
Semua ini bermula saat hujan badai dan gempa berhenti, saat itu Afei yang sedang bermain catur dengan Peter Ho.
Tiba-tiba mendapatkan panggilan telpon dari Michiko, begitu melihat panggilan datangnya dari Michiko.
Afei buru buru memberi kode kearah Peter Ho, bahwa dia tidak main lagi, dan menyerah.
Tentu saja Peter Ho tidak setuju dan kecewa, karena permainan belum tuntas.
Tapi dia juga tidak berdaya, karena Afei sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian di sana.
Dengan kecewa Peter Ho membereskan semua biji catur merapikannya, lalu menyimpannya ke bawah meja,
Lalu dia pergi kedapur untuk bikin kopi, menghilangkan kantuk.
Sedangkan Afei yang sudah berada di dalam kamarnya sendiri, dengan pintu di kunci dari dalam.
Segera mengangkat telpon dari Michiko, sambil mencari posisi nyaman berbaring di kasur.
"Hallo Sory agak lama angkatnya, ada apa sayang .?"
tanya Afei begitu telpon dia angkat.
"Sayang barusan hujan badai dan gempa hebat, kamu gak papa kan sayang,? aku sangat takut dan mencemaskan mu.."
ucap Michiko khawatir.
Afei sambil tersenyum bahagia berkata,
"Tidak sayang, aku tidak apa-apa, kamu tenang saja, gak perlu khawatir aku baik-baik saja kok,.."
"Syukur lah kalau kamu baik-baik saja..aku sampai cemas tadi, mana semua listrik mati telpon gak bisa nyambung dan gangguan terus."
ucap Michiko sedikit mengeluh.
"Udah gakpapa sayang, kamu tenang saja aku tidak apa-apa, sebaliknya kamu sendiri gimana, sekarang ada di mana ?"
tanya Afei balik.
"Aku...aku.."
jawab Michiko ragu.
"Kamu kenapa sayang, kamu kok terlihat ragu ragu kamu ada di mana ? kamu baik-baik saja kan..?"
tanya Afei buru buru bangkit untuk duduk, karena hatinya jadi tidak tenang dan cemas.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya sangat merindukan mu, ingin bertemu dengan mu, atau minimal melakukan panggilan video call dengan mu."
ucap Michiko malu malu.
Kemudian dia melanjutkan penjelasannya,
"Tapi karena cuaca sialan itu, yang tidak tahu kenapa tiba-tiba berubah drastis, aku menjadi cemas dan khawatir, apalagi saat telpon dan listrik pun ikut terputus."
__ADS_1
"Karena tidak bisa menahan rasa cemas, aku pun berangkat dari untuk kemari mencari mu."
"Tapi sialnya, aku malah terjebak banjir di bawah bukit, mobil ku mogok, kini aku terpaksa numpang berteduh di supermarket di bawah bukit sini.."
ucap Michiko malu malu..
"Sayang aku sungguh memalukan,...dan tak berguna ya.."
ucap Michiko malu.
"Sayang kamu boleh tidak turun kesini menjemput dan mengantar ku pulang, maaf jadi merepotkan mu.."
Afei terdiam, dia sedang dalam tugas, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan tugasnya menjaga rumah, pergi mengantar Michiko pulang.
Tapi tidak pergi dia juga tidak sampai hati, bagaimana pun, Michiko kemari adalah karena dirinya.
Dia tidak mungkin lepas tangan begitu saja, pikir Afei serba salah.
"Baiklah sayang kamu tunggu sebentar, aku akan ke bawah sana menemui mu.."
ucap Afei kemudian mematikan HP nya, lalu buru buru meninggalkan kamarnya.
Pergi ke garasi mobil menggunakan mobil Jeep Hammer milik Lu San yang jarang dia pakai.
Tapi saat sedang dalam keadaan begini, mobil mobil tinggi dan dilengkapi mesin 4WD gini adalah paling cocok untuk Medan sulit dan banjir.seperti saat ini.
Afei berpikir bila cuma pergi sebentar menjemput Michiko kemari, rasanya tidak akan ada masalah.
