluarga tersebut.
__ADS_1