KEMBALINYA SANG LEGENDA

KEMBALINYA SANG LEGENDA
KEJADIAN MENYERAMKAN


__ADS_3

Melihat langkah Jeff Zhang Lu Sun sambil tertawa meletakkan biji putihnya yang kembali membuat Jeff Zhang harus kehilangan setengah dari biji putihnya.


Sambil tersenyum Lu Sun berkata,


"Ini yang disebut kalah menang belum ditentukan, keajaiban merubah kematian menjadi kemenangan.."


"Satu langkah salah seluruh permainan pun tamat.."


Jeff Zhang mengacungkan jempol nya dan berkata,


"Salut..."


"Hari ini peruntungan ku seperti nya hilang setelah kedatangan dia.."


"Aku permisi dulu, lain kali kita baru bertempur lagi..."


Lu Sun tersenyum dan mengangguk,


"Baik silahkan..."


Lalu Lu Sun membantu membereskan biji catur , menyimpan ke tempatnya kemudian di kembalikan ke Jeff Zhang.


Setelah Jeff Zhang, pergi Lu Sun berbaring santai di ruangannya, Lu Sun sekarang tidak perlu mengikuti jadwal.


Kalau ingin keluar dia boleh keluar selama masih dalam lingkungan penjara, kalau ingin di kamar dia boleh bebas tetap di kamarnya.


Di tempat lain Dr Monica setelah kembali keruangan nya yang nyaman dan berhawa sejuk, dia terlihat marah-marah.


Dia masih kesal dengan sikap Lu Sun yang tidak menganggap kehadirannya di sel Lu Sun.


Dr Monica uring-uringan sendiri dalam ruangan nya dan terus me maki-maki Lu Sun yang menurutnya sangat sombong dan arogan.


Tapi saat teringat suara yang berbisik di telinganya, dia kembali bergidik.


Mengedarkan pandangannya menatap ke sekitar ruangannya dengan ketakutan.


Di dalam hati dia berpikir jangan-jangan mahluk halus tak kasat mata itu, mengikuti dirinya hingga keruangan nya.


Tiba-tiba dia kepikiran bagaimana bila mahluk halus itu muncul dan memperkosanya.


Dia semakin ketakutan, dia buru-buru merapatkan jas dokter menutupi bagian dadanya yang besar.


Tak lama kemudian dia buru-buru keluar dari kamar nya, pergi keruangan di mana beberapa suster bawahan nya sedang berkumpul .


Dia memilih duduk di kursi kain, dan berbaring santai di sana sambil main HP.


Tiba-tiba lampu ruangan menjadi gelap gulita, Monica langsung menjerit ketakutan.


Dia semakin ketakutan saat merasa di ruangan yang gelap ini hanya ada dia seorang diri.

__ADS_1


Dia menggunakan HP di tangannya, untuk menyenteri, ruangan di mana dia berada.


Dia masih duduk di kursi sambil di mana tadi dia berbaring.


Monica berteriak memanggil beberapa bawahannya..


"Tina..! Lili...! Mia...! Eni...! Rudy...! Toni...!. Dimana kalian. ?"


Tapi tidak ada jawaban atau sahutan dari mereka.


Dengan takut-takut Monica berdiri dari kursi kain tempat dia berbaring tadi.


Sambil merapatkan jas luarnya, Monica menggunakan lampu senter di HP nya menyoroti seluruh ruangan di mana dia tadi bersama bawahannya masih berada di situ semua.


Monica kembali berteriak memanggil nama bawahannya satu persatu.


"Tina..! Lili...! Mia...! Eni...! Rudy...! Toni...!.


Tapi tetap saja teriakan suaranya tertelan keheningan tidak ada balasannya.


Dengan menggunakan senter HP nya Monica perlahan-lahan berjalan keluar dari ruangan tempat berkumpul para bawahannya.


Monica membuka pintu kemudian keluar dari dalam ruangan tersebut seorang diri.


Dia terus melangkah pelan-pelan, ternyata di luar ruangan juga sedang gelap gulita.


"Tina..! Lili...! Mia...! Eni...! Rudy...! Toni...!.


Ta lagi-lagi tidak ada respon, dengan hati semakin ketakutan dan wajahnya semakin pucat ketakutan.


Monica melangkah cepat menggunakan senter HP nya sebagai cahaya penerangan dia terus melangkah menuju ruangan kantor Jeff Zhang kepala sipir penjara.


