
Lu Sun bergerak cepat menghindari manusia tanah, ingin menyerang Pemuda yang sedang mengontrol pergerakan manusia-manusia tanah ciptaannya.
Tapi pergerakannya selalu terhalangi oleh manusia tanah yang di kontrol Pemuda itu dari jarak jauh.
Lu Sun terpaksa menghancurkan manusia tanah yang di hadapannya.
Tapi begitu Manusia tanah itu hancur akan muncul yang lain kembali menghadang pergerakannya.
Sedangkan manusia tanah yang tadi hancur kini sudah pulih kembali.
Kejadian itu terjadi berulang-ulang sehingga Lu Sun tidak bisa melaksanakan niatnya, untuk membereskan si pengontrol pergerakan manusia tanah itu.
Kejadian itu bertambah repot saat bayangan yang Lu Sun ciptakan mulai perlahan-lahan berhasil di hancurkan oleh manusia tanah yang kebal dan tidak bisa mati itu.
Lu Sun sambil menghadapi keroyokan manusia tanah yang mengerubunginya, setelah bayangan tubuhnya hancur.
Dia terus berpikir gimana caranya mengalahkan unsur tanah, setiap elemen ini biasanya memiliki elemen lain yang bisa di gunakan untuk menjinakkan nya.
Sebagai ahli silat kelas tinggi meski tidak mendalami pengendalian terhadap setiap jenis elemen tertentu, tapi Lu Sun paham garis besar cara mengaktifkan dan menjadikan elemen itu untuk mendukung setiap serangannya.
Seperti contohnya dia dalam penggunaan 18 Tapak Penahluk Naga, terkadang dia menggunakan pengendalian tanah udara air cahaya untuk menambah daya serang jurusnya itu.
Tapi semua itu adalah pendukung, bukan jurus utama seperti musuh yang sekarang dia hadapi.
Lu Sun merubah pergerakan nya, dia menghasilkan serangan angin puyuh yang sangat dahsyat kearah 10 manusia tanah yang sedang bergerak mengerubunginya.
Pukulan angin puyuh ini dia ambil dari intisari jurus tombak pembunuh naga LV 19 dan 20 nya, kini dia mencampurinya dengan pemanfaatan dorongan tenaga alam semesta, dari Qian Kun Ta Lo Ih Sin Fa.
Akibat pertarungan dengan lawan yang sangat merepotkan ini, Lu Sun secara tidak sengaja berhasil menciptakan satu jenis pukulan baru.
Angin puyuh yang dahsyat menggulung ke 10 manusia tanah tanpa ampun, manusia yang terbuat dari pengerasan tanah kini perlahan-lahan hancur satu persatu.
Dan mereka tidak bisa menyatu kembali, karena unsur tanah ditubuh mereka tidak bisa di padatkan kembali.
Mereka semua berubah menjadi tanah pasir batu yang berhamburan terseret arus putaran angin puyuh.
Pemuda itu berdiri terbelalak melihat kesudahan dari manusia tanah ciptaannya, yang kini berhasil Lu Sun hancurkan.
Dia semakin kaget karena angin puyuh itu, kini berputar-putar menuju kearahnya.
__ADS_1
Seperti ingin menyedot dan menggulungnya kedalam pusaran.
Pemuda itu sebisa mungkin mundur menghindar, tapi angin puyuh yang kini di kontrol oleh Lu Sun terus mengejarnya.
Tiada pilihan lain dia kembali menyusup kedalam tanah untuk menghindar dari serangan Lu Sun.
Tapi senjata Dewa Lu Sun mengejar dan menyerangnya, kemanapun dia bersembunyi.
Akhirnya karena terdesak dan terus di kejar-kejar dia terpaksa kembali muncul ke permukaan tanah.
Tapi baru dia muncul langsung tersedot oleh angin puyuh yang Lu Sun kendalikan dan sudah dipersiapkan menunggu kemunculan nya.
Lu Sun dapat menebak dia ada di mana, itu karena saat dia berada di dalam tanah, tanah akan membentuk gundukan tanah kecil yang bergerak-gerak mengikuti kemanapun dia pergi.