Lagi pula di rumah tidak ada yang mengenali Michiko, selain Lu San, Lu San sendiri kini sedang stress di ruang rahasia di temani Cherry, rasanya tidak mungkin keluar dari sana dalam waktu dekat ini.
Sehingga Afei berpikir menyimpan Michiko semalam dikamar nya, tidak akan jadi masalah.
Besok pagi saat Supir Limousine nenek tiba, baru suruh supir nenek mengantar Michiko pulang.
Berpikir seperti itu, Afei segera mengendarai mobil nya menuruni bukit.
Tapi baru saja Afei pergi delapan bayangan hitam menerobos hujan rintik-rintik yang tidak bisa menyentuh tubuh mereka.
Berjalan santai melewati pagar otomatis yang baru saja mulai menutup kembali, setelah Afei pergi dengan mobilnya.
Keempat satpam berbadan besar yang menjadi satpam sekaligus body guard keluarga Lu, langsung bergegas keluar dari dalam pos keamanan dan berteriak,
"Hei tunggu,..! ini kawasan pribadi di larang masuk..!!"
Tapi baru saja mereka melangkah keluar dari pos keamanan untuk melakukan pencegahan.
Terdengar sebuah suara yang seperti turun dari langit, berkata,
"Kalian berempat pasti sudah lelah, hari sedang hujan pula, lebih baik kalian berempat tiarap dan tidurlah.."
Keempat satpam yang bertubuh besar, seperti mendengar suara dari langit, tanpa dapat dicegah mereka langsung menjatuhkan diri bertiarap kemudian tertidur di sana ."
Henshin tersenyum tipis kemudian dia melanjutkan langkahnya menyusul Kyoto Ryozo dan Ikeda.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju halaman depan rumah Lu Sun, mereka sempat di hadang dua lapis body guard bertubuh besar.
Tanpa sempat melakukan perlawanan berarti, dua lapis bodyguard yang terdiri dari 5 orang setiap lapisannya.
Semua langsung jatuh tiarap di lantai mengikuti arahan suara Henshin yang penuh daya magis.
Saat mereka tiba di halaman depan rumah Lu Sun, mereka pun langkahnya terhenti oleh hadangan Peter Ho Aliu dan Nenek.
"Peter Afei kemana ?"
tanya nenek setengah berbisik.
Karena sebelumnya dia masih sempat melihat Afei bermain catur bersama Peter.
"Tidak tahu nek.."
jawab Peter polos.
"Tadi aku lihat Afei terburu buru menggunakan mobil Lu San tidak tahu pergi kemana."
ucap Aliu membalas pertanyaan nenek.
"Peter kirim pesan suruh Afei pulang sekarang.."
bisik Nenek pelan..
Peter buru-buru mengeluarkan HP nya ingin kirim pesan ke Afei.
Tapi belum sempat pesan di ketik HP ditangannya telah meledak,.terkena Sambaran petir yang berasal dari telunjuk Kyoto.
Peter yang terkejut langsung melepaskan HP nya yang tersambar petir itu, HP nya terjatuh kelantai dalam posisi hangus terbakar.
Terdengar suara Kyoto berkata,
"Tak perlu ganggu acara anak muda bermesraan, mari kita selesaikan saja urusan kita.."
"Ikeda majulah beri mereka pelajaran..!"
ucap Kyoto sambil tersenyum mengejek.
Ikeda segera melangkah maju kedepan, Peter Ho juga melangkah maju dan berkata,
"Nek aku akan mencoba menghadapinya."
"Majulah,.. hati hati.."
ucap nenek pelan.
Baik Aliu maupun nenek, masing-masing sudah bersiaga dengan Ilmu andalan mereka masing-masing.
Siap untuk maju membantu Peter Ho bila Peter tidak sanggup menghadapi Ikeda.
Peter langsung menghimpun seluruh kekuatannya melepaskan jurus pertama Kang Lung You Hui.
__ADS_1
Angin berputar-putar di sekeliling tubuhnya, saat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka di dorong kedepan terdengar suara raungan naga yang menggetarkan, di Sertai bayangan dua ekor naga mas melesat kedepan bagaikan Sambaran petir.