Yang merupakan teman SMA Monica dulu, dan Jeff Zhang sudah menyukainya sejak mereka SMA, bahkan sudah berulang kali menembaknya.


Tapi Monica selalu menolaknya, karena meski Jeff Zhang cukup tampan dan banyak gadis lain menyukainya.


Tapi bagi Monica Jeff Zhang tak lebih dari seorang teman biasa, dia tidak memiliki chemistry atau ketertarikan apapun terhadap Jeff Zhang.


Kini di saat sedang panik dan ketakutan begini, yang terpikir oleh Monica pertama kali adalah segera pergi mencari Jeff Zhang.


Monica sempat menghubungi Jeff Zhang dengan HP nya berulang kali, tapi telponnya yang masuk tidak ada yang mengangkatnya sama sekali.


Ada apa ini pikir Monica, padahal biasanya bila Jeff Zhang menerima panggilannya, Jeff Zhang belum pernah sekalipun tidak mengangkat atau mereject panggilan nya.


Monica yang berjalan sambil melakukan panggilan telepon, tiba-tiba berteriak kecil,


"Aduh...!"


Kaki tersandung sesuatu tubuhnya tersungkur ke depan, HP di tangannya terlepas dari pegangannya, tergeletak tidak jauh darinya.

__ADS_1


Dalam suasana remang-remang Monica menyentuh benda yang menghalangi jalan nya dan membuatnya tersungkur.


Setelah diraba-raba ternyata itu adalah sesosok tubuh manusia.


Monica buru-buru merangkak mengambil HP nya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Saat merangkak Monica merasakan telapak tangan dan dengkulnya yang bersentuhan langsung dengan lantai terasa licin dan lengket.


Tapi dia tidak memperdulikannya, dia terus merangkak dan mengambil HP nya.


Setelah berhasil meraih HP nya kini Monica bisa melihat apa yang terjadi di depan nya.


Ternyata sosok tubuh yang mengganjal kakinya adalah mayat Toni bawahan pria nya, yang telah mati menjadi mayat dengan sepasang mata melotot ketakutan.


Toni mati dengan luka menganga di lehernya yang hampir putus.


"Aaaahhhhh...!"


jerit Monica ketakutan mundur menjauh ke belakang.


Monica menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangannya sepasang matanya yang indah terbelalak lebar ketakutan.


Monica setelah sadar dari kagetnya tadi, dia melewati mayat toni.dengan memutar menjauhinya dengan menempelkan tubuhnya ketembok perlahan-lahan melewati mayat Toni.


Hati Monica semakin cemas dia mempercepat langkahnya mengangkat senter HP nya di atas kepala sebagai penerangan.


Meski agak remang-remang tapi dia masih bisa melihat dengan cukup jelas, di sebuah tingkungan dia kembali menemukan sesosok tubuh yang terkapar bersimbah darah.


Monica mengenalinya itu adalah mayat bawahan laki-lakinya yang lain bernama Rudy.


Kondisinya hampir sama dengan kondisi mayat Toni tadi, Monica memalingkan wajahnya agar tidak melihat keadaan yang mengerikan itu.


Dia terus melanjutkan langkahnya menuju Ruangan Jeff Zhang kepala sipir penjara.


Saat melewati sebuah belokan Monica berdiri terbelalak mematung melihat pemandangan yang terpampang didepan matanya.


Monica melihat mayat Tina dan Lili yang tergeletak di lantai dengan kondisi menyedihkan.


Sepasang mata dan mulut mereka terbuka lebar menahan kesakitan dan ketakutan yang amat sangat.


Mereka meninggal dalam kondisi t*lanjang b*Lat dari bagian sensitif mereka yang paling rahasia terlihat mengalirkan darah.


Leher mereka ada sepotong tali yang menjeratnya.


Dari kondisi ini Monica yang merupakan seorang Dr tentu bisa menebaknya apa yang terjadi dengan kedua bawahan ini sebelum meninggal.


Monica menahan nafas tidak berani bersuara, dia kini bahkan berjalan dengan bertelanjang kaki agar tidak menimbulkan suara berisik.


Dia buru-buru meninggalkan tempat tersebut, tak jauh melangkah Monica kembali' menemukan mayat Mia dan Eni yang mati dengan cara sama seperti Tina dan Lili.

__ADS_1


__ADS_2