Pemuda itu merasa tubuhnya terangkat dan dibawa berputar-putar dengan sangat cepat hingga kepalanya terasa pusing dan sakit seperti mau pecah.
Sedangkan tubuhnya babak belur terbentur barang apapun yang berada di dalam pusaran angin puyuh itu.
Lu Sun tidak berhenti disana, dia kini mengerahkan tapak es abadi bergabung dengan pusaran angin puyuh.
Kini pusaran angin terhenti, membentuk sebuah bukit es, di mana bagian runcing berada di bawah, bagian lebar ada diatas.
Melirik ke kanan dan ke kiri, mencari-cari jalan untuk meloloskan diri.
Tapi tubuh yang terbalut es itu tidak bisa di gerakkan, bagaimana dia akan meloloskan diri.
Apalagi dia sebagai pengontrol elemen tanah, kini tubuhnya mengapung di udara sama sekali jauh dari tanah, yang bisa dia gunakan untuk membantunya keluar dari kurungan balok es.
Lu Sun tersenyum gembira dan berkata,
"Sudah menyerah saja kamu tidak mungkin bisa keluar dari sana."
"Kalau kamu terus berusaha yang ada kamu akan benar-benar mati beku di dalam."
Lu Sun memang cuma menahannya, dia tidak menambahkan pembekuan inti es, seperti pukulan yang sering Xue Yen lepaskan.
Yang secara otomatis akan membuat lawannya , mati membeku menjadi patung es.
Di mana seluruh darah dan isi tubuhnya semua membeku menjadi es, yang bila dipecahkan akan hancur menjadi potongan kristal es.
__ADS_1
Lu Sun hanya ingin menundukkan lawannya seperti dia menundukkan Shanti Dewi bukan ingin mengambil nyawa mereka.
Ditempat lain Shanti Dewi ketika siuman dari pingsannya, dia segera meronta sekuat tenaga sambil berteriak histeris ketakutan.
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah gelembung udara, tidak ada suaranya.
Shanti Dewi segera sadar dia kini berada di dasar danau.
Dia cepat-cepat memeriksa kondisi tubuhnya, ternyata tidak ada perubahan apapun, akhirnya dia tahu Lu Sun cuma menakut-nakuti dirinya.
Lu Sun sama sekali tidak melaksanakan ancamannya.
Kini dia merasa malu sendiri dengan sikapnya , yang telah berbuat curang.
Membalas kebaikan Lu Sun dengan kelicikan, untungnya Lu Sun tidak membalasnya dengan sungguh-sungguh.
Bila tidak bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya dengan aib menjadi istri seekor kera.
Memikirkan hal ini Shanti Dewi langsung bergidik, tanpa sadar dia merangkul kedua tangannya di depan d*da seperti orang menggigil kedinginan.
Shanti Dewi keluar dari dalam air mencari-cari tapi dia tidak melihat ada Lu Sun disekitar sana.
Shanti Dewi menghela nafas panjang, Lu Sun pasti sudah pergi, pergi jauh meninggalkannya. Mungkin seumur hidup ini dia tidak pernah bisa bertemu lagi, dengan pria yang sangat menarik perhatiannya itu.
Shanti Dewi tiba-tiba merasa hatinya sangat hampa, seperti ada sesuatu yang telah di bawa pergi darinya, dia merasa ada perasaan sedih yang menyesaki dadanya.
Tiba-tiba dua butir airmata jatuh membasahi pipinya, hal yang sebelumnya belum pernah dia alami dan rasakan kini terjadi pada dirinya.
Shanti Dewi bertanya kepada dirinya sendiri, mungkinkah aku benar-benar telah jatuh hati padanya.
Sesaat kemudian dia menggelengkan kepalanya sendiri dan berkata,
"Tidak mungkin, aku dan dia adalah dua mahluk yang hidup di dua alam berbeda."
"Aku tidak bisa jauh dari air, sedangkan dia tidak bisa jauh dari darat."
"Jadi hubungan ini jelas adalah mustahil, lagipula sepertinya dia juga tidak memiliki perasaan apapun terhadap ku."
Ditempat lain kurungan es Lu Sun tiba-tiba hancur berantakan..
__ADS_1